logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 KEDU & DIY
Line

Mereka Tak Paham Hari Ibu

MAGELANG - Banyak wanita memperingati dan mungkin merayakan Hari Ibu. Pegawai wanita, wanita karier, dan aktivis LSM perempuan adalah orang-orang yang tidak pernah lupa hari istimewa yang diperingati setiap 22 Desember tersebut. Mereka selalu mengaitkan makna Hari Ibu dengan emansipasi, pemberdayaan, dan kemajuan perempuan.

Namun, bukan berarti mereka yang lupa atau bahkan tidak tahu tentang Hari Ibu dapat dikategorikan sebagai wanita tidak berdaya. Lihatlah, para wanita perkasa yang gigih mengais rezeki di Pasar Rejowinangun Kota Magelang.

Sri Yani (36), seorang pedagang buah, tidak lupa bahwa kemarin adalah Hari Ibu. Akan tetapi, kesibukan di pasar membuatnya tidak ikut serta memperingati hari para wanita itu.

''Saya ikut upacara peringatan Hari Ibu ketika masih sekolah,'' tuturnya.

Dia mengatakan, setelah lulus SMP dan belum menjadi seorang ibu, ia pernah aktif dalam kegiatan PKK. Bagi organisasi kewanitaan itu merayakan peringatan hari ibu merupakan salah satu acara rutin. Anehnya, setelah menjadi seorang ibu, Yani kehilangan waktu untuk acara seremonial tersebut.

Tidak berbeda dari penjual buah itu, Partiyah (31), mengaku tahu bahwa kemarin adalah Hari Ibu. Karena bekerja menjual tempe setiap hari, wanita beranak satu itu tidak lagi mempunyai waktu untuk menghadiri suatu acara peringatan, termasuk peringatan Hari Ibu.

Partiyah yang sudah berjualan di jalan Mataram selama enam tahun itu menuturkan, peringatan Hari Ibu pernah diikutinya semasa sekolah. Kini sebagai seorang istri yang harus membantu suami mencari nafkah, acara semacam itu tak penting lagi. Masalah yang sedang menggelisahkannya adalah naiknya beberapa jenis bahan bakar.

Figur

Manti (37), penjual makanan ringan dan Wati (25) penjual pakaian anak-anak juga mengungkapkan hal serupa. Mereka ingat bahwa kemarin adalah Hari Ibu. Namun, kebutuhan memaksa mereka berkutat di pasar pada hari istimewa itu.

Walaupun tidak mengikuti peringatan Hari Ibu, para pedagang tersebut bisa berpendapat ketika ditanya tentang figur ibu yang ideal.

Partiyah mengungkapkan, seorang ibu harus bisa mendidik anak-anaknya. Sebagai istri, ia harus menghormati dan menghargai suami.

Dari sekian ratus wanita pedagang di Pasar Rejowinangun, tidak semua tahu tentang Hari Ibu. Selain sebagian wanita tua, ada pula wanita muda yang buta tentang adanya Hari Ibu. Salah satunya adalah Siti (18). Gadis yang berjualan barang-barang kelontong itu dengan jujur mengatakan tidak tahu tentang hari ibu.

Seorang ibu penjual rambak dari Mertoyudan mengatakan hal yang sama. Ia belum pernah mendengar adanya peringatan pada tanggal 22 Desember. (Tri Widayat-92n)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA