logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Desember 2004 SEMARANG
Line

Dari Pengumuman CPNS

Ada yang Bahagia, Ada yang Merana...

ACHMAD merasa tulangnya seperti terlolosi, saat namanya tercantum dalam daftar pengumuman Calon Pegawai Negeri Sipil (CPNS) dosen di Unnes, Senin (27/12). Tak pernah sekalipun dia membayangkan akan menjadi PNS. ''Melihat nama-nama pendaftar lainnya, sebetulnya saya agak grogi. Karena sudah telanjur mendaftar, ya, nothing to lose sajalah,'' kata dia, sehabis melihat hasil pengumuman di Gedung H Rektorat Unnes, Kampus Sekaran, Gunungpati.

Rona mukanya masih terlihat agak pasi. Rupanya, kekagetan belum juga sirna. Bahkan, dia merasa perutnya agak mual karena keterkejutannya itu.

Padahal, hingga Minggu (26/12), karyawan bidang teknologi informasi pada salah satu perusahaan swasta terkemuka di Jateng itu masih juga belum yakin. Yang terang ia mengaku sangat gelisah, menanti datangnya hari penentuan nasibnya. Semalaman ia tak bisa tidur.

Hingga azan subuh menggema dari masjid, pemuda asal Pemalang itu belum juga bisa memicingkan matanya. Pengorbanan Achmad tak sia-sia. Namanya tercantum dalam daftar peserta seleksi CPNS yang diterima. Karenanya, ia lantas syukuran dengan membeli tiga buah durian.

Lain lagi, Gatot. Pemuda itu terlihat gontai seusai melihat pengumuman CPNS di Gedung Rektorat Undip Tembalang. Bias kekecewaan masih nampak di wajahnya yang kusut. Kentara betul, warna kesal, sedih, dan kecewa di wajah tirusnya.

''Siapa sih yang tak ingin bekerja sebagai PNS? Beban kerja relatif pendek, kesejahteraan terjamin, dan masa depan cerah. Semua orang juga berfikir begitu,'' ujar dia, sembari berjalan meninggalkan papan pengumuman hasil seleksi ujian tulis CPNS yang ditempel di kaca pintu masuk Gedung Rektorat Undip.

Harap maklum jika Gatot kecewa. Papan pengumuman itu tak mencantumkan namanya di antara 85 orang yang diterima sebagai CPNS di lingkungan Undip. Untuk ke sekian kalinya, Gatot dibuat sakit hati oleh lembaran kertas pengumuman itu. Tapi seperti biasa, ia memajang tekad, untuk mengikuti lagi seleksi CPNS tahun depan.

''Tahun depan masih ada lagi. Kesempatan masih terbuka,'' katanya penuh harap.

Tekad serupa juga disampaikan Nurul Mas'udah, sarjana FISIP dari sebuah PTN di Jateng. Kendati telah lima kali mengikuti tes seleksi CPNS--dan semuanya gagal--tak surut jua semangatnya untuk menjadi seorang pegawai yang memiliki jaminan hari tua yang lebih baik. Sebagai perempuan, PNS merupakan mata pencaharian yang tak banyak tuntutan waktu kerja, jenjang karier yang jelas, dan -tentu saja- tak banyak mengeluarkan keringat.

''Meski telah gagal untuk beberapa kali. Setiap ada kesempatan saya akan tetap mengikuti tes seleksi hingga berumur 35 tahun. Batas maksimal untuk mendaftar CPNS,'' ujar dia.

Achmad, Gatot, atau Nurul cuma segelintir dari ribuan pencari kerja di Indonesia yang menggantungkan harapan sebagai PNS. PNS dimata sebagian besar orang Indonesia bukan lagi pegawai yang mengabdi untuk rakyat, tapi sebuah jalan untuk menjadi seorang priyayi. Dan priyayi bukan melayani, justru minta dilayani. Tak heran bukan banyak orang yang menginginkan. Kerja enak, gaji mapan, dan terpandang secara sosial.

Harapan boleh saja melambung, tapi pengumuman CPNS kemarin yang menentukan masa depan mereka. Ada yang mereaksinya dengan hati bungah, tapi jauh lebih banyak lagi yang pulang dengan hati kecewa. Seperti terlihat pada pengumuman di Undip, Unnes, maupun Kantor Kopertis di Jl Pawiyatan Luhur. Mereka datang melihat-lihat papan pengumuman. Setelah itu, ada yang pulang dengan gagah, dan lainnya dengan kepala terkulai.(Achiar M Permana, Widodo Prasetyo-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA