| Selasa, 28 Desember 2004 | OLAHRAGA |
Tak Diterima Jadi PNS, Erni Kecewa BeratSEMARANG - Erni Ulatningsih, peraih medali emas SEA Games 2003 Vietnam dari cabang atletik, sungguh tidak pernah membayangkan jika suatu saat namanya bakal tak terdaftar di antara para calon pegawai negeri sipil (CPNS). Tapi setelah mencermati pengumuman CPNS, Senin (27/12) kemarin, dia hanya bisa mengelus dada. Seolah tiada guna segala perjuangan yang telah dilakukannya untuk bangsa dan negara selama ini. Padahal sejak awal Erni penuh harap. Apalagi selama hampir dua tahun ini dirinya sudah menjadi pegawai honorer daerah (honda) di Kantor Setda Salatiga. Lebih menyedihkan lagi, ketika akan berangkat ke PON XVI Palembang tiga bulan lalu, oleh pejabat setempat dijanjikan akan diangkat sebagai PNS. Bukan hanya Erni yang tidak masuk daftar. Dua rekannya, Darminah yang peraih medali emas dari lempar cakram PON XVI, dan Riana Dewi juga tidak nongol di daftar pengumuman. ''Bagaimana tidak kecewa? Sebelum berangkat ke PON kami sudah dijanjikan untuk diangkat jadi PNS. Katanya, pengangkatan akan diprioritaskan untuk atlet peraih emas dan perak PON Palembang,'' kata Erni, kemarin. Status pegawai negeri sipil (PNS) merupakan ''segalanya'' bagi sebagian besar atlet, termasuk Erni, karena bisa dijadikan pegangan hidup ketika sudah tidak berprestasi lagi. Apalagi usia Erni kini sudah menginjak 24 tahun. Gadis kelahiran Semarang 18 Juli 1980 ini amat berharap nasibnya bisa sebaik seniornya, Ruwiyati, yang kini sudah memiliki nomor induk pegawai (NIP) di Pemkot Salatiga berkat prestasi meraih medali emas di SEA Games Chiang May tahun 1995. Tentu saja kondisi itu membuat Erni nglokro, dan dikhawatirkan mempengaruhi motivasinya dalam persiapan menuju SEA Games Manila 2005 Nasional Namun, jika melihat aturan yang ada, kemungkinan Erni tidak diterima memang cukup besar. Soalnya, pesaingnya sangat banyak dan sistem penerimaan kali ini dikelola bersama oleh kota, provinsi dan pusat. Pembuatan soal dan pengumuman dilakukan secara nasional. Di samping itu, atlet yang berprestasi tidak diprioritaskan. Semua diperlakukan sama. Diterima atau tidaknya tergantung hasil tes peserta. Ketika Pemkot Salatiga menjanjikan status PNS, aturan tes CPNS dari pusat belum turun. ''Saya tidak menyalahkan Pemkot Salatiga. Semua tergantung pusat, daerah tidak punya kewenangan apa-apa,'' jelas pelatih Erni, Yon Daryono. Jika sudah seperti ini, Ketua KONI Jateng Murdoko SH kini punya peran penting. Dia harus bisa menjembatani, karena kalau hal itu tidak segera dilakukan akan memperburuk masa depan atlet. ''Ketua KONI Jateng punya peran penting. Paling tidak, dia harus membicarakan masalah ini dengan gubernur, mengusulkan atlet - atlet berprestasi ke pusat supaya bisa diterima menjadi PNS. Usulan itu bisa disampaikan lewat Menpora,'' tambahnya. Menurut Yon, Jateng harus lebih berhati - hati kalau tidak ingin gagal lagi mencapai target masuk tiga besar PON XVII Kaltim. Biasanya, tiap ada SEA Games, pesta olahraga se Asia Tenggara ini selalu dijadikan ajang transaksi jual beli atlet. Dan Jateng tentu tak ingin kehilangan atlet potensialnya. (C16-77) |