logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 INTERNASIONAL
Line

Wartawan Prancis Dibebaskan di Irak

PARIS - Dua wartawan Prancis yang dibebaskan kelompok anti-Barat di Irak, Rabu kemarin, kembali ke Paris, tempat mereka disambut Presiden Jacques Chirac dan berkumpul bersama keluarga dan rekan mereka.

Mereka dibebaskan setelah mengalami perasaan tersiksa selama penculikan empat bulan lalu.

Menlu Prancis Michael Bernier, kemarin, meninggalkan Paris untuk menjemput Christian Chesnot, wartawan Radio France Internationale, dan Georges Malbrunot, wartawan surat kabar Le Figaro, kata kementerian pertahanan Prancis.

Kedua wartawan itu diyakini berada di Kedubes Prancis di Bagdad, namun karena alasan keamanan, mereka diperkirakan dipindahkan ke luar Kota Bagdad untuk dijemput oleh pesawat yang ditumpangi Barnier.

Para pejabat mengatakan pesawat Menlu Prancis itu menuju Siprus atau Amman, ibu kota Yordania, untuk menjemput kedua wartawan itu dan akan kembali ke Paris sekitar pukul 20.00 malam (02.00 WIB Kamis ini).

''Mimpi buruk telah berlalu, kami dapat melanjutkan kehidupan yang normal,'' kata ibu Malbrunot yang berusia 70 tahun, Adree, kepada kantor berita AFP di rumahnya di pusat kota Paris. ''Kami akan merayakan Hari Natal dengan bahagia,'' kata Adree.

Sandera Terlama

Penculikan mereka, pada 20 Agustus di selatan Bagdad, telah menimbulkan sikap ketidak-pahaman di Prancis, yang menentang invasi pimpinan AS di Irak.

Karena ditahan berbulan-bulan, Chesnot (37) dan Malbrunot (41) menjadi sandera Barat yang lama diculik di Irak. Beberapa sandera asing yang lain mati di tangan penculiknya.

Pernyataan kelompok penculik tersebut, Tentara Islam di Irak, menyebut sikap antiperang Prancis sebagai salah satu alasan kelompok itu akhirnya memutuskan membebaskan kedua wartawan tersebut.

Mereka dibebaskan karena mereka terbukti tidak melakukan mata-mata untuk kepentingan pasukan AS, sebagai tanggapan atas seruan dan tuntutan dari beberapa lembaga dan badan Islam, dan sekaligus pujian atas sikap pemerintah Paris terhadap masalah Irak dan sikap dua wartawan itu atas cita-cita Palestina, kata sebuah pernyataan, yang disiarkan televisi Al-Jazeera.

Belum diketahui sampai seberapa jauh para pejabat Prancis memainkan peranan mereka dalam pembebasan itu.

Paris berkali-kali mengatakan untuk mencapai tujuan tersebut, pihaknya menggunakan ''kebijakan'' namun tidak memberikan rincian tentang kemajuan setelah kegagalan misi tidak resmi oleh seorang anggota parlemen Prancis yang lancar berbahasa Arab, September lalu.

Dubes Irak di Prancis, Mowafak Abbud, mengakui ''usaha bersama'' antara pemerintahnya dan Paris "menghasilkan sumbangan berarti bagi pembebasan itu" dan mengharapkan peningkatan hubungan kedua negara.

Penyiksaan Tawanan

Sementara itu, tuduhan bahwa personel militer AS melakukan kekejaman terhadap tawanan Irak, kembali muncul.

Sebuah organisasi Amerika, American Civil Liberties Union (ACLU), mengeluarkan dokumen-dokumen yang menunjukkan terjadinya penyiksaan tersebut.

Dokumen-dokumen ini dikeluarkan dalam rangka tuntutan hukum yang diajukan organisasi itu terhadap pemerintah Amerika. ACLU berusaha membuktikan apakah pemerintah AS melakukan penganiayaan terhadap tawanan-tawanannya.

Sebagian peristiwa itu terjadi setelah skandal Abu Ghraib. Sebagian dokumen lain menyebutkan adanya penyiksaan serius di penjara militer AS di Teluk Guantanamo, Kuba.

Direktur eksekutif ACLU Anthony Romero mengatakan dokumen-dokumen itu menunjukkan bahwa para pejabat Amerika tidak bisa lagi menghindari sorotan publik dan menyalahkan prajurit.

Minggu lalu, dokumen-dokumen baru mengungkapkan terjadinya penganiayaan oleh marinir AS di Irak. Sampai sekarang 13 marinir sudah divonis bersalah, dan sebagian di antara mereka sudah masuk penjara.

Salah satu memorandum yang dikeluarkan Senin lalu berisi penjelasan seorang agen FBI yang melihat adanya penyiksaan fisik berat di Irak.

Kesaksian itu tertanggal 24 Juni, dua bulan setelah terungkapnya penganiayaan di penjara Abu Ghraib. Laporan itu diberi tanda ''segera'' dan dikirim kepada Direktur FBI, Robert Mueller.

Dalam laporan tersebut, sang agen mengatakan dia melihat tawanan yang dipukuli, dicekik, dan telinganya dimasuki rokok yang sedang menyala.(ant-bbc-46)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA