| Kamis, 23 Desember 2004 | SEMARANG |
Setahun 4.420 Sakit akibat MakananSEMARANG-Secara nasional, jumlah kejadian luar biasa (KLB) akibat bahan makanan menunjukkan peningkatan. Pada 2003 tercatat ada 34 KLB dengan jumlah korban sakit sebanyak 1.828 orang. Setahun kemudian, jumlah penderita sakit akibat 44 KLB melonjak jadi 4.420 orang. Selain mengakibatkan jatuhnya korban sakit, hal itu juga menyebabkan kematian. Balai Besar Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) di Semarang mencatat penyebab terbesar KLB adalah makanan atau minuman rumah tangga. Kasus keracunan makanan pada saat pesta atau keracunan anak sekolah rata-rata disebabkan makanan yang diolah dalam skala rumah tangga. Kepala BPOM di Semarang, Dra Atiek Harwati SU Apt mengatakan, jumlah KLB pangan masih lebih sedikit dibanding populasi produk makanan yang ada. Meski demikian, pihaknya tidak menolak masih banyak industri kecil atau rumah tangga yang belum memenuhi syarat. Sejumlah pengusaha kecil, kata dia belum mendapatkan sertifikat cara produksi pangan yang baik khusus industri rumah tangga (CPPB-IRT). ''Sebagai contoh, selama tahun 2004, BPOM memeriksa 338 produsen makanan dan minuman skala industri rumah tangga. Dari seluruh sarana yang diperiksa itu, 317 di antaranya belum memiliki CPPB-IRT,'' ungkapnya dalam Sosialisasi Badan POM RI dan Penyerahan Sertifikat Piagam Bintang Satu IRTP di Bappeda Jateng, Selasa (21/12). Selain makanan olahan rumah tangga, KLB pangan juga disebabkan makanan jasa boga dan pangan jajan. Menurut Atiek, sejumlah makanan yang dijual di pasaran mengandung bahan berbahaya. Rhomadim B atau metil yellow yang dikenal sebagai pewarna tekstil, misalnya, ditengarai banyak digunakan pada permen, arumanis, dan kerupuk. Zat pewarna tekstil itu, kata dia tidak mudah luntur oleh panas. Sementara itu, kandungan formalin dan boraks dapat tercium dari aroma dan warna yang mengkilap. ''Kalau ada makanan yang digoreng namun berwarna kuning atau merah, dapat dipastikan makanan itu mengandung pewarna tekstil,'' katanya. (H5-64) |