logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 PANTURA
Line

Sopir Mikrobus dan Angkudes Bersitegang

  • Pengaturan Trayek Masuk Slawi

SLAWI - Pembahasan soal pengaturan jalur lalu lintas dan trayek sejumlah angkutan masuk Kota Slawi yang difasilitasi Kantor Perhubungan, Bagian Hukum, dan Polres Tegal di ruang kerja Kepala Kantor Perhubungan kemarin berlangsung panas.

Bahkan, antara sopir angkudes jenis Colt station (Daihatsu dan Suzuki), Kijang (Toyota), dan mikrobus atau Elf (Isuzu) terkadang bersitegang untuk mempertahankan trayek yang diinginkan.

Meski suasana berlangsung panas dan diwarnai ketegangan, semuanya dapat terkendali. Kepala Kantor Perhubungan Drs Haron Bagas Prakosa MM dan Kabag Humum Pemkab Muji Atmanto SH berulang-ulang mengingatkan bahwa perbedaan pendapat adalah penting untuk mengetahui dan menyerap aspirasi.

"Ini diskusi, rembukan untuk menampung semua aspirasi. Semua punya kedudukan sama. Tidak ada yang lebih tinggi ataupun dipentingkan karena hasil rembukan akan dijadikan usulan untuk penerbitan SK Bupati soal trayek angkutan yang masuk Kota Slawi," tandas Bagas yang disambut aplaus belasan sopir angkutan umum tersebut.

Pertemuan untuk membahas trayek atau jalur angkutan umum di Kota Slawi itu dihadiri 17 utusan dari 10 paguyuban. Sementara itu, puluhan sopir dan kernet menunggu perundingan tersebut di luar ruangan. Tampak hadir Kaurbinops Satlantas Polres Tegal Iptu Dicky Irawan Kesuma.

Jalur Tuyul

Muhidin dari Paguyuban Slamet Jaya mengatakan, selama ini jalur angkudes masuk Kota Slawi, terutama setelah Slawi Pos - Jl Dokter Soetomo - Jl KH Wahid Hasyim hingga di depan Taman Bunga (Tambun), sering diusik "angkutan tuyul". Angkutan tersebut merupakan sebutan lain dari mikrobus atau Elf.

Wismo dari Paguyuban Angkudes 55 menambahkan, sejak "bus tuyul" masuk ke arah barat dari Slawi Pos ke Jl Dr Soetomo hingga Tambun, sering merugikan angkudes lain. Sebab, banyak penumpang, terutama pelajar dan pengunjung RSU Dr Soeselo, yang memilih angkutan tersebut.

"Bus tuyul daya tampungnya jelas lebih banyak dibanding dengan angkudes jenis Colt station ataupun Kijang. Penumpangnya banyak direok (diambil-Red) "bus tuyul" secara cepat. Kita kalah gesit," tutur dia.

Sejumlah paguyuban lain, terutama dari angkudes jenis Colt station dan Kijang, meminta agar "angkutan tuyul" tidak diperbolehkan masuk ke Jl Dr Soetomo hingga ke Tambun. Namun harus mengikuti jalur bus besar di jalur utama arah Tegal-Purwokerto. Jika desakan tersebut tidak dilaksanakan, jelas akan mengurangi penghasilan mereka.

Menanggapi desakan seperti itu, Fauzi dari Paguyuban Sopir Elf mengatakan, jalur yang ditempuh sekarang sudah sesuai dengan kesepakatan dan diperbolehkan Kantor Perhubungan Provinsi Jateng.

Kepala Kantor Perhubungan menegaskan, untuk sementara angkudes tidak perlu bersitegang soal trayek yang berdasar kesepakatan dan dikuatkan dengan SK Bupati Tegal tahun 2001.

"Bagi yang masih ada benturan, saya harap sampaikan keluhan ke kantor agar bisa jadi bahan pertimbangan penerbitan SK Bupati Tegal soal jalur dan trayek angkudes masuk Kota Slawi," tandas dia. Khusus angkutan Elf diharapkan bisa kembali ke jalur utama Tegal-Purwokerto. Jadi, tidak masuk ke Jl Dr Soetomo hingga Tambun.(D12-42n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA