| Senin, 20 Desember 2004 | SALA |
Tepis Tudingan Pakar Hanya Bisa NgomongKENTINGAN - Belum genap dua bulan Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) UNS Surakarta terbentuk, beberapa terobosan sudah mulai dipersiapkan. Lembaga baru hasil merger antara Lembaga Penelitian (Lemlit) dan Lembaga Pengabdian Masyarakat (LPM) itu akan membentuk pusat kepakaran. "Pusat kepakaran merupakan tempat berkumpulnya para pakar UNS. Diharapkan, nanti dapat dihasilkan produksi ilmu baru, apakah itu teori, konsep, model, atau bahkan produk teknologi baru," kata Ketua LPPM, Dr Drajat Tri Kartono MSi, kemarin. Dia mengungkapkan, dalam penggabungan LPM dan Lemlit, salah satu pembenahan utama yang dilakukan adalah pengembangan pusat-pusat, misalnya pusat kepakaran. Pusat kepakaran itu mempunyai roadmap atau semacam kurikulum mengenai interaksi antara pendidikan yang menjadi inisiasi penelitian, dan selanjutnya penelitian yang menjadi pijakan dari pengabdian. "Nah, produk ilmu atau teknologi baru itu berbasis pada bidang kepakaran tertentu. Misalnya bioteknologi ya berbasis pada biotek, lalu perempuan ya ilmu tentang gender," jelasnya. Dijelaskannya, LPPM saat ini mempunyai 15 pusat. Menurut rencana, setiap pusat tersebut mempunyai pakar sendiri. Para pakar itu juga mempunyai jurnal. Mereka memberikan pendapat mengenai berbagai persoalan di masyarakat. "Setiap dua minggu sekali akan ada diskusi terhadap permasalahan di masyarakat. Output mereka pemikiran. Selain itu, juga pemberian predikat kepakaran kepada seseorang. Hal-hal itu akan dirumuskan dalam lokakarya 21 Desember nanti," ujarnya. Tepis... (Sambungan hlm 17) Menara Gading Kabag TU LPPM UNS, Drs Pramista Magna menyatakan, lokakarya itu akan menghadirkan pembicara yang juga para pakar, seperti Drs Sutarno MSc PhD dan Prof Dr Ir Edy Purwanto MS. Pembantu Rektor I UNS, Prof Dr Ravik Karsidi MS juga akan memberikan arahan. Menurut pendapat Drajat, rintisan pembentukan pusat kepakaran tersebut diharapkan dapat mengikis anggapan dan kecenderungan perguruan tinggi sebagai "menara gading" di tengah masyarakat. itu, juga untuk mengurangi kecenderungan bahwa penelitian perguruan tinggi hanya berhenti pada laporan-laporan yang kemudian disimpan di perpustakaan dan tidak dimanfaatkan. "Juga untuk mengikis tudingan, para ahli di perguruan tinggi hanya bisa berbicara dan berpikir dalam konteks akademik. Karena itu kami akan membangun reseach university. Jadi ada jaringan. Universitas itu kuat kepakarannya, tapi masyarakat juga bisa mengakses," tuturnya. Para perjalanan mendatang akan ada semacam akreditasi dari rektorat. Kalau ada pusat yang belum bisa membuat pusat kepakaran, akan ditutup atau digabung dengan yang lain. (D11-17i) |