| Selasa, 28 Desember 2004 | INTERNASIONAL |
Mengklaim Menang atas YanukovichYushchenko Janji Berantas KorupsiKIEV - Pemimpin oposisi Viktor Yushchenko yang pro-Barat meraih kemenangan mutlak, Senin kemarin, dalam pemilihan presiden ulang Ukraina. Dia berjanji memberantas korupsi dan penyimpangan di negara eks bagian Uni Soviet itu. Dia ingin membawa Ukraina, yang potensi ekonominya terbuang percuma selama bertahun-tahun akibat salah urus, bersekutu dengan Eropa tengah dan Eropa barat. Namun dia menepis kekhawatiran Rusia, negara tetangganya di utara, yang merasa bakal kehilangan pengaruh terhadap wilayah itu, yang selama 300 tahun berada di bawah kendalinya. ''Selama 14 tahun kita telah merdeka. Kini kita benar-benar bebas,'' kata Yushchenko kepada para pendukungnya yang berkumpul di Lapangan Kemerdekaan, Kiev. Di lapangan itulah pecah aksi protes massal selama lebih dari dua pekan terhadap kecurangan pemilu pertama, bulan lalu. ''Rakyat membuktikan kedaulatan mereka. Mereka menentang kemungkinan munculnya rezim yang paling kejam di Eropa Timur, tambahnya.'' Sulit Dikejar Ketika lebih dari 95 persen suara telah dihitung sampai Minggu malam lalu, para pejabat pemilu mengatakan Yushchenko telah meraih keunggulan yang secara statistik sulit dikejar. Sejauh ini dia memperoleh hampir 53 persen, sedangkan PM Viktor Yanukovich - saingannya yang didukung Moskwa - hanya mendapatkan 44 persen. Sampai saat ini belum ada laporan-laporan independen tentang kecurangan sebagaimana pemilu itu. Namun kubu Yanukovich mengklaim telah terjadi banyak ketidakberesan, yang muncul akibat perubahan aturan pemilu. Pemilihan ulang tersebut diselenggarakan ketika Mahkamah Agung (MA) mendukung tuduhan telah terjadi kecurangan pada pemilu sebelumnya, 21 November. Dalam pemilu itu, Yanukovich dinyatakan sebagai pemenang. Hasil pemilu Minggu lalu (26/12) itu memberikan kesan, Yushchenko telah memperoleh kemenangan cukup besar sehingga dapat melakukan investigasi besar-besaran terhadap apa yang dia sebut ''pemerintahan korup'' bertahun-tahun lalu. Namun sayang, kekuasaan presiden mendatang akan lebih lemah ketimbang Presiden Leonid Kuchma (yang demisioner sejak September lalu), setelah ada perubahan UU. Karena itu, penggalangan dukungan lintas partai di parlemen yang terpecah-belah akan menjadi faktor penting. Para pemantau dari Organisasi Keamanan dan Kerja Sama Eropa (OSCE) akan memberikan penilaian mereka tentang pemilu tersebut pada pukul 14.00 GMT (21.00 WIB semalam). Komentar-komentar awal dari para pemantau memberikan kesan, Ukraina bakal menjadi negara kedua eks Soviet, setelah Georgia, yang mengadakan pemilu secara bebas dan adil dalam 10 tahun terakhir. AS Anggap Adil ''Sejak awal, AS tidak mempunyai kandidat favorit dalam pemilihan ini,'' kata Jim Kolbe, wakil Partai Republik dari Negara Bagian Arizona di Kongres AS, yang membantu memantau pemilu Ukraina. ''Komitmen kami adalah pada proses tersebut. Yakni, pemilu tersebut berjalan bebas, adil, terbuka. Saya yakin, itulah yang akan kita dengar ketika laporan resmi hasil pemilu menyebutkan pemilu tersebut memenuhi standar. Taras Chornovil, manajer kampanye Yanukovich, mengatakan ada tiga juta suara tidak sah dan tidak mengesampingkan perubahan aturan yang dapat menunda pengumuman hasil final resmi selama berhari-hari. Para pendukung Yushchenko yang bergembira, dengan mengenakan ikat kepala oranye, merayakan kemenangan sepanjang Minggu malam di pusat kota Kiev. Namun jumlah mereka lebih kecil dibandingkan puncak aksi protes bulan lalu. Kuchma yang berkuasa selama 10 tahun membuat banyak rakyat Ukraina berkubang dalam kemiskinan. Hal itu menimbulkan kekecewaan yang dalam terhadap pemerintah, kata para pengamat. ''Kami telah lama menunggu hal ini terjadi. Sebab selama 10 tahun, kami telah mengalami banyak kesengsaraan di bawah rezim Kuchma dan kami tak tahan lagi,'' kata seorang warga Kiev. Namun kegembiraan tidak terlihat di daerah industri, di Ukraina timur (daerah basis pendukung Yanukovich yang sebagian besar penduduknya berbicara dalam bahasa Rusia). ''Yushchenko harus mempertimbangkan bahwa di beberapa wilayah, rakyat dengan sadar tidak ingin Ukraina dijadikan seperti keinginan Yushchenko,'' kata Oleksiy Holobutsky, pengamat politik independen. ''Dia harus bisa hidup bersama rakyat seperti itu. Yakni 40 persen penduduk yang mendukung Yanukovich. Ukraina adalah negara mereka juga.'' (rtr-ben-30) |