logo SUARA MERDEKA
Line
Kamis, 23 Desember 2004 EKONOMI
Line

Ahmadi, Produsen dari Tenggeles

Setiap Hari Buat Puluhan Lusin Suthil

DENTING logam saling beradu ditimpali dengung mesin gerinda yang berisik. Suara khas itu berasal dari bengkel kerja milik Ahmadi (26), seorang pengrajin suthil (alat bantu penggorengan) dari RT 2 RW 1 Desa Tenggeles Kecamatan Mejobo, Kudus.

Di bengkel kerja sederhana miliknya, lusinan perkakas dapur dari bahan besi bekas tersebut, mampu menghidupinya berikut lima orang yang bekerja kepadanya.

Dua orang pekerja bertugas memproduksi suthil tersebut dan tiga lainnya di bagian finishing-nya. Kelima pekerja tersebut dibayar dengan sistem borongan untuk setiap jenis produk yang dihasilkan.

"Setiap hari bisa 30 lusin suthil kami hasilkan, tapi kalau permintaan naik, produksi juga lebih dari itu," katanya.

Dilihat dari jenis bahannya, ada dua jenis suthil yang dihasilkannya, yakni dari stainless dan galvanis. Kedua bahan baku itu didapatnya dari seorang pemasok dari daerah Bareng. Sedangkan dari bentuk dan besar ukurannya, ada dua jenis suthil yang diproduksinya, yaitu besar dan kecil, baik yang dibuat dari bahan galvanis maupun stainless, ditambah dengan suthil berlubang (wawal).

Harga sebuah suthil kecil dari stainless mencapai Rp 1.200, dan untuk ukuran besar ia mematok harga Rp 2.500. Sedangkan untuk perkakas serupa dari bahan baku galvanis, ia menjual seharga Rp 750 untuk ukuran kecil dan Rp 1.300 untuk yang besar, per buahnya.

Adapun suthil yang pada ujungnya dibuat lubang, untuk menyaring minyak saat proses penggorengan, pengrajin yang masih bujangan tersebut memasang harga berkisar Rp 850.

Untuk bahan bakunya, baik galvanis dan stainless, dibelinya secara borongan dengan harga Rp 4.200 (galvanis) dan Rp 14.500 (stainless), masing-masing per kilogramnya. Kedua barang tersebut merupakan limbah PT Krakatau Stell yang biasanya berupa lembaran berukuran 30 x 30 cm dengan ketebalan sekitar 0,8 milimeter.

Setiap hari dia memproduksi sekitar 30 lusin wawal dari aneka bentuk dan bahan. Untuk itu ia membutuhkan sekitar 4 kuintal galvanis dan 30 kilogram stainless setiap bulannya. Selain itu juga membutuhkan sekitar 50 kodi batang kayu, untuk tangkai suthil dari bahan baku stainless. Harga jual suthil Rp 3 ribu untuk ukuran kecil dan Rp 5 ribu untuk ukuran besar.

Untuk jenis suthil kecil, kata dia, pekerjanya menerima Rp 2.200 per lusinnya, sedang untuk besar Rp 2.700 per lusinnya.

Modal Awal

Dengan modal awal sekitar Rp 2 juta, belum termasuk mesin penghalus bekas seharga Rp 250 dan mesin bor senilai Rp 350 ribu, usaha tersebut ditekuninya hingga kini.

Setiap bulannya, ia mengaku mendapat keuntungan bersih antara Rp 500 ribu dan Rp 600 ribu, sudah termasuk ongkos tukang dan pembelian bahan bakunya.

Selain itu, ia bisa menjual galvanis atau stainless bekas, limbah produksinya, kepada pengepul. Harganya, ujar dia, untuk galvanis mencapai Rp 1.100 dan stainless Rp 9.500 per kilogramnya.

"Ya, lumayan untuk tambah-tambah," kata lelaki yang juga mempunyai usaha di bidang persawahan.

Satu hal yang selalu diidamkannya, yakni adanya pihak yang dapat membantu memasarkan produknya.

Pasalnya selama ini ia menilai distribusi produk yang dihasilkannya belum optimal. Wilayah produksinya hanya di sekitar Kudus, Solo, dan Wonosobo.

Ketika ditanyakan harapannya ke depan, ia menyatakan menginginkan pasokan bahan baku langsung dari pihak PT Krakatau Stell, untuk menekan harga bahan baku. Selama ini, harga bahan baku tersebut sudah dinaikkan oleh beberapa pemasok, sebelum sampai di gudang produksinya itu. (Anton Wahyu Hartono-82)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA