logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 SALA
Line

Dari Festival Wayang Bocah (2-Habis)

"Kenalkan Dulu Karakternya"

WAHYU Santosa Prabowo SKar MS, salah seorang juri, bisa memaklumi kesulitan para peserta menampilkan format wayang bocah. Apalagi penyelenggara festival tidak memberikan kriteria jelas, sehingga sajian yang tampil lebih terasa sebagai karya seni pengelola sanggar.

"Seharusnya sanggar mampu mencari subtansi dari festival itu. Apakah perlu garapan iringan yang lain atau cukup dengan iringan klasik."

Dia sependapat ada kendala untuk menggiatkan wayang di kalangan anak-anak. Kendala tersebut pada soal lakon atau cerita. Sangat sedikit lakon yang sesuai dengan karakter dan jiwa anak-anak. Meski sebenarnya pada tahapan awal, bocah perlu diajarkan soal karakter dan tarian masing-masing tokoh wayang. Mereka yang didapuk di panggung perlu juga dibekali soal karawitan.

Jadi pengenalan sejak awal sangat perlu. "Kenal karakter, baik ancawacana maupun tari tokoh saja belum, kok diberi skenario garapan. Ini perlu dipahami pengelola sanggar. Tampilkan yang klasik dulu, setelah anak-anak bisa memahami teori dasar baru diajak main yang garapan. Tonjolkan apresiasi anak-anak dalam berkesenian, bukan iringannya meski keduanya menyatu," tuturnya.

Tidak Jelas

Juri lain, ST Wiyono SKar menyebutkan, dengan tidak ada format membuat festival itu tidak jelas bentuknya.

Dia lebih melihat festival tersebut hanya menampilkan garapan yang dikemas dan diberi label wayang bocah. Sejumlah anak-anak yang terlibat di dalamnya hanya sebagai pemain pengganti wayang orang (dewasa).

"Membuat wayang bocah sangat berat dan harus hati-hati. Jenis cerita atau lakon mesti dipertimbangkan dan disesuaikan dengan karakter anak-anak yang masih polos dan lugu," ujarnya.

Menurut dia, kegiatan itu sebenarnya bentuk pelestarian kesenian tradisional yang konkret. Generasi muda diajak langsung pada bentuk kesenian bukan sekadar cerita yang imajinatif. Hanya, kegiatan harus berkesinambungan.

Keterlibatan sanggar seni mejadi alternatif yang bisa diharapkan untuk itu. Meskipun lembaga pendidikan formal, seperti sekolah juga bisa melakukan. "Tapi kesinambungan kegiatan terhadap anak yang sudah terlibat, bisa putus ketika anak itu lulus dari sekolah. Di sanggar, bisa berlangsung selama anak yang sudah mengikuti masih bergabung di sanggar."

Kegiatan semacam itu, kata seniman yang juga pamong komunitas ketoprak Kerabat Kerja Seniman Muda Surakarta tersebut, perlu mendapat prioritas dalam kerangka pelestarian kesenian.

Prioritas diberikan pada bidang pendanaan kepada setiap sanggar yang melakukan aktivitas konkret.

Dengan dana yang cukup, kegiatan itu akan bisa berkesinambungan dan menjadi agenda rutin Dinas Pariwisata Seni dan Budaya. Kalau rutin digelar, masyarakat juga akan merasa mempunyai agenda seni.

"Selama ini kegiatan semacam itu belum direncanakan dengan matang dan masih merupakan proyek, bukan program yang berkesinambungan. Itu menjadi 'PR' pemerintah kota dan warga masyarakat."(Sri Wahjoedi-17s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA