| Selasa, 28 Desember 2004 | KEDU & DIY |
Natal dalam Balutan Budaya Jawa (1)Jagong Bayi Gusti Sang Timur di Lereng MerapiMASYARAKAT Jawa dikenal sebagai komunitas yang amat adaptif dengan kosa budaya lain yang bersentuhan dengannya. Mereka memiliki kepiawaian membumikan setiap apa pun yang masuk. Tak terkecuali agama. Aktivitas perayaan Natal di sejumlah tempat yang bernuansa Jawa memberikan gambaran nyata akan kemampuan adaptasi itu. Wartawan Suara Merdeka Rukardi dan Achiar M Permana yang meliput perayaan Natal di lereng Gunung Merapi dan perbukitan Menoreh, menuliskannya dalam dua seri, dimulai hari ini. ''Wus miyos Gusti Sang Timur/ payota prikanca sowan samya/ wus miyos Hyang Maha Luhur/ kang tuhu asih tresnanya... (Telah datang Gusti Sang Timur/ mari kita sambut bersama /telah datang Hyang Maha Luhur/ yang setia dengan cinta kasihnya)'' MARIA membaringkan bayi Yesus di atas amben. Tangan kanannya membelai dengan penuh kasih Risang Sumber Pengarep-arep, Sang Juru Selamat yang amat diharapkan kehadirannya itu. Yusuf yang duduk di sampingnya, memperhatikan sembari mengulum senyum. Alunan lagu ''Wus Miyos'', versi Jawa dari ''Telah Lahir Sang Penebus'' itu mengiringi kebahagiaan mereka yang hidup dalam suasana bersahaja. Jumat (24/12) malam lalu, fragmen kelahiran Gusti Sang Timur itu ditampilkan dalam perayaan ekaristi Natal di Gubug Selo Merapi Lorsenowo, salah satu stasi di bawah naungan Paroki Santa Maria Lourdes Sumber yang dipimpin Romo V Kirdjito Pr. Tapi tunggu dulu, Yusuf dan Maria tak berjubah dan berkerudung sebagaimana lazimnya; Dalam fragmen tersebut, mereka ditampilkan dengan balutan busana Jawa. Yusuf mengenakan celana komprang, baju pangsi, dan udheng-udheng (ikat kepala). Sementara Maria, serupa perempuan desa, berkain panjang dan kebaya. Ketidaklaziman lain, kelahiran Yesus tidak divisualisasikan di kandang domba, melainkan di atas amben di sebuah rumah Jawa yang sederhana. Peristiwa kelahiran Yesus itu diadaptasi dari tradisi endongan tilik bayi atau jagong bayi yang terdapat di desa mereka. Ya, setting Betlehem mereka ganti dengan suasana pedesaan Jawa. Lihat saja, pernak-pernik hiasan yang ditampilkan, seperti lampu petromaks, senthir, amben, gebyok, aruman(tempat ari-ari), song (payung), keris, serta caping yang digantung di dinding. Juga dupa, ratus, kemenyan, yang digunakan dalam upacara itu semuanya representasi simbol kejawaan. Tak mengherankan, jika adegan selanjutnya adalah kedatangan para tetangga ke rumah Yusuf dan Maria. Para ibu membawa pisungsung berupa aneka hasil bumi seperti sayur-mayur, palawija, dan buah-buahan. Sementara bapak-bapak menyodorkan amplop yang berisi uang sumbangan. Prosesi ekaristi itu benar-benar dikemas dalam budaya lokal. Hampir semua unsur pendukungnya bernuansa pedesaan Jawa, baik bahasa yang digunakan, musik pengiring maupun lagu puji-pujian. Kalaupun ada warna lain, itu cuma terlihat pada busana yang dikenakan Romo Supri yang menjadi konselebran (pemimpin misa), para prodiakon (pembantu pastor), dan misdinar (anak altar). Arak-arakan Sebelumnya, acara dimulai dengan pawai obor dan tetabuhan keliling desa. Ritual itu diikuti oleh ratusan umat dari desa-desa sekitar seperti Bundeng, Dadapsari, Grogol, Jombong, Kajangkoso, Krinjing, Ngampel, Semen, Sengi, dan Sewukan. Seusai arak-arakan, acara dilanjutkan dengan ritual tobat, dialog Natal, dan ritual jagong bayi di Gubuk Selo Merapi. Setelah jeda sejenak dengan menampilkan ekspresi kegembiraan anak-anak, dilanjutkan dengan acara puncak liturgi ekaristi yang dipimpin oleh Romo Suprihadi Pr. Esoknya, tepat 25 Desember, sebuah perayaan lain digelar oleh warga Desa Ngargomulyo, Dukun, Kabupaten Magelang. Layaknya pesta rakyat, perayaan Natal yang dibungkus dalam warna agraris di tempat itu diwujudkan dalam bentuk arak-arakan dan pentas kesenian tradisional. Karnaval dimulai dari sebuah gereja kecil di Dukuh Tangkil dan berakhir di halaman SD Prontakan, menempuh jarak sekitar tiga km. Sepanjang perjalanan umat menyanyikan lagu-lagu pujian berbahasa Jawa. (92m) |