| Senin, 20 Desember 2004 | SALA |
Gamelan Keraton DiinventarisasiKERATON SURAKARTA - Hilangnya gamelan pusaka Kyai Genta dan seperangkat yang lain, sekitar empat tahun lalu, menjadi pelajaran bagi Keraton. Karena itu, kini dilakukan reinventarisasi secara mendetail dan menyeluruh, melibatkan beberapa pihak terkait, seperti kepolisian dan Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala (BP3) Jateng yang berkedudukan di Prambanan. Langkah preventif ancaman kehilangan atau kerusakan itu, secara sistematik telah dilakukan pihak Lembaga Hukum Keraton Surakarta (LHKS) sejak September lalu. Saat itu secara kebetulan berlangsung upacara jumenengan nata KGPH Hangabehi sebagai SISKS Paku Buwono XIII, yang sekaligus menggunakan belasan perangkat koleksi gamelan kuno sebagai perlengkapan upacara, seperti tata cara adat yang pernah berlangsung di Keraton masa-masa lalu. Menurut pemimpin LHKS, KP Edy Wirabhumi SH MM, momentum reinventarisasi itu tepat sekali, yaitu pada saat-saat terakhir menjelang SISKS Paku Buwono XII mangkat. Gagasan inventarisasi koleksi gamelan itu ternyata tepat momentumnya. Sebab hal itu berlangsung saat proses peralihan kepemimpinan dari Sinuhun Paku Buwono XII kepada putra tertuanya, KGPH Hangabehi. "Jadi ya secara kebetulan. Reinventarisasi itu sebenarnya harus dilakukan pada setiap pergantian kepemimpinan. Nyacahke itu sangat perlu dalam peristiwa pergantian kepemimpinan, tak hanya di Keraton, tetapi di mana saja. Sebab, suatu saat kalau proses itu berulang dan dimintai pertanggungjawaban, akan bisa dilihat antara data dan wujud barangnya," tutur KP Edy, beberapa waktu lalu. Pernah Dilakukan Menurut dia, inventarisasi secara sederhana terhadap semua aset Keraton diyakini pernah dilakukan para Paku Buwono pendahulu. Buktinya, banyak dokumen yang tersimpan di Sasana Pustaka dan tempat lain yang menunjuk jumlah, jenis, nama, latar belakang sejarah, fungsi, manfaat barang atau aset, dan sebagainya. Namun, lanjut suami GRAy Koes Moertiyah itu, inventarisasi yang pernah dilakukan di Keraton, diyakini sudah lama sekali dan hanya sepotong-sepotong. Artinya, inventarisasi itu tidak disertai pengarsipan dengan metode yang sistematis, dilengkapi dengan pelabelan dan zoning (pewilayahan-Red) dan sebagainya. Di tempat terpisah, Joko Daryanto SSn, abdi dalem yang ditugasi menginventarisasi gamelan menjelaskan, setelah mencacah sebelas perangkat instrumen musik jawa khas Keraton menjelang jumenengan nata September lalu, selama puasa pada November tim kerjanya sudah melanjutkan kegiatan tiga hari dan menginventarisasi sekaligus membersihkan tiga perangkat gamelan. Tiga perangkat gamelan yang diiventarisasi bersama tim dari BP3 pimpinan Drs Lambang babar Purnomo itu, berada di Museum Art Gallery Keraton. Tidak hanya tiga perangkat yang terdiri atas slendro dan pelog, tetapi juga menginventarisasi 16 gong yang memiliki fungsi khusus di luar mengiringi gamelan. (won-17i) |