logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 OLAHRAGA
Line

Sexy Dinho dalam Libido Barcelona

PESEPAKBOLA paling seksi sekarang bukanlah David Beckham atau Raul Gonzalez. Juga bukan Alessandro Nesta atau Paolo Maldini. Menurut saya, sex appeal sepak bola justru melekat pada diri Ronaldo de Assis Moreira atau yang lebih kita kenal sebagai Ronaldinho Gaucho, yang baru saja terpilih sebagai Pemain Terbaik Dunia 2004 versi FIFA.

Dalam raut fisik dia memang bukan bandingan Beckham, Raul, Nesta, atau Maldini yang telah menjadi ikon magnetik bagi lawan jenisnya. Namun Dinho adalah fenomena yang mampu menggairahkan histeria sepak bola. Khususnya bagi Barcelona, dia telah menjadi simbol sexy football yang diusung dalam performa total football oleh Frank Rijkaard.

Mengapa pula bukan Thierry Henry, atau Andriy ''Sheva'' Shevchenko yang telah terbukti memberikan prestasi bagi Arsenal dan AC Milan? Dan bukankah Sheva bahkan telah ditahbiskan sebagai Pemain Terbaik Eropa?

Pernyataan kapten El Barca, Carles Puyol tampaknya bisa kita jadikan pegangan. Dinho, katanya, adalah tipe pemain yang tidak hanya mampu menentukan hasil akhir pertandingan. Namun secara nyata, perannya sangat vital bagi tim, termasuk dari luar lapangan. Dengan karakter happy football, performa Ronaldinho selalu mampu memotivasi rekan-rekannya.

Puyol memujinya sebagai pemain paling lengkap: baik visi, skill, maupun antusiasme untuk membangkitkan ''libido'' tim yang diperkuatnya. Kapasitas tekniknya juga berada di level teratas dengan dribling khas, free kick spektakuler, overhead kick langka, dan umpan-umpan terukur.

Ketika Zinedine Zidane mulai menyurut karena rongrongan alamiah usia, Ronaldo melewati puncak penampilan, Luis Fabiano dan Carlos Tevez masih mencari bentuk sebagai seniman baru, Ronaldinho menjelma sebagai ''monster besar yang menyenangkan''. Dalam ungkapan pujian Pele, anak muda kelahiran Porto Alegre 21 Maret 1980 itu adalah ''seniman sejati sepak bola''.

Bahkan megabintang sekelas Maradona yang dikenal alergi memuji pemain Brasil pun, mengingkari kebiasaannya. Ronaldinho, menurutnya bermain dalam level lebih tinggi dibandingkan pemain mana pun saat ini.

* * *

YA, lebih dari pemain Brasil mana pun sekarang, Ronaldinho adalah seorang penari bola sejati, dengan fisik kuat, paha dan betis liat. Dalam banyak sesi latihan, rekan-rekannya yang bersenggolan pun mengakui betapa tangguh-tanggon tubuhnya. Ditambah kegairahan bermain, kompletlah Dinho memaknai sepak bola sebagai denyut kegembiraan.

Lihatlah, apakah Anda pernah menyaksikan mimik dominan di wajah Dinho dalam setiap pertandingan, kecuali ke-sumringah-an meliak-liuk bersama bola dan menekuk-nekuk lawan?

Jadi, itukah mengapa para pemilih begitu yakin untuk meninggalkan Henry dan Sheva, padahal dalam kesetaraan level yang sebenarnya tidak diragukan? Ada pilihan lain di luar umumnya sinar kebintangan seorang pemain. Ketidaklaziman itu adalah pemaknaan sepak bola sebagai permainan yang tidak harus dimainkan dengan dahi berkerut.

Pada usia 24, Dinho masih bisa berkembang menuju ke kematangan. Apalagi dia sadar, eksistensinya tidak hanya ditopang oleh bakat besar.

Di Brasil terdapat ratusan pemain dengan bakat hebat, sehingga untuk mengerucutkan diri ke pencapaian seperti Ronaldinho jelas membutuhkan kerja keras.

Dan, tema hidup seperti itulah yang sejak awal menjiwai profesionalitasnya.

Ketika dia sudah sedemikian identik dengan Barcelona, sebuah ide kepindahan memang berpotensi mendatangkan keguncangan. Chelsea sudah lama mengincarnya, seperti juga Manchester United yang pernah kepincut. Memang tidak ada jaminan dia akan selamanya berlabuh di Nou Camp ketika sulur-sulur kapitalisme sepak bola bisa menggoda siapa saja dan meruntuhkan makna sebuah dedikasi.

Namun, menggoda karakter seperti Ronaldinho membutuhkan syarat yang tidak ringan. Dia adalah ''pesepakbola gembira'', dan tipe ini tidak mudah diikat oleh atmosfer yang tidak menyenangkannya. Bukankah dia pernah mengakui, di Barca dia menemukan sosok ayah pada diri Rijkaard dengan pendekatan-pendekatan yang mampu mempertautkan hati mereka?

Barcelona sedang memantapkan diri dengan sexy football-nya. Tanpa Dinho, mereka tentu kehilangan nyawa. Kita akan menyaksikan bagaimana aset terpenting itu dipertahankan, dan bukankah Rijkaard tentu tidak bakal merelakan anaknya terbang ke London untuk mencari ayah yang lain, Jose Mourinho? (Amir Machmud NS-59)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA