logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 PANTURA
Line

Seorang Ibu dengan Setangkai Bunga Anggrek

Setangkai anggrek bulan

Yang hampir gugur layu

Kini mekar kembali

Entah mengapa....

Penggalan sebuah lagu lama "Setangkai Anggrek Bulan" yang disenandungkan Almarhum Broery Pesulima dan Vien Is Haryanto terdengar lirih dari bibir seorang siswi SMA Ihsaniyah Kota Tegal. Husen, seorang siswa lain, lalu menimpali secara duet.

Bunga anggrek yang kusayang

Kini tersenyum dan berdendang

Bila engkau berduka

Matahari tak bersinar lagi...

HARI Ibu 22 Desember 2004 kemarin boleh saja diperingati di tempat-tempat terhormat. Namun lain lagi dengan ibu-ibu Tim Penggerak PKK Kelurahan Pekauman, Kecamatan Tegal Barat, Kota Tegal.

Mereka blusukan ke lingkungan SMA Ihsaniyah. Buat apa? Tidak lain untuk mengikuti pelatihan budi daya anggrek. Sebuah bentuk perwujudan peringatan Hari Ibu yang sederhana, namun bernilai lebih.

Semula, kata Kepala SMA Ihsaniyah Drs Yusqon MPd, dia tak yakin acara itu bakal dihadiri banyak peserta. Namun dari perkiraan 50 peserta, ternyata yang hadir lebih dari 65 orang.

Pakaian mereka beragam. Namun ada sejumlah ibu yang mengikuti pelatihan sambil momong anak. Memang, bunga melambangkan wanita. Karena itu, tak sia-sia SMA Ihsaniyah menularkan kepandaiannya bertanam anggrek kepada mereka. "Ini juga merupakan wujud darma bakti anak didik kami kepada ibu," ujar Yusqon.

Semangat peserta pun menjadi perhatian khusus dari Pengurus PKK Kota Tegal yang diwakili Ny Hadi Soetjipto dan Ny Mohamad Fanany. Keduanya berharap peserta bisa mendapatkan pengetahuan yang kelak bisa diterapkan dalam usaha budi daya anggrek.

Tepat pukul 09.00, peserta diberi penyuluhan oleh dua guru, yakni Ny Nurhidayati SPt (Sarjana Peternakan) dan Eka Ch SPd. Pertanyaan gencar pun ditujukan kepada kedua guru pembina itu.

"Kenapa sih tunas busuk? Penyeyab dan pencegahannya dengan apa?" tanya Ny Barkah Oemyoto. Dia juga menanyakan cara memotong tunas yang sudah berakar dan penyebab anggrek tidak berbunga kalau dipindah ke tempat terlindung. Ny Surati menanyakan tentang cara pembibitan anggrek.

Nurhidayati mengatakan, kalau hujan turun, pucuk tunas yang baru tumbuh memang tak kuat menampung air. Akibatnya, tunas menjadi busuk. Mendapat jawaban itu, Ny Barkah kelihatan puas. Namun yang pasti, pertanyaan yang diajukan itu mendapat penilaian terbaik sehingga Ny Barkah berhak membawa pulang sebuah penghargaan. Demikian pula Ny Surati. Tiga ibu lainnya juga mendapat door prize, yakni Ny Makso, Ny Sri Suharti, dan Ny Sudiyati.

Yang unik, dewan guru SMA itu malah memberi penghargaan khusus kepada peserta yang datang tepat waktu. Ny Wijayanti Rochman pun mendapat penghargaan berupa jam dinding. "Kedisiplinan kami hargai karena belakangan ini SMA kami sedang membangun kedisiplinan di kalangan guru dan murid," ujar Yusqon.

Dia menuturkan, Hari Ibu merupakan momentum pas untuk menyampaikan kampanye agar Kelurahan Pekauman bisa diusahakan menjadi pusat anggrek. Untuk itu, meski tak menarik biaya pelatihan, dia berharap isyarat itu bisa ditindaklanjuti pihak kelurahan, kecamatan, bahkan Ketua Tim Penggerak PKK Kota Ny Tatiek Adi Winarso.

Tepat pukul 12.00, pelatihan usai. Namun, mereka masih antusias menanyakan ini dan itu di luar kelas. Bahkan, beberapa siswa harus kewalahan melayani pembelian obat penyubur anggrek dan media bunga.

"SMA Ihsaniyah memang satu-satunya sekolah yang masih mempertahankan sistem interaksi dengan masyarakat lingkungan," ujar Drs Basuki, wakil dari Dinas P dan K. (Nuryanto Aji-42n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA