| Rabu, 22 Desember 2004 | SEMARANG |
Dirintis, Bursa Kerja di Universitas
SEMARANG-Keberadaan sebuah bursa tenaga kerja di perguruan tinggi bernilai penting. Bursa kerja diperlukan untuk menjembatani kebutuhan perusahaan akan tenaga siap kerja. Pada saat yang sama, bursa kerja juga menjadi jalan bagi lulusan untuk mengakses pekerjaan yang sesuai dengan kompetensinya. Rektor Universitas Negeri Semarang Dr H Ari Tri Soegito SH MM menyatakan hal itu saat membuka Seminar dan Lokakarya (Semiloka) ''Job Placement Centre'' di kampus Unnes Sekaran Gunungpati, baru-baru ini. Aktivitas yang dilakukan dalam sebuah bursa tenaga kerja meliputi pemasaran alumni, pembinaan lulusan, serta pembukaan peluang kerja di perusahaan. ''Setiap jurusan dan program studi dalam sebuah perguruan tinggi dituntut untuk pandai-pandai mengikuti perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (iptek) sesuai dengan kebutuhan pasar kerja. Sebab, jurusan dan program studi memiliki peran penting untuk mempersiapkan lulusan yang siap kerja,'' kata Ari. Untuk mempersiapkan lulusan yang siap kerja, jurusan harus mau bekerja sama dengan stakeholders, para pelaku dunia usaha. Kerja sama itu harus dilakukan, baik dalam menyusun kurikulum maupun proses belajar mengajar. Terkait dengan itu, Unnes berencana untuk membuka lembaga bursa kerja. Persiapan dilakukan untuk mencari model pengelolaan bursa tenaga kerja di PT tersebut. Dengan model itu, diharapkan para lulusan bisa dimanfaatkan secara optimal oleh industri. Selain itu, diharapkan bisa menelurkan konsep mekanisme promosi bursa kerja bagi lulusan universitas tersebut. Kalangan Profesional Dalam kesempatan terpisah, Rektor Universitas Muhammadiyah Semarang (Unimus) Prof Dr H Abu Suud juga menyatakan hal serupa. Untuk meningkatkan kualitas perkuliahan, kata Abu, kampus perlu menggandeng kalangan profesional. Pengalaman yang dimiliki kalangan profesional merupakan batu asah yang bisa mendewasakan para pengajar di perguruan tinggi. ''Kerja sama dengan profesional mutlak untuk meningkatkan kinerja perguruan tinggi. Sebaliknya, bagi asosiasi semacam AKLI, perguruan tinggi bisa meningkatkan kompetensi para anggotanya,'' ujar Abu Suud. Beberapa waktu lalu Unimus meneken nota kesepakatan dengan Asosiasi Kontraktor Listrik dan Mekanikal Indonesia (AKLI). Lewat kesepakatan tersebut, Unimus dan AKLI meneken perjanjian untuk meningkatkan profesionalisme dan kompetensi anggota asosiasi kelistrikan tersebut dalam bentuk pembukaan kelas khusus S1 Teknik Elektro, yang berjumlah 48 mahasiswa. Ketua DPC AKLI Cabang Semarang Ir H Suwarto menyatakan, pihaknya juga memandang penting ada kerja sama dengan PT. Hal itu terkait dengan keinginan untuk terus-menerus meningkatkan profesionalisme dan kompetensi anggotanya. (amp-89) |