logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Desember 2004 SEMARANG
Line

Si Kecil Itu Ingin Bebas Menelan

TUBUH mungil Choirul Huda (1,5) dalam gendongan menggeliat. Sesekali, jari-jari montok bocah itu menarik keras baju sang ibu. Sementara kakinya tak bisa diam, terus saja dipukulkan ke segala arah. Dari bola matanya, tampak bahwa dia marah. Barangkali lapar.

''Soale badhe operasi, dados boten pareng maem, kedah siyam (Soalnya akan operasi jadi tidak boleh makan, harus puasa-Red),'' tutur Dewi (22), ibunya.

Huda adalah salah satu penderita bibir sumbing yang dioperasi secara gratis, belum lama ini, di Rumah Sakit Permata Sari Semarang. Di dinding mulutnya, dua lengkung besar terbentuk tepat di bawah hidung. Karena daging gusinya berlubang, tiga giginya yang menjorok ke luar seolah menempel di bibir.

Pola mulut itu tentu saja membuat si kecil ini kesulitan mengunyah makanan. Tiap makan, bahan yang agak padat terpaksa langsung ditelan. ''Biasanya pakai dot atau makan yang lemas-lemas saja,'' kata Dewi yang siang itu ditemani suami, paman, dan ayahnya.

Sejak lahir, bibir sumbing Huda membuat kedua orang tuanya resah. Mereka khawatir, bocah itu minder saat dewasa. Itulah sebabnya pasangan muda itu, Dewi dan Agus (25), terus berikhtiar segala upaya agar sulungnya bisa memiliki bibir laiknya anak normal lain.

Pernah suatu kali mereka nekat berkonsultasi ke sebuah rumah sakit, meski tak punya duit.

Namun begitu tahu nilai tunai yang harus dibayar, keduanya mundur. Menurut Amir (34), paman Dewi, biaya operasi Rp 3,5 juta-Rp 4 juta. Nilai itu tentu saja dirasa berat bagi keluarga nelayan di Rembang tersebut. Itu sebabnya, ketika seorang anggota LSM menawarinya operasi gratis di RS Permata Sari, mereka langsung menerima.

Seperti Huda, 20-an bocah cilik lainnya pun terdengar merengek karena lapar. Para ibu muda yang kebanyakan berasal dari Demak dan Purwodadi itu sibuk mendiamkan si kecil. ''Ya, kami memang meminta anak-anak puasa sejak pukul tiga pagi supaya saat operasi tidak muntah,'' tutur Ny Suwarno, anggota Woman International Club (WIC) Semarang, penyelenggara acara itu.

Kelainan bibir sumbing memang mudah ditemukan di daerah pesisir pantai utara. Menurut beberapa referensi, penyebab utamanya kekurangan seng atau perkawinan dalam kerabat.

''Selama ini, pendaftar operasi kebanyakan dari kota pesisir, seperti Cilacap, Semarang, Purwodadi, Demak, dan Rembang,'' ungkap Ketua WIC Semarang Endang Karsono didampingi Humas Ny Sayid Subeno dan Ny Soetrisno Soeharto. Karena angka penderita yang cukup tinggi itu berasal dari kalangan miskin, jumlah pendaftar pun dibatasi. (Renjani Ps-89)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA