| Rabu, 22 Desember 2004 | NASIONAL |
Mahasiswa Tolak Kenaikan Harga BBM
SEMARANG - Gelombang protes atas rencana kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan diberlakukan dalam waktu dekat ini, terjadi di beberapa beberapa tempat; antara lain di Semarang, Bandung, dan Surabaya. Di Semarang, puluhan mahasiswa yang bergabung dalam Aliansi Mahasiswa-Rakyat Antikebijakan Tidak Populis, Selasa (21/12) kemarin turun ke jalan menggelar aksinya. Mereka menggelar aksi di seputar bundara air muncrat Jl Pahlawan. Dalam aksinya mereka tak hanya atraktif dengan membawa sejumlah spanduk dan poster, tapi juga menggelar happening art yang diperankan oleh tiga orang. Dalam happening art itu digambarkan bagaimana pemerintahan rezim militer di bawah pimpinan SBY membuat kebijakan yang menekan rakyatnya. Para rakyat kecil yang diperankan dua orang bertelanjang dada dengan dikalungi rantai itu, dipaksa membeli BBM yang sudah tidak terjangkau harganya. ''Kami menolak kenaikan harga BBM, karena tidak populis sama sekali,'' kata Koordinator Aksi, Zaenal Muqodir Burhan dalam orasinya. Zaenal menambahkan, secara makro kenaikkan harga BBM juga akan berdampak kepada menurunnya kemampuan daya beli masyarakat terhadap barang-barang hasil produksi. Pihaknya menilai rencana pemerintah yang akan meluncurkan beberapa kebijakan sebagai kompensasi kenaikan harga BBM, bukan suatu solusi yang tepat. Di Bandung Puluhan mahasiswa yang tergabung dari beberapa perguruan tinggi di Bandung termasuk KM ITB mengekspresikan penolakan tersebut dengan menuntun motor sebagai tanda ikut merasakan penderitaan masyarakat akibat kenaikan BBM. Sebelum menuju ke tempat keramaian, mereka beraksi dengan memutar-mutarkan motor tanpa menghidupkan mesin di depan Gedung Sate Bandung. "Dampak kenaikan BBM ini jelas akan menimbulkan multiplier effect yang besar terhadap harga-harga kebutuhan masyarakat. Seharusnya, ini menjadi pertimbangan serius pemerintah," ungkap salah seorang mahasiswa yang berunjuk rasa. Pengunjuk rasa meminta pemerintah meninjau ulang kebijakan pencabutan subsidi BBM 2005 yang mereka nilai tidak berpihak kepada rakyat. Sementara itu di Surabaya berlangsung dua aksi demo menolak kenaikan harga elpiji dan bahan bakar minyak (BBM) jenis Pertamax dan Pertamax Plus. Demo berlangsung di depan Gedung Negara Grahadi, di Jalan Gubernur Suryo. Aksi demo pertama dilakukan oleh sekitar 100 mahasiswa yang tergabung dalam Gema Pembebasan Jatim. Mereka mengusung agenda menolak rencana kenaikan BBM jenis lain, selain Pertamax dan Pertamax Plus, pada awal 2005 mendatang. Karena kenaikan itu, dipastikan akan menyengsarakan rakyat kecil. Demo di depan Gedung Negara Grahadi tersebut, juga diwarnai aksi teatrikal menggambarkan betapa menderitanya rakyat saat harga BBM akan dinaikkan. Demonstran menuntut pemerintah membatalkan rencana kenaikan harga BBM awal 2005. ''Rakyat sudah menderita jangan sampai ditambah menderita lagi,'' ujar Ilham, salah satu mahasiswa. Sedang aksi demo kedua digelar Solidaritas Perjuangan Buruh (SPB) Jatim. Agendanya juga menolak rencana kenaikan harga BBM. Sebab, kenaikan itu dipastikan mempengaruhi pendapatan buruh. (G14, dwi, G7-69ja) (dwi-69j) | ||||