| Kamis, 23 Desember 2004 | NASIONAL |
Kekerasan Seksual Luput dari Perhatian PublikYOGYAKARTA - Di depan pintu gerbang Gedung Agung Yogyakarta, kemarin siang terdengar ucapan dari sejumlah aktivis. Ternyata mereka sedang berdoa bersama yang diikuti oleh aktivis semua agama, baik Islam, Kristen, Katolik, Buddha, maupun Hindu. Ketika doa terucap, beberapa orang tampak tampak menundukkan kepala, bahkan menangis. Mereka membentuk lingkaran dan saling bergandeng. Ada yang memakai kalung salib, berjilbab, berbusana tradisional, dan lain-lainnya. Busana tidak memisahkan mereka untuk saling menyatukan diri dan mengucapkan doa bersama. Tujuannya tak lain demi persatuan dan kesatuan Ibu Pertiwi. Kegiatan yang digelar aktivis Anand Khrisna Center Yogyakarta dalam rangka Hari Ibu tersebut sangat menarik perhatian masyarakat. Sebab pada saat kondisi bangsa ini terkoyak akibat pertikaian yang berkedok agama, masih ada yang menjaga toleransi dan pluralisme. Selain berdoa, mereka pun membagi-bagikan bunga kepada masyarakat. Sejumlah aksi juga digelar secara bersamaan kemarin. Front Mahasiswa Nasional (FMN) menuntut peningkatan peran aktif perempuan di bidang ekonomi, sosial, politik, dan budaya. Mereka mendesak penyamaan hak antara laki-laki dan perempuan. Aktivis FMN mengawali aksi dari Perempatan Tugu. Mereka lalu berjalan kaki menuju Malioboro dan berorasi di Perempatan Kantor Besar Yogyakarta. Sama seperti aksi Anand Khrisna, mereka membagikan-bagikan bunga kepada pejalan kaki serta pengendara motor dan mobil. Kekerasan Koordinator aksi FMN, Ida Lavigne saat berorasi menunjuk beberapa kasus seperti kekerasan seksual yang selama ini luput dari perhatian publik. Pada 2002 terdapat 846 kasus kekerasan di lingkungan umum, 626 kasus perkosaan, 182 kasus anak perempuan di bawah umur menjadi korban kekerasan. Bahkan kasus kekerasan rumah tangga juga terus meningkat. Kondisi tersebut diperparah dengan angka kematian material yang mencapai sekitar 450/10.000 kelahiran hidup. Setiap tahun tak kurang 15.700 wanita hamil dan melahirkan meninggal dunia. Sementara itu, berdasarkan catatan ILO, Ida menjelaskan, jumlah pekerja seks di Indonesia mencapai 650.000, 30% di antaranya di bawah umur dan berasal dari keluarga miskin. Adapun buruh migran perempuan yang mencapai 71,39% dari 968.000 jiwa, juga kebanyakan mengalami kekerasan di lingkungan kerja. Sementara itu, Hizbut Tahrir Indonesia menyeru kepada pemerintah untuk menghentikan kebijakan yang mendorong terjadinya disfungsi peran ibu. Ratusan perempuan yang tergabung dalam Hizbut Tahrir menggelar unjuk rasa berkaitan dengan peringatan Hari Ibu di depan Gedung Sate Bandung. Hampir seribu kaum perempuan yang tergabung dalam Hizbuth Tahir Indonesia (HTI) Kota Malang juga menggelar demo di depan gedung Dewan Kota Malang. Tuntutan mereka, meminta pemerintah menghentikan kebijakan yang mendorong terjadinya disfungsi peran ibu. Dalam menyampaikan tuntutannya itu, para kaum perempuan tersebut sebagian besar memakai atribut Partai Keadilan Sejahtera (PKS).(D19,dwi, jo-83, 69i) |