| Senin, 20 Desember 2004 | PANTURA |
Setyadi Ketua PGRI Kota PekalonganPEKALONGAN- Drs Setyadi, guru SMA 1 Pekalongan, akhirnya terpilih menjadi Ketua PGRI periode 2004-2009 dalam Konferda Ke-19 yang berlangsung di Aula SMK 2, Sabtu lalu. Dalam pemilihan yang berlangsung demokratis itu, lelaki yang sebelumnya menjabat Ketua Cabang PGRI Pekalongan Timur tersebut menang mutlak dibandingkan dengan rival utamanya, Sumali SPd MPd (Kepala SMP 9 Pekalongan). Dari enam calon yang maju, Setyadi memperoleh 53 suara, disusul Sumali (23), Sutarjo (kepala SD Slamaran) meraih 13 suara, Drs Suharso (Guru SMK Negeri 01 Pekalongan) dengan sembilan suara, Drs Amin (mantan Ketua PGRI mendapat empat suara), dan Abdullah Martoloyo (guru SMP 16 Pekalongan) mengundurkan diri. Konferda dipimpin Drs Sanyoto, dari PD I Jateng dan dibuka Kepala Dinas Pendidikan Drs Harrie Pudjiraharjo. Hadir pula dalam acara tersebut, H Manives Zubair (Ketua Dewan Pendidikan Kota Pekalongan). Setelah memilih ketua, konferda juga memilih wakil ketua. Dari beberapa calon akhirnya terpilih Suharto SPd (dari SD Medono 08) dan Drs Triyono (Kepala SMP 5 Pekalongan) menjadi wakil ketua I dan wakil ketua II. Pemilihan juga dilakukan untuk sekretaris yang direbut Drs Robby Agustiono dan S Bandoyo, keduanya guru SMP 11 Pekalongan untuk menjabat sekretaris I dan II. Selanjutnya, untuk jabatan bendahara terpilih Usada SPd dan Teguh Aprianto. Dalam pidato seusai pemilihan, Setyadi menyatakan dalam konferda semuanya bersaing, namun itu positif. Setelah pemilihan selesai tidak ada istilah pesaing lagi, semua menjadi mitra kerja. "Karena itu, kami mengajak semua mendukung kepengurusan baru agar kekompakan dalam organisasi guru dapat terwujud,'' katanya. Ke depan, dia akan melakukan kerja sama dengan cabang dan ranting melalui rapat setiap dua bulan sekali. Dalam kegiatan tersebut akan dirembuk berbagai permasalahan yang menyangkut PGRI. Aset dan Kantor Namun, yang paling mendesak untuk dibicarakan saat ini adalah mengenai aset milik PGRI dan upaya mendirikan kantor organisasi. Mengenai aset, dia mengaku akan berusaha menarik kembali. Misalnya, soal tanah ataupun piutang sekitar Rp 35 juta yang ada pada pihak lain. ''Dalam kasus ini kami akan berusaha melakukan melalui pendekatan. Namun kalau jalan itu buntu akan diupayakan melalui jalur hukum,'' katanya. Kemudian mengenai kantor, Setyadi juga akan melakukan koordinasi dengan Pemkot, sehingga dalam waktu tidak lama lagi diharapkan gedung PGRI bisa terwujud. Dalam visi-misinya, Setyadi akan berjuang untuk nasib guru SD/TK tentang honor kelebihan mengajar. ''Selama ini belum ada kelebihan mengajar bagi guru SD. Padahal, jam mengajar mereka melebihi dari ketentuan,'' katanya. Mengenai anggaran pendidikan, menurut dia, untuk bidang pendidikan harus diupayakan 20%. Karena itu, PGRI akan berjuang ke Pemkot agar anggaran pendidikan ditingkatkan hingga 20%.(A15-42s) |