logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 RAGAM
Line

Vaksinasi Antraks di Sleman

Lebih Baik Mencegah daripada Mengobati

KASUS vaksinasi Antraks di Sleman memunculkan sikap pro dan kontra. Sementara Antraks tersebut sempat menelan korban beberapa ekor ternak kambing.

Serangan penyakit itu jelas menimbulkan gangguan produksi, mempertinggi angka kematian, menurunkan mutu produk peternakan, dan mengurangi efisiensi penggunaan pakan.

Meskipun pengobatan dapat segera dilakukan bila terserang penyakit, tetapi cara ini masih dipandang relatif mahal dibandingkan dengan keuntungan yang diperoleh dari upaya pencegahan. Maka tepatlah pepatah yang mengatakan ''Lebih baik mencegah dari pada mengobati''.

Tingkat keganasan dan tingkat kerugian yang diderita akan menyebabkan perbedaan cara penanggulangannya. Maka terhadap penyakit yang menimbulkan tingkat kemunduran pertumbuhan/kemorosotan produksi dan mempertinggi tingkat kematian, kiranya dapat ditanggulangi dengan pemberian obat. Sedangkan yang ganas dan cepat menimbulkan kematian perlu dilakukan vaksinasi.

Sehingga untuk menanggulangi penyakit ternak akibat serangan jasad renik (bakteri, virus dan lain-lain) terutama yang menular, vaksinasi merupakan tindakan yang paling tepat dan murah. Melalui vaksinasi diperoleh kekebalan buatan aktif yang mampu melindungi terhadap serangan penyakit. Sehingga bila terjadi ledakan penyakit menular, ternak-ternak akan terhindar dari kematian.

Vaksin, suatu produk yang berupa sediaan berasal dari jasad renik dan bersifat imunogenik. Artinya mampu merangsang timbulnya kekebalan. Atau dapat juga terdiri dari jasad renik hidup yang sudah dilemahkan/dimatikan dengan bahan kimia. Terhadap semua penyakit virus, tindakan vaksinasi adalah mutlak dilakukan. Karena sampai sekarang penyakit akibat kuman virus, belum bisa disembuhkan dengan obat.

Vaksinasi bertujuan agar hewan ternak memperoleh kekebalan aktif buatan namun sama derajad kekebalannya atau bahkan lebih tinggi dari kekebalan alamiah, yang diperoleh setelah ternak sembuh dari serangan penyakit menular.

Tipe Vaksin yang Ada

Ada dua tipe vaksin yang beredar di pasaran dan telah banyak dikenal masyarakat ternak. Yakni tipe vaksin aktif, vaksin yang mengandung virus hidup. Kekebalan yang ditimbulkannya lebih lama. Dan tipe vaksin pasif, vaksin yang mengandung virus yang telah dilemahkan/dimatikan tanpa merubah struktur antigeniknya. Sehingga masih mampu merangsang timbulnya kekebalan. Namun kekebalan yang ditimbulkan relatif lebih pendek. Meski demikian keuntungannya lebih aman digunakan .

Kegagalan Vaksinasi

Masalah yang sering timbul dalam praktik kedokteran veteriner adalah meski ternak sudah memperoleh vaksinasi secara teratur, namun kenyataannya masih banyak ternak yang terserang penyakit jika wabah terjadi secara ganas. Kegagalan vaksinasi ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:

1. Faktor Keturunan dan Lingkungan. Kebanyakan hewan cenderung menanggapi antigen dengan tanggap kebal rata-rata, tapi sebagian kecil mengalami tanggap kebal yang sangat lemah.

2. Kondisi Ternak. Tekanan jiwa (stres), kebuntingan, pengaruh dingin atau panas yang berkelebihan, kelelahan dan nutrisi yang kurang bagus, akan menghambat timbulnya kekebalan.

3. Cara Memberikan Vaksinasi Yang Kurang Tepat. Bila pemberian aerosol (semprot) yang tidak merata atau melalui pemberian air minum, tetapi beberapa ternak tidak meminumnya, maka hewan akan tetap menderita penyakit. Karena tidak cukup mendapatkan dosis vaksinasi, atau sebaliknya penggunaan dosis yang berlebihan memicu kemunculan penyakit tersebut.

Kegagalan inilah yang mendorong perlunya penelitian dan mengembangkan berbagai metode produk vaksin di Indonesia.

Persyaratan Vaksin Veteriner

Vaksinasi veteriner yang baik harus mempunyai kemampuan:

1. Mutu vaksin baik. Kekebalan yang ditimbulkan harus mampu melindungi ternak terhadap peledakan panyakit alamiah yang ganas.

2. Sifat proteksi silang. Sanggup melindungi dari beberapa strain penyebab penyakit yang ada.

3. Aman. Vaksin tidak bersifat racun dan aman bila digunakan. ''Safety'' menjadi syarat utama pada vaksin aktif baik jenis (Strain Virus) yang digunakan maupun dosis penggunaannya.

4. Efek samping. Tidak menimbulkan dampak negatif setelah vaksinasi.

5. Kekebalan. Masa kekebalan yang ditimbulkannya cukup lama.

6. Kekebalan sempurna. Vaksin tunggal (single dosis) mampu merangsang kekebalan yang sempurna.

7. Mantap dalam Penyimpanan. Bila disimpan dalam suhu kamar struktur vaksin tetap sempurna demikian pula kualitasnya.

8. Praktis. Mudah dalam penggunaannya.

9. Ekonomis. Murah biaya produksi dan relativ kecil dosisnya.

Semua persyaratan tersebut rasanya sukar dipenuhi oleh suatu jenis vaksin mana pun. Sebab itu harus selalu mengadakan penelitian dan pengembangan metode produksi terhadap beberapa jenis vaksin. Paling tidak harus mengembangkan beberapa alternatif agar tercapai suatu optimalisasi dari berbagai kriteria tersebut.(drh. Suharna-35)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA