logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 PANTURA
Line

Hasil Penelitian Dinkes

12 Warga Terserang Penyakit Kaki Gajah

PEKALONGAN- Dinas Kesehatan Kota Pekalongan menemukan 12 warga Kelurahan Pasirsari positif terserang penyakit kaki gajah. Meski demikian, penyakit itu belum sampai terjadi komplikasi sehingga masih dapat disembuhkan secara total dengan pengobatan.

Kepala Dinas Kesehatan dokter Dwi Hery Wobowo MKes mengatakan, penelitian terhadap warga dilakukan setelah wilayah tetangganya, Kabupaten Pekalongan menemukan beberapa warganya terserang penyakit kaki gajah. ''Agar penyakit Itu tidak menjalar ke Kota Pekalongan maka dilakukan pemeriksaan warga secara massal,'' katanya, kemarin.

Dalam penelitian itu, Dinkes memeriksa 523 warga Pasirsari dan Pabean. Pemeriksaan dilakukan malam hari mulai pukul 20.00-23.00 dengan 68 petugas untuk mengambil darah warga sebagai sampel laboratorium.

Hasilnya, menurut dia, untuk warga Pabean tidak ada satu pun yang terserang penyakit menahun itu. Untuk warga Pasirsari terdapat 12 orang yang darahnya positif mengandung cacing microvilaria, yang menyebabkan terjadinya penyakit kaki gajah.

Mengingat microvilaria itu belum menyebabkan komplikasi, maka penyakit tersebut masih bisa diobati. Bahkan pasiennya akan dapat disembuhkan secara total dengan pengobatan dua minggu.

Menurut dia, pengobatannya dilakukan dengan cara memanggil penderita untuk memeriksakan diri ke puskesmas. Mereka juga diberikan pembinaan tentang cara pengobatan agar penyakit itu bisa tuntas dan tidak menjalar ke orang lain melalui penularan nyamuk anopheles.

Puskesmas

''Sampai kini, sebenarnya pengobatannya sudah selesai. Tetapi bagi yang masih ada keluhan setelah selesai pengobatan, bisa langsung menghubungi ke puskesmas. Namun sampai sekarang, belum ada keluhan dari warga,'' tegasnya.

Meski demikian, pihaknya masih akan mengecek lagi kepada warga yang telah diobati. ''Biasanya kalau sudah diobati bisa sembuh total. Namun kalau toh masih ada yang belum sembuh, akan diberikan pengobatan lagi,'' ungkapnya.

Bagaimana kalau ada pasien tidak mau minum obat sebagaimana diharapkan dari petugas puskesmas? Menurut Heri, sampai kemarin belum diketahui penderita yang tidak mau minum obat. ''Saya kira, warga juga akan takut dengan penyakit tersebut. Sebab jika microvilaria masih ada di dalam darahnya, sakitnya akan bertambah parah dan terjadi komplikasi yang mengakibatkan kaki membesar. Itu yang menyebabkan warga ketakutan,'' tuturnya.

Mengapa kelurahan lain tidak dilakukan pemeriksaan terhadap penyakit yang sama? Menurutnya, khusus wilayah yang berbatasan dengan kabupaten tetap akan dilakukan pemeriksaan. (A15-90s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA