logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 PANTURA
Line

129 Ha Lahan Teh Akan Dikonversi

KAJEN- Akibat hasilnya kurang memuaskan, 129 ha lahan perkebunan teh yang dikelola PT Perkebunan Nusantara (PTPN) IX Jolotigo, Kabupaten Pekalongan akan dikonversi menjadi kebun karet.

Pengubahan fungsi lahan itu direncanakan mulai tahun depan.

Administratur PTPN IX Jolotigo Ir Adi Sularso kemarin mengatakan, melihat perkembangan produksi teh yang kurang bagus pihaknya bermaksud melakukan pengubahan lahan.

"Karena terus merugi, kami bermaksud melakukan konversi lahan pada 2005," ujarnya tanpa menyebutkan secara resmi berapa kerugian yang dimaksud.

Untuk tahap awal, lahan yang akan dikonversi seluas 129 ha. Namun lahan tersebut saat ini sedang dalam sengketa dengan warga Desa Mesoi dan Donowangun Talun yang ingin meminta lahan tersebut. Saat ini penyelesaian sengketa tanah itu diproses di Pengadilan Negeri Pekalongan.

Setelah proses hukum selesai, pihaknya akan membersihkan lahan itu dan segera ditanami pohon karet. Dia menjanjikan akan mengikutsertakan masyarakat agar bisa bekerja di perusahaannya saat lahan tersebut sudah dikonversi menjadi perkebunan karet.

"Meski masih ada perselisihan dengan warga sekitar, kami tetap akan mengajak mereka untuk bekerja di sini," janjinya.

Dia menyadari PTPN Jolotigo bagaimanapun tak bisa terlepas dari masyarakat desa yang ada di sekitar perkebunan.

Sebab warga tinggal di sekitar perkebunan, sehingga pihaknya harus selalu berkomunikasi dengan mereka. Saat ratusan warga Mesoi menyengketakan sebagian lahan PTPN Jolotigo, sebagian besar istri mereka masih tetap dipekerjakan di perkebunan.

Dari 1.600 karyawan PTPN Jolotigo termasuk buruh petik, sebagian besar masyarakat sekitar.

Setiap bulan perusahaan mengeluarkan paling sedikit Rp 400 juta untuk upah para karyawan. Dengan pemasukan dari teh selama ini, menurut dia, cukup sulit untuk bertahan.

Tingkatkan Penghasilan

Pengubahan lahan teh menjadi karet diharapkan bisa meningkatkan penghasilan PTPN IX Jolotigo. Hal itu didasarkan pada perkembangan karet saat ini yang dinilai cukup baik.

Dahulu sebelum jadi lahan teh, areal perkebunan tersebut juga pernah menjadi perkebunan karet.

Warga di sekitar lahan perkebunan yang ditemui wartawan mengharapkan, jika PTPN Jolotigo ingin mengubah lahan tersebut menjadi karet, diharapkan ikut menyejahterakan masyarakat.

"Kami minta pihak perkebunan lebih terbuka dan memperhatikan masyarakat sekitar," ujar Imam (36). Selama ini, masih banyak masyarakat yang menilai pihak perkebunan tidak begitu memperhatikan kondisi masyarakat setempat.

"Lihat saja jalan menuju pekebunan dari dulu seperti itu, lha mbok ya diaspal, itu kan untuk kepentingan perkebunan juga," ujarnya.

Adi yakin perusahaan bisa sungguh-sungguh membuktikan dan memperhatikan masyarakat di sekitar perkebunan. "Kami yakin warga sekitar akan menyambut baik dan membantu berbagai program perkebunan," tandasnya.(G16-14s)


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA