| Kamis, 23 Desember 2004 | SEMARANG |
Penataran, Ya ProyekOleh: S Prasetyo UtomoSEORANG siswi, dengan wajah ceria dan penuh harap mendekati guru yang akan pergi penataran, ''Bapak akan pergi penataran lagi?'' Guru itu, dengan penuh kebanggaan, mengiyakan, dan mengisahkan pengalaman-pengalamannya selama mengikuti penataran. Siswi itu menukas riang, ''Kalau begitu asyik, Pak! Kami, murid-murid Bapak, merasa senang!'' Guru itu menyangka murid-muridnya menjadi senang karena ia memiliki pengalaman mengajar yang semakin matang, menarik, dan membangkitkan kreativitas. Akan tetapi, ternyata anak-anak menjadi senang bukan karena hal itu. Mereka senang karena setiap saat guru itu melakukan penataran, pelajaran menjadi kosong. Anekdot ini diangkat dari realitas keseharian seorang guru yang sering meninggalkan kelas untuk pergi penataran. Kita memperoleh gambaran, betapa proyek penataran tak selamanya membangkitkan jiwa inovatif guru untuk memperbarui cara mengajarnya. Tidak dengan sendirinya, semakin sering guru mengikuti penataran menjadi semakin menarik dan penuh daya empati cara mengajarnya bagi siswa. Biasanya, sepulang dari penataran, seorang guru akan kembali pada tradisi mengajarnya semula. Tradisi mengajar yang berurat berakar pada pribadi seorang guru, tak dengan sendirinya diperbarui dengan penataran. Apalagi sebuah penataran yang dikelola dengan visi sebagai sebuah ''proyek'' -yang sekadar menghabiskan dana. Penataran semacam ini sama sekali tak memahatkan jiwa kreatif pada diri guru. Proyek penataran dan pelatihan akan berhenti sebagai sebuah proyek, yang kelak, tiba waktunya akan ada lagi proyek baru. Pada saat guru pulang dari penataran, mungkin ia berhasrat memperbarui aktivitas pembelajarannya di ruang kelas. Akan tetapi, pembaharuan kegiatan belajar-mengajar yang diprakarsai guru itu, bila dilakukan hanya seorang diri, biasanya tak akan berlangsung lama. Rekan-rekan guru, dan juga siswa, akan memandangnya sebagai guru idealis yang aneh. Ia akan mudah mendapat ''musuh'' dari rekan-rekan yang tak sepaham dan sealiran dengannya. Para siswa yang terbiasa dengan suasana dan kegiatan belajar-mengajar secara konvensional, menghadapi pembaharuan seorang guru -yang baru pulang dari penataran- akan terasa aneh. Mereka menuntut kegiatan belajar-mengajar yang lazim, yang guru-guru lain juga melakukannya. Kebahagiaan siswa terhadap guru yang sering berangkat penataran bukan lagi karena sering terjadi kosong pelajaran, melainkan karena tercipta suasana baru yang penuh kegairahan dalam situasi kegiatan belajar-mengajar. Memang mungkin menyakitkan bagi seorang pelopor di tengah-tengah ''lumpur kebodohan'' kultur sekolah. Akan tetapi, bila guru itu menjadi ''teratai'' di tengah kubangan ''lumpur kebodohan'', sungguh indah dan mulia. (89) - Drs S Prasetyo Utomo, instruktur (penatar), tinggal di Semarang |