logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 22 Desember 2004 NASIONAL
Line

Yang Tersisa dari Munas Ke- 7 Partai Golkar (1)

Ajang Bermain Peran dan Pembagian ''Gizi''


BERPELUKAN:Akbar Tandjung berpelukan dengan Agung Laksono usai memberikan tanggapan atas pandangan umum DPD I dalam Munas ke-7 Partai Golkar di Nusa Dua Bali.(55) - SM/Fauzan Jayadi

Peserta Munas Ke-7 Partai Golkar telah angkat koper dari Nusa Dua, Bali. Arena pengambilan keputusan tertinggi di tubuh partai ''beringin'' tersebut, rampung digelar Minggu petang lalu. Jusuf Kalla (JK) memenangi adu perolehan suara melawan Akbar Tandjung. Di balik kemenangan Kalla, bagaimana pertarungan yang sejak awal mulai mengerucut ke dua kubu tersebut?

WAJAH lelah dan kantuk, tak bisa disembunyikan Akbar Tandjung seusai mengikuti serangkaian forum tertinggi Munas Partai Golkar. Menunggu waktu penghitungan suara selesai, berkali-kali dia menutup hidungnya dengan kedua telapak tangan. Mukanya lebih banyak menunduk.

''Saya seperti dikeroyok dari berbagai penjuru,'' katanya seusai pemilihan suara yang dimenangi rivalnya, Jusuf Kalla.

Kalimat Akbar itu lebih bernada keluhan. Politikus licin yang diibaratkan seperti welut kecemplung oli itu, harus tumbang dari tampuk kekuasaan Golkar yang dipimpinnya pada 1998-2004. Kubu JK menggempurnya habis-habisan.

Sejumlah kader Golkar memberikan dukungan penuh kepada Kalla. Sebelum pembukaan Munas, dia telah mengumumkan paket Kalla-Agung Laksono-Surya Paloh di Intercontinental Hotel, Jimbaran, Bali.

Tiga pilar kekuatan bisa dikatakan melambangkan kekuatan pemerintah, parlemen, dan pengusaha, itu ternyata masih belum cukup.

Di belakang Kalla, masih muncul sederet nama. Ada Sri Sultan Hamengkubuwono X, Prabowo Subiyakto, Aburizal Bakri, Fahmi Idris, Muladi, dan orang-orang yang pernah diberhentikan dari Golkar.

Persaingan pun mengerucut ke dua kandidat, yakni Akbar dan Kalla.

Saat itu, muncul prediksi Kalla akan menang secara aklamasi. ''Kalau situasinya seperti ini, yang terjadi adalah aklamasi,'' kata seorang anggota steering committee, Syamsul Bachri saat itu.

Ketika Munas mulai berlangsung, klaim Kalla memperoleh dukungan 28 DPD I mulai mendapat perlawanan.

Bila semula Kalla diprediksi unggul dibanding Akbar, Marwah Daud Ibrahim, Slamet Effendi Yusuf, dan Wiranto, peta kekuatan mulai berubah. Angin kemenangan berbalik berembus ke kubu Akbar, saat kran DPD II dibuka lebar-lebar. DPD II untuk kali pertama berhak memberikan suara dalam Munas Partain Golkar, untuk ikut menentukan ketua umum.

Cepat Berbalik

Saat pembahasan tata tertib (tatib), pengesahannya dilakukan tak lebih dari 30 menit. Polemik apakah DPD II punya hak suara atau tidak, justru diputuskan dalam jangka waktu hanya setengah menit.

Konstelasi politik pun berubah cepat. Jika Akbar tak segera membuka kran bagi DPD II ke dalam tatib, dia dimungkinkan sudah ''habis'' pada ronde-ronde awal. Kalla yang mengklaim telah didukung 28 DPD I, akan menguncinya di awal pertarungan.

Semula, mereka yang memiliki hak suara hanya 36. Dengan perubahan tatib itu, yang berhak memilih ada 484 suara, terdiri atas 440 suara DPD II, dua suara organisasi pendiri dan yang didirikan, dua suara organisasi sayap, satu suara DPP, dan 33 suara DPD I.

Akan tetapi, pertarungan masih berjalan. Arena konvensi diwarnai dengan adu tipu muslihat, kelihaian memainkan peran, dan barangkali juga ''gizi''.

Pembahasan AD/ART kembali meramaikan arena Munas. Sejumlah utusan berebut bicara, saat tim perumus Komisi A membacakan hasil AD/ART, khususnya dimasukkannya wakil ketua umum dan pengurus harian.

Akhirnya, peserta Munas sepakat memutuskan adanya wakil ketua umum di tingkat DPP, serta tingkat DPD I, DPD II, dan di bawahnya dapat membentuk pengurus harian.

Kubu Kalla kembali menguat. Keputusan tersebut jelas memberikan angin segar kubu Kalla yang telah memiliki paket Kalla sebagai ketua umum, Agung Laksono sebagai wakil ketua, dan Surya Paloh sebagai Ketua Dewan penasehat.

Malam harinya, pemilihan mulai digelar dengan situasi dukungan politik masih berpihak kepada Kalla. (Tim SM-83a)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA