| Kamis, 23 Desember 2004 | SEMARANG |
Kasih Ibu Sepanjang Jalan...RIBUAN kilo jalan yang kau tempuh//Lewati rintangan untuk aku anakmu..// Penggalan lagu Iwan Fals itu menunjukkan betapa tinggi peran, tanggung jawab, dan bahkan kewajiban seorang ibu kepada anak, suami, dan keluarga. Rasa tanggung jawab terhadap pendidikan enam anaknya pula yang membawa Ny Sumarni (41) memilih profesi tukang parkir dan tambal ban di Kawasan Kota Lama Semarang. ''Gaji suami saya hanya Rp 300.000/bulan. Bagaimana bisa untuk menghidupi keluarga dengan 9 mulut yang harus diisi setiap hari dengan uang segitu? Belum lagi memikirkan ongkos sekolah,'' ujar dia, saat ditemui di Kawasan Kota Lama. Pernah suatu kali, cerita dia, tidak punya uang sama sekali untuk membayar uang sekolah anaknya. Tetangga yang akan dipinjami malah berujar ''Kalau saya berikan kamu, uangku tidak tambah. Tapi kalau untuk modal, suatu saat akan bertambah banyak.'' ''Mendengar jawaban seperti itu saya mbrebes mili (menangis --red). Mulai saat itu saya berusaha untuk mencari uang sendiri dan tidak akan pinjam tetangga meski terdesak,'' ucap dia. Bermula kejadian itu, awal 1985 lalu dia memilih profesi sebagai tukang parkir di depan sebuah bank, dekat rumahnya. Di sela mengatur kendaraan, ibu enam anak itu, masih bisa menyewakan kursi kepada para pensiun yang sedang mengambil gaji untuk menambah penghasilan. Langkah itu ditempuh dia, sebab, awal tahun 1985-an parkir Kawasan Kota Lama tidak begitu ramai. Kerja dari pukul 08.00-15.00 ternyata hanya bisa menutup uang setoran. Keinginan yang kuat agar anaknya tak merasakan penderitaan seberat itu membuatnya mencari penghasilan baru. Setelah meminta izin pemilik sebuah apotik yang masih di Kawasan Kota Lama, profesi tukang parkir dilanjutkan sore hingga malam hari. 19 tahun menjadi tukang parkir ternyata membuahkan hasil. Setidaknya, enam anaknya tidak terlantar di bidang pendidikan. Anak nomor satu kuliah di sebuah akademi, anak nomor dua dan tiga masih duduk di bangku SMA, nomor empat STM, satu di SMP dan yang bungsu TK. Pagi hari sebelum berangkat kerja, dia masih menyempatkan diri menjadi tukang tambal ban di salah satu sudut ruas jalan Letjend Soeprapto, Kota Lama. Tak hanya sepeda motor yang mampu di perbaiki, ban truk tronton pun tak luput dari tangan terampilnya. Presiden SBY dan Mega Sementara itu Hari Ibu ke-76, Rabu (22/12), bernilai penting bagi Ilham Binar Lazuardi (9) dan adik-adiknya. Sebab, pada peringatan Hari Ibu tahun ini, mereka tampil di hadapan Presiden Susilo Bambang Yudoyono dan first lady Kristiani Herawati. Ya, bersama tiga adiknya, Taufik Akbar Emeraldi (8), Safira Yulia Rizki (6), Kintan Aulia Astari (4) ia tampil berparade puisi. Siapa sangka, mereka berempat merupakan putra-putri berbakat dari Jateng. Ilham saat ini masih duduk di kelas VI SD Islam Harapan Bunda Semarang. Adik-adiknya juga bersekolah di tempat yang sama. Hanya Kintan yang masih berada di TK. ''Wah, saya sempat stres. Puisi yang dibaca harus berbeda dari kesempatan sebelumnya. Jadi harus membikin puisi yang baru dan melatihkannya pada anak-anak dalam waktu singkat,'' ujar Darosy Endah Hyoscyamina, sang ibu melalui telepon. Endah, dosen FISIP Undip, itu pantas didera ketegangan. Sebab, rangkaian penampilan di Jakarta tak cuma di Istana Negara. Minggu (19/22), mereka harus tampil di Silang Monas dalam rangkaian acara itu juga. Repotnya, panitia menghendaki puisi-puisi yang berbeda. Untunglah, putra-putri pasangan Eddy Abdullah-Darosy Endah itu ibarat kecil-kecil cabe rawit. Mereka sudah lumayan kenyang dengan pengalaman berpuisi. Mereka telah terbiasa dengan permintaan untuk tampil di hadapan publik. Saat di Fun Walk di Silang Monas, mereka tampil lengkap, bersama ibunya juga. Sungguh, sebuah penampilan yang memesona. Banyak undangan yang menangis mendengarkan pembacaan puisi mereka. Bahkan begitu mereka selesai tampil, SBY dan istri memberikan ciuman pada anak-anak berbakat itu. Sebelumnya, Ilham bersaudara baru tampil sebagai Duta Jawa Tengah dengan parade puisinya pada peringatan Hari Anak Nasional (HAN), 23 Juli lalu. Saat itu, ia tampil di hadapan Presiden Megawati Soekarnoputri di Dunia Fantasi. Siswa kelas VI SD Islam Terpadu Harapan Bunda Semarang itu membacakan puisi ''Jeritan Hati''. ''Ibu Mega sampai meneteskan air mata haru, saat mendengar puisi mereka,'' cerita Endah. Tak cuma itu, Ilham bersaudara juga sudah cukup kenyang pengalaman mengikuti lomba membaca puisi. Hampir dalam setiap lomba yang diikuti, mereka membawa pulang kemenangan. Ilham dan adik-adiknya dilatih sendiri oleh ibunya, yang kebetulan memiliki minat besar pada sastra. Sekali tempo, mereka juga berlatih bersama eyangnya. Puisi-puisi yang mereka bacakan juga bikinan ibunya sendiri. (Widodo Prasetyo, Achiar M Permana-84) |