logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 PANTURA
Line

10 Tahun Lagi Waduk Cacaban Tak Berfungsi

  • Hutan di Sekitar Mulai Gundul

SLAWI- Kondisi Waduk Cacaban yang selama ini menjadi salah objek wisata andalan di Kabupaten Tegal dikeluhkan pengunjung.

Hal itu terutama terkait dengan kurang adanya tanggapan pemerintah terhadap sarana dan pelestarian hutan di sekitar waduk.

Berdasarkan pengamatan, hutan di sekitar waduk mulai gundul. Tanaman besar tidak lagi rapat dan rimbun. Penataan wilayah pun kurang teratur dan berkesan kotor.

Selain itu, jalan menanjak yang biasa dilalui pengunjung kini rusak, sehingga pengguna jalan harus ekstraberhati-hati. Sebab, kalau tidak waspada bisa terperosok karena banyak lubang.

Salah seorang pengunjung, Prayitno (32) asal Kota Tegal mengatakan, bila Waduk Cacaban dibiarkan begitu saja tanpa penanganan serius, diperkirakan 10 tahun lagi waduk tersebut tidak akan berfungsi lagi sebagaimana mestinya.

Menurut dia, gundulnya hutan di sekitar waduk itu akibat penjarahan hutan selama ini. Sayang, penjarahan itu tidak diikuti dengan kesadaran menanami hutan kembali. Akibatnya, hutan di sana sedikit demi sedikit mulai gundul.

Hal serupa juga dikemukakan Rohadi (29), pengunjung lain. Menurut dia, hutan di tempat itu sebenarnya berfungsi sebagai wilayah tangkapan air. Namun, karena ulah orang-orang yang tak bertanggung jawab, kondisinya sangat memprihatinkan.

"Bila kondisi tersebut dibiarkan saja, hutan tidak akan berfungsi lagi. Akibatnya, dalam jangka panjang air di waduk akan habis, sehingga waduk tersebut tidak dapat digunakan lagi.''

Salah Satu Andalan

Kepala Kantor Pariwisata Kabupaten Tegal Agus Sunarto mengemukakan, waduk tersebut merupakan objek wisata andalan di Kabupaten Tegal, selain Wisata Guci dan Pantai Purwahamba Indah.

Dia mengakui, kondisi saat ini menurun, terutama dari segi kualitas lingkungan. Karena itu, agar objek wisata tersebut tetap eksis, kini sedang diupayakan penggalakan agrowisata. "Kami telah mengupayakan dengan menanami sebagian wilayah Cacaban dengan tanaman buah-buahan,'' katanya.

Dia menyebutkan, pada 2004 pihaknya telah menanam 3.600 batang pohon. Antara lain, 1.000 batang pohon mangga, 1.000 pohon jeruk, 700 pohon manggis, 400 pohon duku, dan 500 pohon rambutan.

Dia menjelaskan, sebenarnya fungsi utama waduk adalah untuk mengairi sawah-sawah di sekitarnya. Setidaknya ada tiga daerah yang menggantungkan pengairan sawahnya kepada waduk itu, yakni Kecamatan Kedung Banteng, Surodadi, dan Warureja. Karena itu, pelestarian hutan harus dilakukan. (wn-42e)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA