| Selasa, 28 Desember 2004 | SEMARANG |
Bawang Merah Desa Pasir Belum DikembangkanDEMAK - Desa Pasir, Kecamatan Mijen, Demak memiliki potensi besar budidaya bawang merah dan lombok. Hanya saja, hingga sekarang belum dikembangkan secara maksimal. Menurut Kepala Desa Pasir Shohib Noor, dari seluruh luas areal desa 929 hektar, sekitar 879 hektar digunakan untuk lahan pertanian. Selain untuk padi, 50-60% lahan pertanian digunakan untuk menanam bawang merah dan lombok. "Kalau panenan sedang-sedang saja, satu hektar bisa menghasilkan sekitar enam ton bawang merah, sedangkan kalau panenannya bagus, produksinya bisa mencapai 9-10 ton." Sayangnya, potensi itu belum bisa dikembangkan maksimal karena ada beberapa kendala yang dihadapi. Misalnya, program pengerukan Kali Kenceng untuk menambah aliran irigasi ternyata belum terealisasi hingga sekarang. "Program itu sudah dimasukkan dalam anggaran 2004 tetapi belum direalisasi," tandasnya. Sementara itu, Ketua Taruna Tani Hati Mas Isnanto memaparkan untuk mengatasi kekurangan air, masyarakat mengambil inisiatif untuk membuat saluran Kanal Kidul. Dananya berasal dari swadaya masyarakat. "Kalau menunggu pemerintah, kami bisa-bisa nggak panen," ucap dia. Bulan ini banyak petani yang gagal panen karena kekurangan air. Sebab, curah hujan sedikit dan aliran irigasi kurang lancar. Tersumbatnya Kali Kenceng juga menyebabkan air meluber dan membanjiri lahan pertanian. "Dari 400 hektar lahan, hanya 5% yang memperoleh keuntungan, 10% impas, sedangkan sisanya gagal panen." Bagaimana harga jual bawang merah dan lombok tersebut? Untuk saat ini harga jualnya masih bagus. Bawang merah Rp 5.000/kg, sedangkan lombok Rp 6.000/kg. Namun, masuknya bawang impor dari Filipina merusak harga bawang merah lokal. Itu yang banyak dicemaskan oleh para petani. Kalau dihitung, harga jual minimal bawang merah dan lombok untuk bisa menutup biaya produksi, pestisida, serta biaya tenaga kerja adalah Rp 2.500/kg untuk bawang merah dan Rp 3.000/kg untuk lombok. Harga jual di bawah harga tersebut akan merugikan petani. Selain itu, para petani juga berharap harga pestisida dan pupuk bisa lebih diturunkan. "Semua jenis pupuk naik sekitar Rp 10.000/sak. Harga pupuk saat ini berkisar Rp 65.000-165.000. Kenaikan terjadi mulai bulan Oktober." (hrn-91m) |