logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Desember 2004 SEMARANG
Line

9 Sumur Minyak Peninggalan Belanda Mulai Dikelola

GROBOGAN- Setelah sekian lama menunggu, pengurus KUD Widorokandang, Bendoharjo, Kecamatan Gabus, Grobogan, bisa tersenyum. Mengapa? Rencana pengelolaan sumur tua peninggalan Belanda yang berisi minyak di desa setempat sudah dapat dikerjakan, seiring dikeluarkannya izin lingkungan dari Perum Perhutani KPH Randublatung, serta izin prinsip dari Dirjen Migas.

Bupati Grobogan H Agus Supriyanto SE baru-baru ini menimba minyak mentah sebagai tanda dimulainya pengelolaan sembilan sumur peninggalan Belanda itu. Kesembilan sumur tua yang akan dikelola itu adalah sumur nomor 37, 38, 39, 43, 10, 41, 44, 46, dan 20. "Perkiraan kami, setiap hari bisa diperoleh minyak mentah sekitar 100 barel," ujar Ketua KUD Widorokandang, Suhud.

Dia menuturkan, pihaknya hanya sebagai pengangkat dan pengangkut minyak mentah itu. Pengelolanya adalah pihak Pertamina di Cepu. "Untuk mengangkat minyak, kami akan menggunakan teknologi tepat guna." Rencananya, beberapa persen dari hasil pengangkatan dan pengangkutan minyak mentah tersebut akan dimasukkan ke kas daerah (Kasda), KUD, desa, tunjangan perangkat desa, Muspika, dan biaya operasional.

Berkah

Rencana pengelolaan sumur tua juga menjadi berkah beberapa warga yang biasa mengambil minyak mentah di lokasi. Sebut misalnya Suparmin (52), warga Bendoharjo, Kecamatan Gabus, Grobogan. Lelaki berputra tiga itu sejak 1971 dikenal sebagai pengambil minyak mentah yang keluar dari salah satu sumur peninggalan Belanda. Letaknya di lahan PT Perhutani, tak jauh dari tempat tinggalnya. "Sekarang saya ikut KUD, jadi tidak perlu memikirkan musim penghujan atau tidak, sebab sudah ada bayarannya," kata dia.

Sebelumnya, hampir dua bulan ini dia tidak lagi mengambil minyak mentah di salah satu sumur tersebut. Cuaca yang selalu mendung menjadi alasannya, karena minyak sulit diperoleh pada kondisi seperti itu.

"Bahkan bisa dibilang minyaknya tidak keluar sama sekali," ungkapnya. Dulu setiap musim kemarau, Mbah Min panggilan lelaki itu mengambil campuran minyak mentah dengan air itu memakai gayung yang terbuat dari batok kelapa. Sedikit demi sedikit cairan coklat pekat itu dikumpulkan ke dalam kotak sederhana yang terbuat dari kayu dan diisi dengan tanah liat.

Selanjutnya, campuran minyak mentah, air, dan tanah liat tersebut diaduk-aduk hingga keluar minyak mentahnya. Dengan cara sesederhana itu, setiap hari dirinya mampu mengumpulkan minyak mentah 75-80 liter.(H3-84s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA