logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Desember 2004 OLAHRAGA
Line

Proyeksi Tinju Pro Nasional 2005

Secercah Harapan di Balik Mendung Kelabu

MENDUNG kelabu menggelayuti panorama tinju pro Indonesia awal tahun ini, ketika petinju muda berpotensi besar Antonius Moses dari Sasana Akas Probolinggo kalah KO ronde ke-8 diterkam Kaichon Sor Vorapin (Thailand) pada 14 Januari. Fighter berusia 20 tahun ini akhirnya meninggal dunia setelah menjalani operasi otak dan mendapatkan perawatan beberapa hari di Rumah Sakit UKI Jakarta.

Kombinasi pukulan jab-straight tiga kali beruntun yang sangat keras dari Vorapin memaksa Moses terjungkal. Dia sempat tersadar saat mendapat hitungan dari wasit Nus Ririhena dari Jakarta. Tetapi pada hitungan ke-10, anak asuhan Muhamad Yunus ini langsung tak sadarkan diri. Segera dia dilarikan ke RS UKI pada pukul 01.30. Selang empat jam kemudian, Moses masuk kamar bedah untuk operasi otak. Tapi, nyawanya kemudian tak terselamatkan.

Kematian Moses membuat stres kubu Akas Probolinggo. Pelatih M Yunus bahkan sempat punya rencana untuk membubarkan sasana yang bertabur petinju potensial seperti Faisol Akbar, Anis Roga dan M Rachman itu. Namun promotor Harry ''Aseng'' Sugiarto -yang meninggal bulan lalu karena operasi lemak yang gagal di sebuah rumah sakit di Jakarta- mendorongnya untuk terus eksis.

Akhirnya Yunus mengurungkan niat. Dia malahan berhasil mengantar Rachman menjadi juara dunia kelas terbang mini IBF dengan mengalahkan Daniel Reyez dari Kolombia. Rachman bertarung cantik, mengejar dan terus memukul Reyez ke segala penjuru, sehingga dinyatakan menang angka.

Pada awal tahun 2005, Rachman sebenarnya dijadwalkan mempertahankan gelar melawan Fahlan Sakhrerin (Thailand). Namun meninggalnya Aseng Sugiarto yang banyak andil memajukan dunia tinju pro di Tanah Air, membuat semuanya menjadi suram lagi.

Chrisjon

Pengganti Aseng, Dondo Sugiarto (putra Harry Sugiarto) beruntung cepat dikader dan cukup berpotensi meneruskan karier ayahnya. Dia tengah melakukan negosiasi memperjuangkan Vicky Tahumil untuk dapat bertarung di perebutan gelar juara dunia WBA sementara (ad interim) kelas terbang. Talenta Vicky terbilang cukup menonjol dan diprediksikan mampu merebut gelar dunia WBA interim, asalkan title fight tersebut berlangsung di Indonesia dan ia mendapatkan lawan dari Asia.

Bintang ring Indonesia yang bersinar tahun ini adalah Chrisjon, juara dunia kelas bulu (57,1 kg) World Boxing Association (WBA) dari sasana Bank Buana Indonesia Semarang. Mestinya dia bisa melakukan tiga kali pertarungan tahun ini, jika ada sponsor yang kuat. Namun karena tersendatnya sponsor, ia hanya naik ring dua kali, yakni Juni dan Desember.

Betapa kurangnya penghargaan Indonesia terhadap atletnya sendiri terbukti ketika promotor Daniel Bahari sulit menggalang dana untuk mementaskan Chrisjon melawan Jose Cheo Rojaz awal tahun 2004. Karena tidak berhasil merekrut sponsor, Daniel menjual Chrisjon ke luar negeri. Dengan honor 100.000 dolar AS Chrisjon akhirnya mengadu nasib di Tokyo, Jepang menghadapi petinju tuan rumah Osamu Sato. Dia menang. (Paulus Noor Mulia-77)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA