logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 22 Desember 2004 NASIONAL
Line

Menata Pendidikan di Jateng (2-Habis)

Pendidikan Formal Tak Sepenuhnya Menjanjikan

RUMAH Ny Hadi Suparto terlihat penuh sesak. Maklum, rumah yang berada di Kepatihan Kulon, Jebres, Surakarta, itu merupakan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Setiap hari, beragam warga masyarakat yang berasal dari berbagai latar belakang ekonomi dan pendidikan berkumpul di tempat itu. Mereka belajar menjahit, membordir, mendesain mode, dan merangkai bunga. Selain itu, mereka juga berlatih membuat hantaran pengantin, tata rias pengantin, katering, dan sablon.

Di rumah itu pula, puluhan siswa dari luar kota mondhok. Tak aneh, jika ada orang yang menyebut tempat itu secara beda. Ada yang menyebut sekolahan, tempat kursus, pabrik, dan ada pula yang menyebut kos-kosan. ''Siswa yang belajar menjahit saja lebih dari 50 orang. Di antara mereka, ada yang belum pernah sama sekali mengenyam bangku sekolah, siswa sekolah yang drop-out, sarjana, dan bahkan tidak sedikit yang lulusan S2,'' ujar dia.

Keragaman latar belakang, menunjukkan beragam pula motivasi mendalami sejumlah keterampilan rumah tangga itu. Ada yang sekadar mengisi waktu menunggu anaknya sekolah TK, ada pula yang sangat menggantungkan masa depan dari ilmu yang diperolehnya.

Sejak suaminya meninggal pada 1978, ibu enam putra yang semula bekerja di Rumah Sakit (RS) itu berpikir mencari pekerjaan lain agar bisa menghidupi keluarganya. Berbekal keterampilan menjahit yang dikuasainya, dia keluar sebagai perawat RS, dan memilih membuka usaha jahitan.

Keterampilan rumah tangga yang dianggap sebagian orang remeh, ternyata kalau ditekuni membuahkan hasil yang lumayan. Buktinya, sebagian besar lulusan PKBM itu bisa mencukupi kebutuhan dapur dengan membuka usaha menjahit, merangkai bunga, katering, atau bordir.

Simak pengakuan Ning (27), sarjana akuntansi dari sebuah perguruan tinggi di Semarang. ''Sembari menunggu pengumuman ujian seleksi calon pegawai negerim sipil (CPNS), tak ada salahnya mengikuti kursus menjahit. Uang tak akan jatuh dari langit,'' ujar salah satu siswa kursus menjahit, menceritakan motivasinya.

Setelah lulus beberapa tahun lalu, sudah berpuluh lamaran dikirimnya ke berbagai instansi. Tapi, harapan tinggal harapan, surat panggilan tak kunjung diterima. Sembari menunggu pengumuman, dia belajar keterampilan di PKBM yang dikelola Ny Hadi Suparto. Bila tidak diterima CPNS tahun ini, Ning ingin membuka usaha jahitan sendiri.

Tak jauh beda dengan Ning, Suryono Arif Wijaya ST. Setelah lulus sebagai sarjana tehnik mesin, dia tidak mencari pekerjaan kantoran, tapi aktif di Pusat Informasi dan Jaringan Pemasaran (Pijarmas) Nur Arief, sebuah lembaga pemasaran yang menjual barang-barang produksi rakyat se-eks Karesidenan Surakarta.

Lembaga itu, dibimbing Dinas Pendidikan Kab Sukoharjo dan Dinas P dan K Jateng. Menempati sebuah kios di Jl Papagan, Sidomulyo, Makamhaji, Kartasura, Pijarmas Nur Arief merupakan tempat pemasaran hasil produksi dari PKBM, kelompok belajar usaha (KBU), dan kelompok belajar masyarakat.

''Di sini masyarakat bisa mendapatkan alat peraga edukatif, mainan kayu, batik tulis, konveksi pakaian, aneka makanan oleh-oleh, dan barang-barang kebutuhan rumah tangga, dengan harga yang lebih murah dibanding harga toko,'' papar dia.

Usaha Mandiri

Alasan itu pula yang mendasari Ihsatul (17) untuk sekolah di SMP Terbuka 2 Tengaran, Kabupaten Semarang. Dia ingin maju dan memiliki keterampilan setelah lulus nanti. Karena selain mendapatkan ilmu, seperti layaknya sekolah reguler, di SMP itu dia mendapatkan keterampilan menjahit, menyablon, serta membuat paving block dan batako. ''Kalau memang tidak ada biaya untuk melanjutkan sekolah, keterampilan yang saya dapatkan ini bisa untuk mencari pekerjaan, atau membuka usaha mandiri,'' katanya.

Wakil Kepala Sekolah SMP Terbuka 2 Tengaran, Waluyo Utomo mengungkapkan, penduduk sekitar memiliki penghasilan minim. Angka drop-out di tempat itu tergolong tinggi. Beruntung, ada SMP Terbuka yang menggabungkan pendidikan formal dan pendidikan keterampilan.

''Banyak lulusan SMP Terbuka yang langsung bekerja di industri garmen di sekitar Ungaran, dan tidak sedikit pula lulusan kami yang melanjutkan ke sekolah formal,'' jelasnya. Selain mendidik siswa SMP Terbuka yang jumlahnya 244 orang, SMP 2 Tengaran juga mengelola SMP reguler, SMK Kecil, dan SMP Terbuka di Pondok Pesantren.

Wakil Kepala Dinas P dan K Jateng, Drs Rodjikin MM melalui Kasi Pendidikan Luar Sekolah (PLS) Drs Sukirno mengungkapkan, kelompok belajar, kelompok belajar usaha, dan kursus pendidikan luar sekolah, serta Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat, merupakan upaya pemerintah untuk mengurangi pengangguran, buta huruf, dan angka putus sekolah.

Di Jateng terdapat 1.490 orang yang bergabung dalam kelompok belajar usaha, dan 11.120 orang ikut dalam Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat.

Di luar itu, masih ada 12.512 orang mengikuti kursus pendidikan luar sekolah lainnya. ''Sampai akhir 2004, sebanyak 3.621.341 penduduk Jateng masih buta huruf. Terbanyak menimpa kelompok masyarakat berusia 45 tahun ke atas, yakni sebesar 2.875.294 orang. Disusul kelompok usia 10-44 tahun, yang mencapai 746.047 orang,'' ungkapnya.(Widodo Prasetyo-69a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA