| Kamis, 23 Desember 2004 | INTERNASIONAL |
18 Warga AS Tewas dalam Ledakan di MosulBAGDAD - Militer AS, Rabu kemarin, memulai penyidikan terhadap penyebab ledakan hebat di sebuah tenda tentara di pangkalan Irak utara. Ledakan tersebut menewaskan 22 orang dan melukai 72 lainnya dalam salah satu serangan terhadap pasukan Amerika sejak awal perang di Irak. Laporan-laporan awal menyebutkan, sebuah roket 122 mm merobek atap tenda tersebut. Roket itu meledak ketika para serdadu hendak makan siang, Selasa lalu, di Pangkalan Operasi Garis Depan Marez di Mosul, sekitar 360 kilometer di utara Bagdad. Namun Laskar Ansar al-Sunnah, sebuah kelompok radikal Suni yang mengklaim bertanggung jawab atas serangan tersebut, mengatakan bahwa aksi itu merupakan ''operasi martir'' (istilah yang mengacu pada serangan bom jibaku) yang mengincar mess tentara. ''Kami masih menginvestigasi penyebab ledakan tersebut,'' kata Kapten Dorren Luke, juru bicara militer Amerika di Bagdad, kemarin. Korban tewas meliputi 18 warga Amerika (14 tentara dan empat warga sipil) dan empat lainnya warga Irak, kata komando militer AS di Bagdad, kemarin. Dari 72 korban yang luka-luka, 51 di antaranya adalah personel militer AS dan sisanya warga sipil Amerika, anggota pasukan Irak, dan warga asing lainnya. Mess Tentara Gerilyawan Irak melancarkan tiga serangan roket ke pangkalan militer AS di Mosul tersebut pada saat jam makan siang dan tepat menghantam mess ruang makan. Begitu meledak, terjadi bola api besar dari bangunan yang terhantam, kata para saksi mata. Brigjen Carter Ham, komandan Satuan Tugas Olympia yang bertanggung jawab di kawasan Mosul, mengatakan para korban tewas dan luka-luka itu tentara AS, kontraktor-kontraktor berkebangsaan AS dan bukan warga AS serta tentara Irak. ''Ini sungguh hari yang sangat, sangat menyedihkan,'' kata Brigjen Ham. Jeremy Redmon, wartawan yang diikutkan (embedded) dalam operasi militer menggambarkan suasana setelah ledakan terjadi bak pembantaian. Tentara-tentara yang sedang duduk menikmati makan siang mereka tiba-tiba dilumatkan oleh suatu ledakan besar. ''Kekuatan ledakan itu membuat tentara-tentara itu terlempar dari kursinya. Sebuah bola api besar menggelembung ke atas tenda, dan pecahan-pecahan menghujani mereka,'' kata wartawan surat kabar The Richmond-Times Dispatch. Keadaan dilaporkan menjadi kacau balau, tentara-tentara yang sedang makan lainnya dan tidak terkena ledakan cepat bertindak. Mereka membalikkan meja-meja makan dan menjadikannya tandu darurat untuk mengangkuti korban-korban yang bergelimpangan. Semula Pentagon dan para pemimpin militer AS di Irak tidak berterus terang tentang korban-korban di pihaknya. Mereka menyatakan terjadi ledakan di basis militer di Mosul, dan hanya dipastikan tentang adanya korban tentara AS yang jatuh. Serangan Jibaku Para pejabat Departemen Pertahanan AS mengatakan kepada media, serangan yang dilancarkan berasal dari hantaman roket atau mortir, namun kelompok gerilyawan yang mengaku bertanggung jawab menyatakan itu serangan bom jibaku. ''Salah seorang dari mujahidin Tentara Ansar al-Sunna telah melakukan operasi mencari-kesyahidan (bunuh diri) di sebuah restoran pasukan pendudukan kafir di kamp Ghazlani di Mosul pada Selasa pukul 24 waktu setempat (pukul 21 WIB),'' kata pernyataan itu, yang kebenarannya tidak dapat dipastikan secara independen. ''Dua ambulans udara terlihat memindahkan mayat dan orang yang luka-luka. Operasi heroik itu diambil gambarnya dan (video) itu akan dikeluarkan kemudian,'' kata pernyataan itu. Presiden George W Bush mengutuk serangan tersebut dan menyatakan berduka cita atas tewasnya korban-korban itu, walau dia tetap menyatakan yakin demokrasi akan bisa mengakar di negara yang kehancurannya dimulai oleh invasi AS-Inggris pada Maret 2003 itu. ''Kami berdoa untuk mereka, kami menyampaikan duka cita mendalam kepada orang-orang yang mereka cinta dan yang hari ini menderita karenanya,'' kata Bush. Mosul yang terletak 370 km di utara Bagdad semula menjadi kisah keberhasilan pasukan AS karena mampu dikendalikan. Namun belakangan ini serangan-serangan gerilyawan Irak justru semakin gencar dengan sasaran-sasarannya tentara AS dan tentara nasional Irak bentukan AS. Selama sebulan terakhir, sekurangnya ditemukan 80 jenazah petugas keamanan Irak di berbagai lokasi, baik di dalam kota ketiga terbesar di Irak itu maupun wilayah-wilayah sekelilingnya. Sejak 11 November lalu, satuan-satuan polisi Irak yang dibentuk AS sudah lari dari tugas mereka sehingga kini tidak ada lagi polisi-polisi Irak yang mengamankan kota itu.(rtr-ant-46) |