| Kamis, 23 Desember 2004 | NASIONAL |
Helikopter TNI AL Jatuh di PapuaPAPUA- Helikopter jenis Bell dengan nomor registrasi HU-416 milik TNI AL kemarin pukul 11.25 WIT jatuh di Desa Degewo, Kampung Okobado, Kecamatan Siriwo, Papua. Pesawat yang dipiloti Kapten Penerbang Novi Hendri itu diduga jatuh akibat diterjang angin kencang dan menabrak tebing. Saat itu pesawat itu mengangkut bahan bantuan untuk korban gempa di Nabire. Rencananya Presiden Susilo Bambang Yudhoyono ke lokasi gempa pada 25 Desember mendatang. Sampai saat ini evakuasi belum dapat dilakukan karena yang terlihat hanya ekor heli. Kelima penumpang heli diduga tewas. Mereka adalah Kapten Pnb Novin Hendri, kopilot Letda Pnb Putu Eka DN, mekanik Sertu Vidiyono, dan dua orang penumpang sipil yang belum diketahui identitasnya. Menurut Pangdam XVII Trikora Mayjen TNI Nurdin Zainal, heli itu berasal dari KRI Tanjung Delpele dan dulu biasa digunakan Yudhoyono dalam kunjungan ke Flores, NTT. Hanyut Komando Armada RI Kawasan Timur (Koarmatim) belum memastikan apakah awak heli sudah meninggal atau tidak. "Hingga sekarang saya belum mendapat laporan lengkap soal kronologis dan korban helikopter tersebut," kata Kadispen Koarmatim Letkol Laut (P) Guntur Wahyudi di Surabaya. Dia menjelaskan, informasi soal jatuhnya helikopter baru diperoleh TNI AL dari laporan Serma Mardi, anggota Koramil di Papua yang melihat helikopter jenis Bell jatuh. "Soal berapa yang naik di helikopter itu juga belum jelas. Mungkin ada pilot Kapten Novi, kopilot Letda Putu, dan seorang mekanik. Penumpang lain saya juga belum tahu," kata perwira yang juga penerbang TNI AL itu. Reruntuhan helikopter Bell HU-416 milik TNI-AL yang jatuh Sungai Siriwo, Nabire, Papua, hanyut sejauh satu kilometer. Hingga semalam, kelima penumpang, termasuk tiga awak heli tersebut belum ditemukan. Siaran pers Dinas Penerangan Mabes TNI-AL menjelaskan, nasib awak heli yaitu pilot Kapten Laut Pnb Novin Hendri, kopilot Letda Laut Pnb Putu Eka DN, dan Sertu Vidiono belum diketahui. "Tim SAR menghadapi medan yang sulit untuk menemukan korban. Akibat arus sungai yang kuat, dalam 1 jam tubuh reruntuhan pesawat telah hanyut sekitar 1 km," kata Kepala Dispenal Kasubdispenum Mabes TNI-AL Kol Laut Sumantri. (ant-83i) |