| Kamis, 23 Desember 2004 | SALA |
"Saya Nggak Usah Orasi""KALAU berhenti lama, ya jelas terlambat masuk ke depo Rewulu, Yogyakarta. Tapi, ya mau bagaimana lagi," kata Suwarsono, kemarin. Sungguhpun demikian, sopir truk tangki bahan bakar minyak (BBM) bernomor polisi L-7527-KU yang dicegat puluhan pengunjuk rasa di pertigaan Jalan Ahmad Yani, dekat Kampus UMS kawasan Pabelan, Kartasura, itu mampu mengendalikan diri. Bahkan, dia melayani genggaman tangan beberapa peserta aksi yang mengucapkan terima kasih, setelah menggunakan truknya untuk berorasi. Meski sebagian kaca depan kemudinya tertutup para pendemo yang naik ke atas bumper dan berdiri sambil membentangkan poster, penduduk Yogyakarta itu tidak marah. Dengan sabar dia menunggui sejumlah orang yang menggelar aksi di atas truknya, dan dengan halus pula dia menolak tawaran untuk turut berorasi dari beberapa pendemo. "Nggak usah. Saya nggak usah berorasi. Kalian saja," tolaknya, sambil terus mengumbar senyum. Perjalanan truk yang diawakinya bersama Suparman (31) sebagai pembantu sopir, Rabu (22/12) siang kemarin terhambat unjuk rasa. Tak sampai berjam-jam, memang. Tetapi waktu puluhan menit yang semestinya bisa digunakan untuk segera mengisi lagi tankinya dengan BBM di Rewulu, menjadi tersita. Karena dicegat, maka truknya menjadi datang terlambat dari waktu yang semestinya. "Semestinya, paling lambat truk tanki ini masuk Rewulu untuk mengambil DO (delivery order) pukul 15.00," tuturnya. Dia mengungkapkan, truk beroda 10 buah yang dikemudikannya itu usai mengisi BBM di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) Pilangsari, Sragen. Karena dalam sehari harus berjalan melakukan pengiriman dua rit, maka setelah bawaannya dituang, truk segera balik arah, kembali ke Rewulu. "Nah, setelah mengirim di Sragen ini, nanti kami harus mengirim ke mana lagi, kami belum tahu DO-nya. Yah, saya kan hanya bertugas mengirim BBM," ujarnya.(D11-17a) |