| Selasa, 28 Desember 2004 | OLAHRAGA |
Erwin Sugiarto''Ajian Pamungkas'' untuk KompetisiGELANDANG anyar Persijap Erwin Sugiarto nyaris tak pernah diperbincangkan fans ataupun ofisial menyangkut latar belakang pengalaman dan kebolehannya saat mengolah si kulit bundar. Kesan latihan seleksi yang bagi pemain muka baru bisa dianggap sebagai ajang pamer keterampilan, tak diperagakan pria kelahiran Jember 7 April 1976 itu. Tetap saja di lapangan ia berperangai bak batu karang di tengah lautan; tenang dan cool, meski tubuhnya yang jangkung tetap taktis bergerak dengan ataupun tanpa bola. Walaupun rekan-rekannya bergembira saat menikmati menu ''sportainment'' di perbukitan hutan Sananjaya Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, tetap saja sunggingan senyumnya bisa dihitung dengan jari tangan. ''Ya ''dan ''tidak'' adalah kata yang mendominasi setiap jawabannya saat ditanya di tengah kerumunan fans. Ketika turun minum atau meninggalkan lapangan usai latihan, jarang sekali eks pemain PSSB ini mendongakkan kepala, alih-alih tengok kanan kiri. Menunduk dengan tatapan mata tajam ke bawah mencitrakannya sebagai sosok ''misterius'' yang sulit ditebak. Benar, hingga kini publik sepak bola Jepara khususnya, masih ''mengambang'' untuk memprediksi karakter mainnya. Jika Sukarno, eks pemain tim Kostrad Jember yang datang bersamaan dengan Erwin, mudah orang mengatakan pemain itu adalah tipe pekerja keras yang enerjik, plus memiliki kelebihan dalam kedisiplinan dan kecepatan. Taktis Tidak demikian terhadap Erwin. Saat latihan game pria beranak dua ini hampir tidak pernah tidak menjatuhkan ''lawan''-nya. Jika berjibaku dalam merebut bola, ia lebih suka menggunakan cara-cara ''halal'' dengan tanpa menyakiti ataupun mengundang wasit meniup peluit. ''Saya masih menyesuaikan dengan rekan-rekan, ibarat 'ajian pamungkas', saya tak mungkin mengeluarkannya sekarang. Ini masih awal bagi saya untuk menjadi diri saya sendiri. Anda akan tahu nanti saat uji coba ataupun saat kompetisi bergulir. Saya siap memeras otak dan fisik saya ,'' katanya, sedikit membuka diri. Seolah ingin mengamankan amanat pelatihnya Rudy William Keltjes, ia tetaplah pemain yang memiliki banyak keterbatasan. Namun, otak dan fisik adalah harga mati baginya saat kick off. ''Saya sering cedera engkel saat masih memperkuat PSIS pada Liga Dunhill II, karena saya diminta Pak Edy Paryono (pelatih PSIS waktu itu) untuk bermain keras. Jika dikehendaki harus bermain taktis, saya juga akan nurut. Yang jelas, otak dan fisik tetap akan saling melengkapi,'' ujarnya. Keltjes sendiri ''alergi'' pada pemain yang hanya memforsir fisik atau hanya bermain otak saat bertanding. ''Otak dan fisik menjadi harga mati yang harus dimiliki pemain,'' katanya. Karena itu, Erwin akan berusaha bermain sesuai apa yang diinstruksikan pelatih. ''Jika oleh lawan diajak bermain keras, kami siap meladeni. Tentu taktik harus dikedepankan,'' katanya. Bersama Evaldo, ia siap ditaruh di lini belakang. Saat dipasang sebagai gelandang ia mengaku cocok dan padu dengan Kuncoro yang sama-sama defensif. Penggemar palang pintu AC Milan, Paolo Maldini ini siap menempati posisi gelandang bertahan ataupun stopper.(Muhammadun Sanomae-22) Biodata Nama : Erwin Sugiarto Panggilan : Erwin Tempat dan Tanggal Lahir : Jember, 7 April 1976 Tinggi/Berat badan : 180 cm/68 kg Istri : Heny Rita (25) Anak : Reyky Almeyda (4) Nabila (2) Karier bermain : Persiku (1994-1995) PSIS (1996-1998) Arseto (1999-2000) PSDS (2001-2003) Persid (awal 2004) PSSB (akhir 2004) (mds-22) |