| Selasa, 28 Desember 2004 | OLAHRAGA |
Persebaya Pertahankan 70% Pemain LamaSURABAYA-Kendati belum ada keputusan final, namun diperkirakan 70% pemain yang memperkuat dan mengantarkan Persebaya menjuarai Kompetisi Liga Indonesia (KLI) X akan dipertahankan. Manajemen tim tetap berambisi menambah pemain bintang untuk Liga Champions Asia dan KLI XI. Hal tersebut ditegaskan Manajer Saleh Ismail Mukadar kepada wartawan di Surabaya, Minggu lalu. ''Saya tak perlu menyebut siapa-siapa saja yang dipertahankan, yang pasti ada beberapa pemain terpaksa tak diperpanjang lagi,'' ujarnya. Dalam skuad musim lalu, ada cukup banyak pemain yang tak pernah diturunkan selama kompetisi berlangsung. Mereka terutama adalah kontributor saat berkutat di Divisi I hingga berhasil promosi ke Divisi Utama. Hanya Mat Halil, mantan pemain di Divisi Satu yang terus dipasang Pelatih Jacksen F Tiago pada KLI X. Saleh mengemukakan, sejauh ini belum diputuskan siapa-siapa saja pemainnya yang dipertahankan dan tak diperpanjang kontraknya. Hanya dia antara lain menyebut nama Uston Nawawi, Hendro Kartiko, dan Bejo Sugiantoro dipertahankan memperkuat tim kebanggaan warga Kota Surabaya pada KLI XI mendatang. Selain itu, Danilo Fernando (Brasil) dan Leonardo Gutierrez (Cile) adalah dua di antara pemain asing yang kemungkinan besar diperpanjang kontraknya. Kendati pada KLI X lalu tim ini bertabur bintang dengan nilai belanja pemain lebih dari Rp 3 miliar, menghadapi musim kompetisi mendatang dan Liga Champions Asia, manajemen tim melirik beberapa figur potensial untuk memperkuat timnya. Lini Depan Mereka yang dibutuhkan adalah pengisi lini tengah dan depan. Saleh menyebut Ponaryo Astaman (PSM) dan Boas T Salossa (Papua) masuk dalam daftar incaran. ''Kita harapkan keduanya sudi memperkuat kami pada kompetisi mendatang,'' katanya penuh harap. Saleh berharap timnya tak bernasib seperti PSIS Semarang dan Petrokimia Putra Gresik. Setelah tampil sebagai juara KLI, keduanya langsung anjlok ke Divisi Satu. Dia juga tak ingin meniru jejak Persik Kediri, yang tak mampu berbicara banyak pada KLI X setelah tampil sebagai jawara KLI IX. ''Makanya, iklim tim Persebaya pada kompetisi mendatang harus tetap kondusif. Pemahaman karakter antarpemain dan komunikasi yang telah berjalan baik selama ini mesti dipertahankan dan ditingkatkan di masa depan,'' tegasnya. Dia menjelaskan, bila hadiah sebagai juara berupa uang Rp 1 miliar dari PSSI cair, akan diserahkan semuanya kepada personel tim. Pengurus tak akan memotong satu sen pun. ''Ini jadi komitmen kami bahwa hadiah diberikan seluruhnya kepada pemain. Bahkan, pengurus memberikan bonus khusus tambahan, jumlahnya berapa, tidak saya hitung,'' ungkapnya sambil tersenyum. Tampilnya Persebaya sebagai juara KLI X tahun ini makin mengukuhkan dominasi Jatim dalam dunia perspakbolaan nasional. Selama 3 tahun berturut-turut, Piala Presiden berada di Jatim dan tak pernah singgah ke provinsi lainnya. Pada KLI VIII tahun 2002, Petrokimia Putra Gresik tampil sebagai juara setelah di babak final menundukkan Persita Tangerang di Stadion Gelora Bung Karno Jakarta. Lantas pada KLI IX yang mempergunakan sistem satu wilayah, Persik Kediri sebagai debutan baru di Divisi Utama tampil mengejutkan. (G14-22) |