logo SUARA MERDEKA
Line
Rabu, 22 Desember 2004 SEMARANG
Line

Mahasiswa Tuntut Perda Perlindungan Guru

SEMARANG- Belasan mahasiswa yang tergabung dalam Keluarga Besar Mahasiswa (KBM) IKIP PGRI Semarang menggelar aksi unjuk rasa di kantor DPRD Jateng, Selasa (21/12). Mereka menuntut direalisasikannya anggaran pendidikan sebesar 20% dari APBD.

Selain itu, para pendemo yang membawa sejumlah poster dan spanduk tersebut juga menuntut dibuatnya Perda tentang Hak dan Perlindungan Guru sebelum Undang-Undang yang mengatur masalah itu ditetapkan.

Sebelumnya, mereka juga menggelar aksi serupa di Gubernuran yang berada satu kompleks dengan kantor DPRD Jateng. Saat itu, mereka menggelar happening art yang menggambarkan seorang guru dengan gaji kecil tapi terus menanggung beban berat.

Guru diperankan seorang yang kurus dan digambarkan sebagai ''Umar Bakri''. Tokoh guru ciptaan Iwan Fals tersebut memang begitu tersohor sebagai gambaran seorang pendidik yang penuh pengabdian dan dedikasinya dalam mencerdaskan anak bangsa meski tidak mendapat penghargaan yang setimpal dari Pemerintah.

Di teras kantor DPRD Jateng yang juga dikenal dengan sebutan Gedung Berlian tersebut, pengunjuk rasa bergantian melakukan orasi. Mereka tak henti-hentinya mengecam kurangnya berhatian dari Pemerintah terhadap dunia pendidikan. Sementara, aparat kepolisian terus berjaga-jaga. Hingga mereka meninggalkan Gedung Berlian, tak satu pun anggota Dewan yang menemui.

''Guru adalah seorang profesional yang harus dihargai. Namun sampai saat ini Pemerintah belum juga memperhatikan kesejahteraan guru,'' teriak seorang orator.

Aktivis lainya menimpali, sampai sekarang masih banyak guru yang mendapatkan gaji Rp 100.000/bulan. ''Apa cukup dengan gaji hanya segitu jika dibandingkan dengan jasa dan pengabdiannya?''

Koordinator lapangan Slamet S mengatakan, pendidikan merupakan investasi yang tak ada kerugiannya sedikit pun. Namun pihaknya menganggap aneh karena Indonesia tidak mampu menempatkan pendidikan sebagai instrumen penting.

''Terbukti, pergantian kepemimpinan dari era Megawati ke SBY belum menampakkan komitmennya terhadap dunia pendidikan. Ini terlihat dari wajah suram pendidikan di daerah-daerah pedalaman,'' katanya.

Menurutnya, salah satu instrumen dalam proses pendidikan yang cukup menentukan adalah profesi guru. Profesi itu bukan hanya sebagai pengabdian, namun sebuah profesi yang harus dinilai sebanding dengan jasa-jasanya. ''Bukan pahlawan tanpa tanda jasa,'' tandasnya.

Dia mengungkapkan, jika dicermati, kesejahteraan guru saat ini sangat memprihatinkan dibandingkan usaha yang telah dilakukan. Karena itu, sebenarnya negara ini sudah sangat berdosa karena tak memperhatikan nasib guru. (G7-84)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana
  Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA