| Rabu, 22 Desember 2004 | NASIONAL |
Fatwa Dukung Din Gantikan AmienJAKARTA - Ketua DPP Partai Amanat Nasional (PAN) AM Fatwa tetap melirik Din Syamsuddin untuk bisa menggantikan posisi Amien Rais sebagai ketua umum pada Kongres II, 8-11 Februari 2005 di Semarang. Pasalnya, menurut Fatwa, Din Syamsudin merupakan jaminan bahwa PAN merupakan partai utama bagi Muhammadiyah dan Muhammadiyah sebagai basis utuh PAN. Dia mengaku tetap ingin mendahulukan orang muda. '' Din itu figur muda, tokoh berpengaruh di dalam struktur Muhammadiyah,'' ujarnya di Jakarta kemarin. Seperti diketahui, Din belum lama ini menyatakan tidak bersedia memimpin PAN. Dia akan lebih berkonsentrasi di Muhammadiyah dan Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat. Menanggapi hal itu, Fatwa tidak yakin dengan penolakan Din Syamsudin menjadi calon ketua umum disebabkan dia tak ingin lagi terjun di politik tetapi lebih memilih konsentrasi di Muhammadiyah. Fatwa meyakini, hal itu disebabkan karena Din merasa belum yakin adanya dukungan yang sungguh-sungguh, khususnya dari Ketua Umum PAN Amien Rais. Menurutnya, banyak nama-nama beredar dalam arus perebutan kursi Ketua Umum PAN, amat baik bagi dinamika internal partai; namun dia lebih mengutamakan kader-kader muda yang segar dan gesit. Selain Din, juga terdapat nama Fuad Bawazir, Didik Rahbini, dan Fatwa sendiri. Karena itu, dia hanya bersedia dicalonkan jika situasi atau panggilan keadaan sangat membutuhkan atau mendesak. Sisi lain, sejumlah kader muda Muhammadiyah kini tengah menggodok untuk mendirikan partai yang lahir dari Muhammadiyah. Sejumlah nama masuk dalam tim, sedang menggodok rencana tersebut, dan pada 10 Januari 2005 akan dideklarasikan. 15 Nama Sementara itu Mantan Ketua Umum PP Muhammadiyah, Amien Rais mengaku, sudah mengantongi sedikitnya 15 nama calon Ketua Umum PP Muhammadiyah. Namun nama-nama calon tersebut, masih dirahasiakan, kecuali Din Syamsuddin yang diakuinya salah satu sosok yang cocok sebagai calon. Kehadiran Din diharapkan mampu membawa angin segar bagi Muhammadiyah ke depan. Penyebutan nama Din itu, sebenarnya sudah beberapa kali dilakukan Amien Rais. Namun tetap saja dia menolak untuk menyebut nama seseorang karena dihawatirkan akan timbul persepsi bahwa yang disebut pertama itu, adalah jagonya. "Saya tetap akan mendukung siapa pun tokoh yang terpilih, yang bisa dan akan membawa Muhammadiyah ke depan lebih baik, ikhlas, dan bisa merangkul semua pihak," katanya di Malang, baru-baru ini. Namun dia menggarisbawahi, dalam pemilihan Ketua Umum PP Muhammadiyah di ajang muktamar, pada Juli mendatang di kampus Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), agar faktor usia harus diperhatikan. Hal itu dimaksudkan sebagai kaderisasi, apalagi di lingkungan Muhammadiyah banyak sekali kader-kader muda potensial, baik yang duduk sebagai rektor, ketua majelis, dan pengurus lainnya. "Apabila ini dikumpulkan niscaya Muhammadiyah akan hebat," katanya pula. Amien menyebut usia 50-60 tahun sebagai usia yang masih dinamis dan lincah, tapi kalau yang mendominasi usianya sudah di atas 60-an, roda organisasi akan lamban. Mantan Ketua MPR-RI ini mengakui, Din sudah beberapa kali bertemu dengannya, dan berbicara banyak dari hati ke hati. Bahkan dia sendiri mengatakan, akan tetap konsisten dan berkhidmat di Muhammadiyah, sehingga sekilas tergambar dia bisa membawa angin segar bagi organisasi ini ke depan. Din Syamsuddin sendiri belakangan ini memang nampak aktif di berbagai pertemuan, termasuk dalam babak final (Round Table discussion) yang diselenggarakan di kampus III UMM, baru-baru ini, menjelang Sidang Tanwir di Mataram NTB. Namun demikian, dia menolak bila dicalonkan sebagai Ketua Umum PAN, karena dia condong untuk memilih tetap pada gerakan kultural yang selama ini dilakukan. Termasuk gerakan kultural lintasagama dan lintasnegara bersama Majelis Ulama Indonesia (MUI), ormas, umat Islam sebagai bentuk pemberdayaan umat Islam. (di,jo-58,69a) |