| Selasa, 28 Desember 2004 | SEMARANG |
Ceramah dengan Gambar Lebih MenyentuhSAMBIL duduk santai di atas kursi Agus Sutrisno SPd, guru SD Anjasmoro 01, 02 Semarang dengan tekun menyimak kalimat-kalimat suci yang terlihat di layar lebar yang tersorot dari OHP. Tak jauh dari dia, seorang ibu mulai terisak. Barangkali, ucapan sang penceramah tentang jasa ibu yang disarikan dari salah satu ayat suci itu begitu mengena hati perempuan itu. Alunan musik Kitaro menambah suasana makin sejuk dan menyayat hati. Seperti bersahutan, isak tangis mulai terdengar di segala penjuru ruang, laki-laki dan perempuan, sama saja. Barangkali mereka menangis karena ingat jasa ibu yang merawat dari kandungan, melahirkan, mengganti popok di tengah malam, tempat mengadu kalau mendapat cobaan, dan banyak lagi. ''Tangiskan saja, kalau ingin menangis. Kalau ditahan nanti malah sakit,'' ujar sang penceramah di sela alunan musik selama pengajian. Pengajian atau istilah Lembaga Bimbingan dan Konsultasi Tasawuf (Lembkota) disebut dengan ''Pelatihan Seni Menata Hati'' semacam itu sudah berlangsung sejak tahun 2001. Maka, tak aneh, 2.000 orang lebih telah lulus mengikuti pelatihan semacam itu. Menurut Direktur Lembkota Prof Dr HM Amin Syukur MA, metode seperti itu digunakan agar lebih mudah menggugah hati manusia, menenteramkan hati yang gundah, dan melapangkan jalan menuju Tuhan. ''Biasanya pengajian dilakukan di masjid atau mushala. Orang yang tak biasa pergi ke tempat itu, mungkin jenuh atau sungkan. Nah, kalau di hotel rasa sungkan itu akan hilang,'' ujar dia di sela memberi ceramah Pelatihan Lembkota di Hotel Grasia, Sabtu (25/12). Menurut dia, banyak umat Islam yang hanya menjalankan ibadah semata sebagai ritus fisik tanpa penghayatan isi. Melalui seni menata hati, Lembkota mencoba metode lain dalam pengajian. Tak kaku dalam penyampian kalimat-kalimat suci dan dalil agama, tapi menyentuh hati melalui visualisasi gambar hidup. ''Jadi pesan mengalir tanpa kesan menggurui, dan menggugah hati tanpa merasa diperintah.'' Lalu apa yang ada dalam pengajian atau pelatihan seni menata hati itu? ''Kami mencoba mengenalkan jati diri manusia ketika Nabi Muhammad SAW menerima wahyu Allah SWT, dan merasakan penghambaan diri pada Tuhan,'' ucap guru besar IAIN Walisongo itu. Sebenarnya, masyarakat perkotaan yang mengikuti kegiatan spiritualisme semacam yang dilakukan Lembkota, telah berlangsung selama kurang lebih dua dasawarsa terakhir ini. 18 tahun lalu, di Jakarta ada Kelompok Kajian Agama yang digagas Paramadina. Banyak cendekiawan Islam yang aktif dan berkecimpung dalam kegiatan semacam itu. Ada Nurcholish Madjid, Jalaluddin Rakhmad, hingga sekarang berkembang seperti Aa Gym, Ary Ginanjar Agustian, Muhammad Arifin Ilham, dan tentu saja, Amin Syukur dari Semarang. Salah satu ciri pengajian semacam itu adalah jamaah tak hanya mendengarkan sang kiai berbicara sambil duduk lesehan di atas tikar masjid, surau, atau mushala. Tapi duduk di kursi hotel berbintang, kantor-kantor, dan perumahan mewah sambil melihat visualisasi layar lebar atau film. Sedang, buku-buku acuannya tak hanya menggunakan Al quran dan kitab kuning, tapi juga buku kajian keislaman hasil penelitian ilmiah. Jamaah pun biasanya membayar sejumlah uang tertentu. ''Sungguh, saya merasakan nuansa lain dengan mengikuti pengajian semacam ini. Hati ini terasa seperti disentil. Pokoknya, lebih kena,'' ujar Agus di sela mengikuti pelatihan. (Widodo Prasetyo- 84) |