logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 SALA
Line

Ketika Kemenangan Berbuah Ketakutan

MEMENANGI suatu lomba, seharusnya menjadi hal yang bisa dibanggakan seorang anak pada ibunya. Namun hal itu tidak terjadi pada Th Eka Murti Sari (17) atau yang biasa dipanggil Muti. Gadis belia itu justru takut setelah dinyatakan sebagai pemenang Lomba Menulis Puisi dan Surat untuk Ibunda yang digelar Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi beberapa waktu lalu.

Apalagi ketika surat tulisannya harus dibacanya di hadapan publik serta ayah-ibunya, Muti waswas luar biasa.

"Ibu, setelah masuk SMA ini kurasa ada sesuatu yang berbeda di antara kita. Kita menjadi jarang berkomunikasi, mudah emosi, dan tak mau saling mengalah. Aku tahu ibu punya banyak urusan. Kata ibu, ibu punya banyak utang untuk menyekolahkan kami berdua. Namun bukan berarti ibu boleh menjadi pemarah seperti sekarang ini..." demikian bunyi bagian awal surat tersebut.

Benar saja, belum separo bagian surat dibaca, perempuan yang melahirkannya ke dunia itu tak bisa menahan isak tangis.

Apalagi ketika pada bagian tengah surat yang berbunyi, "Aku merasa sangat senang jika berangkat sekolah. Namun jika bel pulang berbunyi, aku merasa seperti akan pulang ke neraka". Ibunda Muti pun hanya mampu sesenggukan.

Sekolah Favorit

Muti pun pada awalnya takut mendekati ibunya karena surat yang sebenarnya sekadar unek-unek pada sang ibu itu memenangi lomba dan disusun menjadi sebuah buku.

Muti dan saudaranya Dewi, merupakan sepasang gadis kembar. Kedua gadis asal Jumapolo, Karanganyar itu berhasil diterima di SMA 1 Karanganyar yang terbilang favorit, lantaran nilai mereka bagus.

Namun kesulitan lain mengadang. Selain berbiaya tinggi, untuk ongkos transpor Jumapolo-Karanganyar Kota nominalnya terbilang tak sedikit.

Beban berat yang disandang sang ibu, kata Muti, membuat ibu melampiaskan perasaan pada anak-anaknya.

"Mungkin ibu banyak pikiran karena bebannya banyak. Apalagi kami akui, biaya sekolah kami tidak murah. Sejak itulah ibu sering marah-marah.," papar gadis yang mengaku belum punya pengalaman di bidang tulis-menulis tersebut.

Kedua remaja itu sadar betul, beban orang tuanya tidaklah ringan. Ayahnya yang bekerja sebagai sales onderdil tak setiap hari pulang dengan uang banyak di tangan.

Sementara kebutuhan sehari-hari tidak sedikit. Namun dengan bersikap menjauhi anak-anaknya, masalah yang dihadapi sang ibu tidaklah berkurang. Sebab mereka merasa permusuhan bukanlah sikap yang arif.

Mereka juga merasa kehilangan sosok ibu yang dulu sangat penyayang dan arif. Sebab, kini dia tak lagi punya waktu untuk ketiga putrinya.

"Saya tahu, ibu pasti sulit menerima isi surat ini. Namun dengan cara ini lebih mudah untuk saya ungkapkan, daripada jika saya ucapkan langsung yang pasti butuh waktu lama," ujar Dewi saudara kembarnya. (Evie Kusnindya-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA