| Kamis, 23 Desember 2004 | SALA |
Mahasiswa "Bajak" Truk Tangki
PABELAN - Puluhan mahasiswa yang menamakan diri Front Penyelamatan Rakyat Surakarta (FPRS) "membajak" sebuah truk tangki bernomor polisi L-7527-KU dalam demo menolak kenaikan bahan bakar minyak (BBM) di pertigaan dekat kampus UMS, kemarin. Sekitar 20 menit sejak pukul 11.40, armada itu "disandera" dan digunakan sebagai panggung unjuk rasa yang dikoordinasi Nizar Rahman. Kejadian berawal ketika truk yang dikemudikan Suwarsono (40) itu, dicegat para pendemo. Truk berhenti di sisi timur pertigaan tersebut, karena terhalang lampu merah. Sang sopir dipaksa membelokkan truk tangki berkapasitas 24.000 liter tersebut ke jalan yang mengarah ke kampus UMS, di kawasan Pabelan. Sejumlah polisi yang berjaga-jaga membiarkan kejadian itu. Mereka justru terfokus pada pengaturan arus lalu lintas yang tersendat-sendat akibat penumpukan orang. Sementara itu para pendemo segera menaiki bumper depan truk dan atas tanki untuk meneriakkan tuntutannya. "Pak sopir yang terhormat, kami bukan maling atau mau merampok. Kami hanya ingin menyuarakan aspirasi masyarakat yang menolak kenaikan BBM di truk ini," kata seorang pendemo lewat pengeras suara, disambut yel-yel rekan-rekannya. Sederet pernyataan disampaikan dalam orasi yang dilakukan bergantian. Pada intinya, mereka menolak kenaikan harga BBM, penghematan konsumsi BBM di kelas menengah ke atas yang tak berdampak memberatkan rakyat dan industri dalam negeri, menghentikan pembayaran utang luar negeri sampai rakyat sejahtera, serta menarik obligasi rekapitulasi perbankan. Selain itu, mereka meminta pembangunan infrastuktur distribusi energi alternatif, terutama penggunaan bahan bakar gas; pengurangan anggaran belanja rutin, terutama fasilitas, tunjangan dan gaji pejabat; serta pengurangann belanja barang bagi kebutuhan birokrasi yang tidak perlu. Teruskan Perjalanan Puas bergantian orasi, para pendemo menyilakan awak truk itu meneruskan perjalanan armadanya menuju Pertamina Rewulu, Yogyakarta. Aksi dilanjutkan dengan membakar ban bekas di lokasi yang sama. Dalam pernyataan sikap yang dibacakan di pengujung aksi, para pendemo yang mengklaim terdiri atas unsur beberapa BEM di UMS, IMM, KAMMI, PRD Solo, dan HMI itu menyeru kepada seluruh rakyat agar membentuk komite antikenaikan harga di seluruh kota di Indonesia sebagai alat melawan kenaikan BBM. Rakyat pun diminta untuk bersatu mengepung kantor-kantor pemerintah dan menduduki pompa-pompa bensin guna memaksa melayani BBM dengan harga lama. Sebelumnya, para mahasiswa itu mengawali demo sekitar pukul 09.00 dari depan Fakultas Ekonomi di kompleks kampus UMS kawasan Pabelan, Kartasura, Sukoharjo. Sejumlah poster dipampangkan; antara lain bertuliskan "Tolak kenaikan BBM", "Haruskah rakyat menyubsidi pejabat dan konglomerat dengan BBM naik?" dan "BBM naik rakyat tercekik, di musim paceklik presidennya pembohong publik". Happening art yang menggambarkan kesewenangan penguasa menindas rakyat dalam masalah BBM, juga disertakan. Mereka kemudian berkeliling dan berorasi di depan gedung fakultas-fakultas lain yang ada di UMS. Di depan gedung Fakultas Hukum, Dekan Sujata SH bahkan sempat memberikan orasi di depan pendemo. "Saya imbau pemerintah menunda kenaikn BBM sampai kondisi perekonomian masyarakat membaik," kata dia disambut aplaus peserta aksi. Seusai berputar-putar, sekitar pukul 11.30 para pendemo keluar dari kampus dan beraksi di mulut pertigaan Jalan Ahmad Yani, di kawasan Pabelan, Kartasura. (D11-17a) |