logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 OLAHRAGA
Line

Tunggal Putri Diharapkan Berlatih Keras

JAKARTA - Menyusul kegagalan pemain tunggal putri di Indonesia Terbuka pekan lalu, Ketua Bidang pembinaan Prestasi dan Pelatnas PB PBSI, Icuk Sugiarto berharap tahun depan sektor tunggal putri berlatih jauh lebih keras.

"Saya tekankan kepada Hendrawan (pelatih tunggal putri) awal tahun depan harus lebih tega. Kalau mereka mau jadi pemain tidak ada tawar-menawar," ujar Icuk di Jakarta, kemarin, saat dimintai evaluasinya terhadap prestasi tunggal putri.

Icuk mengatakan, Pelatnas membutuhkan pemain-pemain yang siap menjadi juara dengan bersedia jatuh bangun dalam latihan. "Lebih baik menangis saat latihan daripada menangis saat bertanding," katanya.

Selain latihan keras, Pelatnas juga akan lebih ketat kepada atlet dalam menjalani latihan, antara lain dengan tidak membiarkan atlet datang terlambat saat latihan serta mewajibkan atlet berlatih di pelatnas dan dilarang berlatih sendiri di rumah.

Khusus bagi pemain tunggal putri terbaik saat ini, Silvi Antarini, Icuk berharap pemain itu segera menyelesaikan masalah nonteknis yang sedang dihadapinya. Untuk itu, ia meminta pemain yang kalah di babak kedua Indonesia Terbuka lalu itu datang menemui Icuk bersama orangtuanya untuk menyatakan masalah non-teknis yang dihadapi sudah selesai.

Kalau tidak, kata Icuk yang tidak bersedia menyebutkan masalah yang dihadapi Silvi, ia akan meminta atlet tersebut menemui psikolog untuk menyampaikan masalahnya. "Kalau tidak begitu percuma saja dia dibina, lebih baik tidak latihan dulu," tegasnya.

Saat ini, pelatnas tunggal putri hanya mempunyai empat atlet yakni Silvi Antarini, Maria Kristin, Adrianti Firdasari dan Fransisca Ratnasari. Dari keempatnya hanya Fransisca yang berhasil maju ke perempatfinal Indonesia Terbuka pekan lalu, sementara yang lainnya tersingkir di babak-babak awal.

Melihat kondisi tersebut, ia mengatakan dibutuhkan waktu setidakanya empat hingga lima tahun untuk membina atlet-atlet putri agar dapat "berbicara" di tingkat dunia. "Itu kalau materinya ada," katanya seraya menambahkan bahwa peminat bulutangkis khususnya putri sudah semakin berkurang.

Kurangya peminat tersebut, katanya, terkait dengan tidak jelasnya masa depan atlet sementara daya tarik dunia model, sinetron dan bidang-bidang sejenis dianggap jauh lebih menjanjikan.

"Sekarang banyak anak-anak yang mempunyai postur tubuh tinggi seperti yang kita butuhkan untuk menjadi atlet, lebih memilih menjadi model," katanya.

Buruknya prestasi tunggal putri serta tidak stabilnya penampilan ganda putri membuat PBSI memutuskan tidak menargetkan keduanya meraih angka di kejuaraan beregu Piala Sudirman yang digelar di Beijing, Mei tahun depan.

PBSI hanya berharap perolehan angka dari tiga sektor, tunggal putra, ganda putra dan ganda campuran yang diperkirakan dapat menorehkan prestasi yang membanggakan. (ant,D3-57)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA