| Kamis, 23 Desember 2004 | BANYUMAS |
26 Warga Pucungbedug Keracunan
BANJARNEGARA - Sudah jatuh tertimpa tangga. Itulah yang dialami Sahudin (52). Warga RT 5 RW 2 Desa Pucungbedug, Kecamatan Purwonegoro, itu semula mengadakan tahlilan untuk mengenang empat hari meninggalnya Sartini (17), salah seorang anak gadisnya. Namun keesokan harinya sebagian besar tamu undangan, termasuk tuan rumah dan beberapa keluarganya, dibawa ke Puskesmas Purwonegoro II, Desa Kalipelus. Sebab, mereka muntah-muntah, persendian kaku, dan menggigil kedinginan. Beberapa warga RT 5 dan 6 RW 2 itu keracunan setelah menyantap makanan dan minuman dalam tahlilan. Hingga kemarin 23 orang masih dirawat inap di puskesmas. Sebagian besar masih lemas. Sesekali keluarga yang menunggui harus mengantar pasien ke belakang. Sunawikarta (60), salah satu korban, menuturkan Senin (20/12) selepas isya diundang tahlilan di rumah Sahudin. Usai berdoa tuan rumah menghidangkan soto ketupat, kacang goreng, nagasari, dan minuman. Tengah malam sepulang acara itu dia merasakan mual dan kedinginan. Dia tak menghiraukan karena mengira masuk angin atau flu. Sebab, udara di Banjarnegara belakangan ini terasa dingin akibat diguyur hujan terus-menerus. Dibawa ke Puskesmas Selasa (21/12) pagi ketika bangun lelaki lanjut usia itu masih merasakan mual dan persendian kaku. Saat itu dia biasanya memanggil mantri atau membeli obat bebas di warung. ''Meski sudah diobati mantri, tetap mual, badan dingin, dan buang air besar. Siang hari bersama beberapa warga lain yang mengalami hal itu saya ke puskemmas,'' ujarnya. Warga Desa Pucungbedug yang dibawa ke Puskesmas Purwonegoro II semula 26 orang dan ke RSI seorang. Sampai kemarin, pasien yang dirawat di puskesma tinggal 23 orang, termasuk Sahudin dan seorang anaknya yang berusia 14 tahun. Kepala Bidang Pencegahan, Pemberantasan Penyakit, dan Penyehatan Lingkungan Dinas Kesehatan Anwar SKM, didampingi Kepala Seksi Pencegahan dan Pemberantasan Penyakit Kusneri, menyatakan belum bisa memastikan penyebab keracunan itu. ''Sampel makanan dan minuman yang disajikan masih diteliti di Laboratorium Kesehatan Provinsi. Sampel kami dikirim ke Semarang hari ini (kemarin-Red) lewat kurir,'' katanya. Melihat kondisi pasien, diperkirakan makanan dan minuman yang disajikan tercemari bakteri E-colli. Namun belum tentu bakteri itu muncul dari salah satu makanan yang disajikan. Karena, bisa saja akibat pengolahan, penyimpanan, atau penyajian. (A9-86) |