logo SUARA MERDEKA
Line
Selasa, 28 Desember 2004 SEMARANG
Line

Potret Semarang 2004 (2)

Dugder Itu Mirip Aslinya

DALAM ranah sosial, politik, budaya, dan agama, selama 2004 Kota Semarang juga tak luput dari kegiatan yang menonjol. Ditandai kembalinya tradisi Dugder di Masjid Kauman Semarang.

Dugder menjelang Ramadan pada 2004 pun lebih istimewa. Suasananya, seolah kembali pada abad ke-18, atau awal tradisi tersebut digelar.

Sebelumnya, selama 25 tahun terakhir atau sejak awal 1980-an, prosesi upacara Dugder hanya ditangani oleh Pemkot, dan digelar di Balai Kota Jalan Pemuda. Tahun ini, selain Pemkot, event tersebut juga ditangani oleh Jamaah Peduli Dugder Masjid Kauman.

''Selama Dugder digelar di halaman Balai Kota, telah mengurangi makna dan nilai-nilainya. Setelah dikembalikan ke serambi Masjid Kauman, acara itu benar-benar sebagai kegiatan rakyat menjelang Ramadan, seperti warna aslinya,'' kata Djawahir Muhammad, pimpinan Jamaah Peduli Dugder.

Di 2004 juga, warga Semarang akhirnya mendapatkan seorang ''ibu wali''.

Ya, itu karena Wali Kota Sukawi Sutarip yang telah menduda sejak 14 tahun silam, atau sebelum menjabat wali kota, menemukan pujaan hati terbaiknya. Yang beruntung dipersunting Sukawi adalah Sinto Adi Prasetyorini.

Janda tanpa anak itu resmi dinikahi Sukawi pada 21 Agustus 2004, dengan menggelar ijab kabul di Masjid Agung Jawa Tengah. Praktis, sejak itu Sukawi tak lagi sendiri.

Namun, beberapa kalangan ada yang menilai, perkawinan Sukawi itu juga untuk melengkapi ''syarat'' agar pencalonannya sebagai wali kota periode 2005-2010 makin lengkap. Sebab, ganjil rasanya bila ingin memimpin Semarang lagi tanpa didampingi seorang istri.

Pada penghujung 2004, mulai ramai bursa calon wali kota dan wakil wali kota yang maju dalam pilkada langsung Juni 2005, setelah jabatan Sukawi habis pada 19 Januari 2005.

Sampai sekarang, bursa pencalonan menjelang pilkada itu masih berproses. Sukawi termasuk salah satu yang sudah menyatakan keinginannya ambil bagian dalam pencalonan tersebut.

Siapa yang terpilih, tentunya diharapkan mampu membangun Semarang ke arah yang lebih baik. Tak ada lagi daerah seperti Podorejo atau Rowosari; atau proyek-proyek yang mangkrak di Ibu Kota Jateng ini.

Semua kalangan juga berharap, penyelenggaraan pemilihan wali kota Semarang pada Juni 2005 mendatang, suksesnya seperti penyelenggaraan pemilihan umum baru-baru ini.

Pilkada

Belum hilang dari ingatan, tahun ini warga Semarang juga sukses menggelar pemilihan umum. Tiga kali pemilihan umum, yakni pemilu legislatif (5 April), pemilihan presiden dan wapres putaran I (5 Juli), serta pemilihan presiden dan wapres putaran II (20 September).

Kesuksesan itu merupakan bagian dari kesuksesan penyelenggaraan pemilu di Indonesia. Dalam pemilu legislatif, PDI-P sebagai peraih suara dan kursi terbanyak. Namun dalam pemilihan presiden, pasangan calon dari PDI-P, Megawati Soekarnoputri dan Hasyim Muzadi, kalah dari jago Partai Demokrat yang mengusung pasangan Susilo Bambang Yudhono dan Jusuf Kalla.

''Partai apa pun dan siapa pun presiden yang menang, itu adalah kemenangan rakyat,'' komentar Sukawi.

Sementara itu, di dalam wilayah pelayanan publik, meski di beberapa kelurahan pelayanan publik masih tetap kurang memuaskan, toh akhirnya Kota Semarang mendapat beberapa penghargaan dari Pemerintah Provinsi dan Pemerintah Pusat atas kualitas pelayanan publik.

Ujung dari keberhasilan itu, Wali Kota Sukawi Sutarip menerima penghargaan sebagai kepala daerah tergiat dalam program Tahun Peningkatan Pelayanan Publik (TP3) dari Presiden RI Megawati Soekarnoputri pada September 2004.

Penghargaan yang diterima itu merupakan hasil perjuangan panjang dan serius. Pada 2 Januari 2004, Pemkot mencanangkan bulan pelayanan publik selama tiga bulan (sampai Maret 2004). Selama kurun waktu itu, dilakukan evaluasi dan pengingkatan standar pelayanan minimal (SPM) bagi seluruh unit kerja di lingkungan Pemkot yang melayani publik. Tiga bulan sukses menggelar pelayanan publik, dilanjutkan bulan pelayanan prima, mulai April sampai akhir 2004.

Potret 2004 juga merekam permasalahan lingkungan di Kota Semarang yang tak kunjung selesai. Misalnya, pro-kontra reklamasi Pantai Marina sampai sekarang masih belum diselesaikan, meski Pemkot telah mengeluarkan surat keputusan (SK) tentang larangan reklamasi di kawasan itu.

Masalah relokasi Kampung Pucung, Kelurahan Bambankerap, Ngaliyan, akibat pengeprasan lahan, serta banjir lumpur di Purwoyoso Ngaliyan, juga menyisakan ketidakpuasan sebagian masyarakat pada akhir tahun ini.(Jamal Al Ashari, Hasan Hamid, Setiawan HK-84a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA