| Senin, 20 Desember 2004 | RAGAM |
Hormon Vasopressin Atasi DBDALAM dunia kedokteran, renjatan atau shock merupakan situasi yang selalu mengancam kehidupan. Tidak peduli, apakah renjatan dipicu oleh runtuh totalnya sistem metabolisme, akibat serangan jantung, kehilangan darah cukup banyak karena luka terbuka atau tertutup, atau akibat keracunan darah. Di Indonesia, kasus renjatan atau shock ini, amat menonjol jika sedang musim penyakit demam berdarah Dengue. Pasien yang kehilangan cukup banyak sel darah merah, akibat serangan penyakit demam berdarah, biasanya mengalami renjatan. Jika terlambat ditolong, renjatan akan berakhir dengan kematian. Renjatan memicu turunnya tekanan darah secara ekstrim. Akibatnya jaringan organ penting tubuh termasuk otak, tidak mendapat pasokan darah. Dampaknya organ-organ penting itu mengalami kerusakan, dan akhirnya pasien meninggal. Hormon Antidiuretika Secara kebetulan ditemukan, pemberian hormon antidiuretika yang disebut Adiuretin atau Vasopressin, terbukti dapat mengatasi renjatan. Hormon Vassopresin diproduksi oleh tubuh manusia sendiri, dengan fungsi meregulasi kadar air di dalam darah. Jika kadar air dalam darah berkurang, otak memproduksi hormon ini, untuk memperoleh kembali air yakni dari kanal-kanal ginjal. Dengan itu darah ibaratnya kembali diencerkan, dan komposisi air dengan garam di dalam darah distabilkan kembali. Dampaknya adalah naiknya kembali tekanan darah. Hal tersebut ditemukan pada tahun 1997 lalu oleh Prof. Donald Landry dan Prof. Juan Oliver, keduanya gurubesar di bagian penyakit dalam dan ilmu bedah di Universitas Columbia di New York. Majalah ilmu pengetahuan ''Spektrum der Wissenschaft'', melaporkan kedua ahli kedokteran menemukan cara pengobatan tersebut, ketika sedang merawat seorang pasien yang mengalami pendarahan, gara-gara infeksi di saluran pencernaannya. Berdasarkan pengalaman, jika terjadi pendarahan di saluran pencernaan, diberikan hormon Vasopressin, untuk mempersempit pembuluh darah di saluran pencernaan. Dengan itu pendarahan biasanya dapat dihentikan. Dampak Samping Positif Akan tetapi, ketika pendarahan dapat dihentikan, dan pemberian hormon Vasopressin dihentikan, tekanan darah pasien bersangkutan tiba-tiba turun drastis, mendekati renjatan. Dengan segera, para dokter memberikan kembali hormon tersebut, dan kemudian tekanan darah pasien kembali naik. Para ahli penyakit dalam dan bedah itu bertanya, apakah pasiennya yang bereaksi amat peka terhadap Vasopressin, gara-gara ia menderita infeksi? Atau ada khasiat lain dari Vassopresin yang belum dikenal? Dalam penelitiannya itu Prof. Landry dan Prof. Oliver secara hati-hati mencoba akan manfaat hormon ini pada penderita renjatan sepsis dengan menganut prinsip kedokteran, yakni ''terutama ujicobanya jangan berdampak merugikan''. Karena itu, mula-mula diberikan dosis kecil, hanya 10 persen dari dosis yang diberikan kepada pasien sebelumnya, yang mengidap infeksi saluran pencernaan. Para ahli kedokteran itu, juga mengakui, tidak mengharapkan efek yang tegas pada tekanan darah pasien. Namun rupanya kedua guru besar kedokteran itu terlalu hati-hati, menaksir efek dari pengobatan yang dilaksanakannya. Ternyata, tekanan darah pasien yang mengalami renjatan akibat keracunan darah, meningkat dengan tegas. Penelitian lebih lanjut menunjukan, pada para penderita renjatan akibat keracunan darah atau sepsis, kadar hormon Vasopressinnya ternyata amat rendah. Padahal, menurut teori kedokteran, dalam kondisi tekanan darah amat rendah, yang membahayakan kehidupan, otak seharusnya memproduksi Vasopressin dalam kadar tinggi. Mekanisme Produksi Hormon Penelitian lebih lanjut menghasilkan penjelasan yang lebih rinci. Pada awal gejala keracunan darah, memang diproduksi hormon pencegah turunnya tekanan darah ini dalam kadar amat tinggi. Tidak peduli, apa pun pemicu ancaman situasi fatal itu. Namun dalam kasus keracunan darah akibat infeksi, kadar hormon Vasopressin menurun tajam hanya dalam bilangan beberapa jam saja. Padahal, tubuh tidak bisa memproduksi Vasopressin dalam waktu cepat. Akibatnya, tekanan darah terus menurun, hingga sampai pada fase renjatan atau shock yang dapat menimbulkan kematian. Penelitian dampak Vasopressin untuk mencegah renjatan, dilanjutkan oleh beberapa kelompok peneliti lainnya. Hasilnya, menegaskan penelitian pertama oleh Landy dan Oliver, yang menunjukan bahwa pemberian hormon Vasopressin pada pasien sepsis, meningkatkan tekanan darahnya, dan mencegah terjadinya fase renjatan. Selain itu, pemberian hormon tsb, relatif tidak menimbulkan dampak sampingan yang merugikan. Sekarang, di berbagai rumah sakit besar di negara maju, pemberian Vasopressin untuk pasien yang mengalami renjatan, sudah menjadi standar. Kini yang diperlukan adalah ujicoba besar-besaran, yang dapat lebih tegas menjelaskan, apakah normalisasi tekanan darah, juga memperbaiki kondisi pasien yang mengalami sindroma renjatan dalam kasus lainnya? Apakah pemberian obat tsb juga dapat menekan jumlah kematian akibat renjatan? Jika jawabannya positif, diharapkan pembuatan obatnya dapat digalakan. Disebutkan, obat berbahan aktif Vasopressin akan relatif murah, sebab hormon itu tidak dipatenkan. Tentu saja, pemberian Vasopressin, bukan satu-satunya cara pengobatan untuk mencegah renjatan. Yang lebih penting lagi, adalah memerangi sumber infeksinya. Karena itulah, dilakukan penelitian intensif, untuk dapat memahami mekanisme munculnya reaksi renjatan lebih jauh lagi. Dengan memotong mekanismenya, misalnya dengan memberikan obat antibodi secara terarah, diharapkan sindroma renjatan tidak sampai muncul. Atau juga pemberian sejenis kortison, diharapkan dapat dicegah reaksi berantai yang memicu munculnya renjatan. Berbagai penelitian memang masih dilaksanakan, untuk lebih mengerti mekanisme regulasi tekanan darah dan munculnya renjatan, serta mencari obat pencegahnya.(Aria/dw-world.de-35) |