| Rabu, 22 Desember 2004 | SEMARANG |
Pesan Alkitab dalam Dongeng InteraktifSERIBU satu jalan menuju Roma, seribu satu cara untuk menyampaikan isi Alkitab. Firman dan Tuhan bisa didedah lewat ceramah, testimoni, atau bahkan dongeng. Dongeng? Ya, begitulah cara yang biasa ditempuh oleh Pendeta muda (Pdm) Prasetya dari Gereja Bethel Indonesia (GBI). Lewat tuturan dongeng-dongengnya, ia menyisipkan ayat-ayat Alkitab. "Dongeng merupakan cara yang efektif untuk menyampaikan firman Tuhan. Pesan-pesan yang disampaikan lewat dongeng akan diingat anak-anak hingga ia dewasa nanti," kata dia, di GBI Jl Gajahmada 82-86, Selasa (21/12). Lewat dongeng, Om Pras--demikian anak-anak memanggilnya--mendedah ajaran Kristiani dengan cara yang amat menarik. Alumnus Sekolah Alkitab Tawangmangu itu begitu pintar mengemas "khotbah"-nya. Ia piawai membetot perhatian anak-anak. Mau tahu bagaimana dia mendongeng? Ketua Sekolah Minggu GBI itu selalu bercerita dengan atraktif. Acap ia berlari, berloncatan, hingga berguling-guling, sesuai dengan dongeng yang dikisahkannya. Ketika itu, lajang kelahiran Salatiga 32 tahun lalu itu tengah mendedah kisah si Rampu, seorang pemburu yang tinggal di pinggir hutan. Setiap hari ia berburu binatang untuk menyambung hidupnya. Suatu hari, pemburu itu tak mendapati seekor binatang pun di hutan. Hingga menjelang petang, si Rambu belum mendapatkan seekor buruan pun. Aha, ada seekor anak harimau yang ditinggalkan induknya. Rampu berniat untuk membawa pulang dan memiara anak macan itu. Sesampai di kampung, Kepala Suku menyarankan agar Rampu mengembalikan anak harimau itu ke hutan. Sebab, kalau sudah besar nanti, anak harimau itu akan menjelma kucing besar yang berbahaya. "Tidak, anak harimau ini adalah binatang lucu," kata Rampu, eh, Prasetya sembari menimang anak macan itu. Benar juga, waktu berganti dan anak harimau itu telah tumbuh menjadi macan besar. Singkat cerita, Rampu dan keluarganya mati diterkam harimau itu. Atraktif Kalau melihat aksi atraktifnya, kentara betul Prasetya memiliki energi berlebih untuk mendongeng. "Saya harus bisa menjadi anak-anak, agar mereka bisa terlibat dalam setiap dongeng yang saya sampaikan. Respon anak-anak membuat energi saya bertambah besar," katanya. Ya, Pras memang menganggap penting respon anak-anak pada dongengnya. Ia memperoleh kepuasan lebih, ketika anak-anak terlibat pada dongengnya. Makanya, setiap kali mendongeng, Pras selalu mengajak anak-anak membangun cerita bersama. Caranya sungguh unik. Untuk memancing keterlibatan anak-anak, Pras selalu mengucapkan suku kata pertama saja. Selanjutnya anak-anak yang menyambungnya. "Sekali lempar, wusss, tombaknya melesat. Tapi tak ke...," Sontak anak-anak pun menyahut, "Na...." Sungguh, sebuah pementasan yang amat interaktif. Menjadi tak terang benar, siapa yang bercerita, dan siapa yang menikmatinya. .(Achiar M Permana-84 ) |