logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 NASIONAL
Line

Bangunan Sekolah yang Mulai Goyah (2)

''Belajar bak Makan Nasi, Tak Boleh Henti''


KELAS DARURAT: Para siswa SD Ngaliyan 04 Semarang belajar di dalam kelas darurat. Bangunan sekolah mereka telah dirobohkan beberapa waktu lalu karena rusak parah.(55i) - SM/Rukardi

GAMBAR Ki Hajar Dewantara tergeletak di atas meja usang di ruang kelas IV SD Ngaliyan 04 Semarang, Rabu (22/12). Ia terlihat begitu merana, terlepas dari bingkai kayu berlapis kaca yang semestinya melindunginya. Permukaan poster itu bersemu putih oleh hamparan debu menebal. Di dekatnya teronggok barang-barang seperti tenda terpal, umbul-umbul, dan perlengkapan olahraga yang juga usang.

Nasib potret Bapak Pendidikan Nasional itu bisa jadi serupa dengan para siswa yang tengah belajar di ruangan yang sama.

Mengapa? Mereka terpaksa belajar dalam kelas darurat bantuan Gubernur Jateng dan Wali Kota Semarang. Kelas itu berbagi dengan ruang guru, ruang kepala sekolah, kantor, sekaligus ruang menerima tamu. Penyekatnya, cuma lima buah almari yang ditata berderet.

Pagi itu para siswa kelas IV belajar matematika. Guru kelas menyuruh mereka mengerjakan deretan soal yang terpapar di papan tulis. Untuk bisa menyelesaikan soal-soal aplikasi penambahan, pengurangan, perkalian, dan pembagian itu para siswa butuh berkonsentrasi. Namun hal itu tampaknya tak bisa mereka lakukan. Sebab suara berisik dari kelas sebelah begitu keras terdengar.

Kondisi yang sama juga dialami adik-adik mereka di kelas I yang juga belajar di kelas darurat. Yang lebih memprihatinkan, kelas tersebut dibuat dari papan dengan lantai plesteran. Itu sudah lumayan dibandingkan dulu saat mereka harus belajar di dalam kelas yang nyaris roboh.

''Dulu saat beberapa kelas dibongkar, anak-anak harus belajar di emperan. Alhamdulillah, setelah para guru berupaya mencari bantuan, mereka dapat belajar di kelas darurat ini. Walaupun saat hujan tempat itu masih tempias, yang penting anak-anak tetap bisa sekolah,'' kata Sri Pariani, salah seorang guru.

Kerusakan gedung sekolah di Kampung Pucung Kelurahan Bambankerep Kecamatan Ngaliyan itu akibat aktivitas pembangunan kawasan Industri Candi oleh PT Indo Perkasa Usahatama (PT IPU). Sejak buldoser menggerus bukit di sebelah utara kampung itu pada 2001, bangunan sekolah mulai retak-retak. Dan, semakin lama kerusakan itu semakin parah. Pada awal 2004 petaka itu terjadi, tanah di bawah SD Ngaliyan 04 bergerak dan amblas sedalam kurang lebih 4 meter. Akibatnya, gedung sekolah itu pun rusak parah. Meski belum roboh, gedung itu sangat membahayakan para siswa.

Proses Perbaikan

SD Ngaliyan 04 hanya satu di antara 313 gedung SD di Kota Semarang yang harus diperbaiki. Agar gedung sekolah lain tak bernasib sama dengam SD yang dipimpin Katiani, pemerintah perlu melakukan tindakan serius dan nyata.

Dinas Pendidikan pada awal Agustus 2004 lalu mengungkapkan, keterbatasan dana menyebabkan proses perbaikan gedung-gedung sekolah tersendat. Sebanyak 312 gedung SD masih digunakan untuk proses belajar mengajar karena kerusakannya hanya 20%. Jumlah total gedung sekolah yang butuh dioperbaiki, yaitu 670 SD dan 76 MI di berbagai penjuru Kota Semarang.

Untuk perbaikan 313 gedung SD itu, Pemkot menggunakan dana kontingensi. Renovasi dengan sumber dana itu pada 2002 menelan Rp 6.347.910.000, sedangkan pada 2003 Rp 7.516.700.000. Pada tahun 2004 biaya yang diperlukan Rp 3.480.500.000. Namun dana itu tapi tak hanya untuk gedung SD, tetapi juga untuk renovasi 8 gedung MI, 1 gedung Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), 1 TK, dan 16 gedung cabang Dinas Pendidikan.

Memasuki musim penghujan pada akhir 2004, beberapa gedung sekolah di Kota Semarang terancam banjir, tanah longsor, bahkan ambruk. Beberapa SD yang terancam banjir yaitu SD Taqwiyatul Waton, SDS Barunawati, SD Bandarharjo 02, SDN TM Delta Mas, SD Purwogondo 2A-B, SD Panggung Kidul 01,02, 03, dan SD Marsudirini. Semua SD itu berada di Semarang Utara. Adapun, SMP yang terancam ambruk, yaitu SMPN 35 Gunungpati.

Sebagai antisipasi, Kepala Dinas Pendidikan, Drs Sri Santoso menyarankan para kepala sekolah untuk mencari tempat-tempat yang layak untuk belajar mengajar, seperti masjid dan rumah penduduk yang bisa digunakan sebagai kelas darurat.

Dia menyatakan, hampir semua wilayah Kota Semarang merupakan daerah rawan banjir dan tanah longsor. Namun, antisipasi sejak dini perlu dilakukan untuk sekolah-sekolah di daerah Genuk, Muktihardjo, Semarang Utara, dan beberapa wilayah lain.

Ya, sekolah rusak merupakan kenyataan yang mengancam dunia pendidikan di Semarang. Namun, apa pun yang terjadi proses pembelajaran harus tetap berjalan. Para guru, siswa, dan sivitas sekolah lain tak boleh patah arang. Sebab, seperti kata Sri Pariani, guru SD Ngaliyan 04, belajar itu ibarat makan nasi, harus terus berjalan dan tak boleh berhenti.(Rukardi, Widodo Prasetyo, Achiar M Permana-78i)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA