| Senin, 20 Desember 2004 | SALA |
"Sebal, Sudah Tua Masih Cari Pacar"KOTA - "Ibu, kadang aku sangat sebal, engkau sudah tua tapi masih cari pacar. Sedangkan aku yang masih SMP tidak kau izinkan cari pacar, walaupun bisa membagi waktu untuk belajar," Kalimat itu merupakan penggalan surat seorang pelajar kelas II sebuah SMP di Solo bernama Larni. Gadis belia itu menuangkan unek-unek pada sang ibu, lantaran tidak diizinkan berteman dekat dengan lelaki. Sementara itu ibunya yang berstatus janda berencana menikah lagi. Sebagai anak, dia hanya melihat sebuah pengekangan dari ibunya karena tak diizinkan bebas bergaul. Larni tak melihat sisi baik sang ibu. Dia pun menumpahkan hasil renungan itu dalam surat. Surat yang ditulis Larni tersebut satu dari sekian puisi dan surat karya siswa siswi se-Surakarta yang dihimpun dalam sebuah buku terbitan Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi. Buku itu kemarin diluncurkan dalam rangka peringatan Hari Ibu yang jatuh pada 22 Desember di Taman Budaya Surakarta. Kasih Sayang "Dalam buku tersebut masih banyak surat serta puisi yang dicipta anak-anak untuk ibunya sebagai wujud cinta dan kasih sayang. Buku-buku itu menyadarkan keluhuran figur dan peran seorang ibu," ujar Ketua Panitia Gress Raja dari Perkumpulan Putra Ibu Pertiwi. Bersamaan dengan peluncuran buku tersebut, juga digelar acara sungkeman antara anak yatim piatu yang bernaung di beberapa panti asuhan dan penghuni Panti Wreda Darma Bakti Kasih Kadipiro. Dalam sungkeman itu diwarnai isak haru, meskipun bocah-bocah itu tidak sungkem pada orang tua kandung mereka. Puluhan anak korban kekerasan pertikaian di Ambon juga diikutkan dalam acara tersebut. Mereka tak bisa menahan haru saat berpelukan dengan perempuan yang mayoritas telah renta tersebut. Apalagi anak-anak itu kehilangan orang tua saat kerusuhan di Ambon. Menurut penuturan seorang pengasuh yang enggan disebut namanya, anak korban kerusuhan tersebut sangat peka terhadap lingkungan. Meskipun mereka kini berada di lingkungan yang aman, tak urung ada saja hal-hal yang membuat mereka teringat tanah kelahiran dan peristiwa nahas di lokasi konflik. Menurut Gress, cara tersebut sebagai sarana komunikasi dan terapi bagi anak-anak yang mengalami keretakan kasih sayang dengan ibunya. (G18,gun-17i) |