| Selasa, 28 Desember 2004 | MURIA |
Bule Inggris Telusuri Kota Kretek (1)Mie Ayam dan Es Degan Jadi Pilihan UtamaAll my bags are packed I'm ready to go I'm standing here out side your door I'm ready I'm so lonesome I could die.... SENANDUNG lirih lagu "Livin' on the jet plane" terus mengalun sendu, saat gadis berparas ayu, Michele, berusaha mengusap butiran bening dari sudut matanya yang berwarna biru terang. Ungkapan perasaan tentang nelangsanya hati saat harus menjalani perpisahan, yang biasa dilantunkan Chantal Kreviazuk, terus saja terucap dari bibirnya, serta sesekali ditimpali dengan suara petikan gitar yang timbul tenggelam. Sebuah persembahan untuk Kota Kudus, yang telah tiga bulan ini menjadi bagian dari hidup, napas, dan pemikirannya. Michele adalah satu dari sembilan pemuda-pemudi dari negerinya Margaret Thatcer, Britania Raya, yang mengikuti program World Youth Exchange Programme. Program pertukaran pemuda Inggris-Indonesia itu, berupaya untuk mempererat hubungan kedua negara dengan mencoba melakukan akulturasi budaya melalui program home stay di kedua negara tersebut. Mereka yang biasa disapa dengan "Hei Mister" oleh pedagang-pedagang di pasar Bitingan Kudus saat kesembilan orang tersebut berkeliaran di tempat itu, sejak 28 September 2004 sampai dengan 10 Desember 2004 tinggal bersama induk semangnya masing-masing di kota Kretek. Bagi Michele, gadis cantik yang tinggal bersama keluarga Indrie, kesempatan untuk mengenal secara dekat Kota Kudus dalam tiga bulan lalu merupakan sebuah pengalaman yang menakjubkan. ''It's a wonderfull experience. The best that I ever had,'' katanya. Berbagai pengalaman yang dialaminya bersama dengan pendamping dari Indonesia, merupakan hal baru yang menarik untuk disimak setiap harinya. Hal-hal yang menarik tersebut, kata Michele, mulai dari berdesakan dengan para peziarah di Makam Sunan Kudus, berimpitan di bangku panjang angkot yang membuat penat pantat, hingga menjadi langganan setia sebuah warung mi ayam di sekitar Tugu Identitas, menjadi hal yang cukup ''luar biasa'' bagi mereka. Mengenai persoalan makanan, adalah hal pertama yang harus mereka selesaikan kali pertama. Kebiasaan mengonsumsi roti, ternyata tidak mudah digantikan dengan makanan seperti lentog atau soto kerbau yang menjadi kuliner khas Kudus. Anehnya, meski cukup sulit beradaptasi dengan makanan yang sebelumnya begitu asing di lidah mereka, ternyata mi ayam dan es degan menjadi makanan favorit mereka. ''Saya dan teman-teman suka mi ayam dan es degan. I don't know why, I just love it,'' tambah Daniel Warrender yang sempat dirawat di rumah sakit gara-gara makan bakso, yang mungkin tidak begitu akrab dengan perutnya. (Anton Wahyu Hartono- Bersambung-90a) |