| Senin, 20 Desember 2004 | PANTURA |
Pengakuan Dukun Iskandar dari Balik Terali Besi (2-Habis)Dulu Susah, Sekarang Lebih SusahHIDUP memang seperti roda mobil. Kalau terlalu cepat berjalan, roda bisa berbalik di atasnya. Itulah yang kini dialami dukun maut Iskandar (49). Ingin lepas dari kesusahan hidup atau menjadi orang kaya, tapi cara yang ditempuh justru sesat. Dia kini akhirnya masuk penjara. "Dulu hidup saya susah, sekarang lebih susah lagi karena akhirnya saya masuk penjara. Saya kembali ke nol lagi. Susah seperti dulu lagi. Saya menyesal," katanya lirih. Sementara itu, perjalanan hidupnya sebagai laki-laki yang sering ganti-ganti istri mengalir begitu saja seperti mengikuti arus. Bahkan setelah gagal membangun rumah tangganya yang kedua, dia justru berkeinginan untuk kembali ke Ibu Kota Jakarta. Hidupnya pun seperti tak menentu. Pindah dari satu kolong jembatan ke kolong jembatan lainnya. Pendek kata, di mana ada atap di situlah dia berteduh. Itu pun tidak prinsip karena tidur di emper pertokoan atau di bawah pohon sudah bukan masalah baginya. Untuk mempertahankan hidup, setiap hari dia menjadi pengamen. Bermodal ember kecil dan bekas tutup botol yang terbuat dari seng, dia bernyanyi untuk mendapatkan rupiah. Kendati bekerja seperti itu, teman-temannya cukup banyak. Dirinya sering diberi uang oleh teman-temannya di Jakarta. Tahun 1986 dia pulang ke kampung halamannya kemudian menekuni pekerjaan sebagai buruh tani dan tukang becak. Suatu ketika, dia beradu pandang dengan wanita bernama Roenti (14). Wanita itu putri Ny Kasripah (38), warga RT 4 RW 1 Desa Dukuh Malang, Kecamatan Talang, Kabupaten Tegal. Dinikahi Wanita yang belum cukup umur itu pun kemudian dia nikahi pada 1988. Dari pernikahannya yang ketiga itu dia dikaruniai empat anak. Paling besar bernama Kherul Bakti (10), kelas IV SD Bumijawa. Kemudian Nur Azisah (8), kelas II SD Bumijawa. Anak ketiga bernama Alvi yang masih berusia tiga tahun, sedangkan paling bungsu dan masih menyusu bernama Amal, usia enam tahun. Sebagai catatan, putra pertamanya, Selasa (9/12) lalu rencananya akan dikhitankan. Namun, lantaran profesi dirinya sebagai dukun palsu yang membunuh belasan orang terbongkar, akhirnya hajatan di Bumijawa tersebut gagal dilaksanakan. Keterangan Iskandar bahwa dia punya empat anak dari perkawinan ketiganya memang berbeda dari keterangan sebelumnya yang dikemukakan sang istri. Sebagai perbandingan, Roenti punya enam anak. Dua meninggal dunia dan sekarang tinggal empat yang masih hidup. Di sisi lain, dukun yang telah punya anak dari istri ketiganya itu ternyata tetap tidak membuat hidupnya bahagia. Dia mengaku pernah berguru di Banten soal ilmu hitam. Bahkan saat bertapa dengan melaksanakan puasa mutih (hanya makan nasi putih dan minum air putih-Red) selama 21 hari di Gua Nagaraja, Cilacap, dia diberi boneka makhluk halus seperti jenglot. Boneka berbentuk binatang seperti kelelawar, berambut dan berkuku panjang itu diberi nama Pramu Andan Wangi. Sebutan lainnya adalah Batara Karang. Jimat tersebut pemberian gurunya dari Cilacap. Didalamnya, ada roh halus yang bisa dipanggil, yakni dengan membaca lafal tertentu sambil menyebut dua nama tersebut. "Ini kalau saya butuh bantuan agar rezekinya lancar, tapi saya seperti tidak sadar," tuturnya. Meminta Bantuannya Setelah memegang jenglot itulah banyak orang berduyun-duyun meminta bantuannya. Ada yang minta sakitnya disembuhkan. Ada juga pedagang yang minta azimat pelaris. Orang miskin yang ingin cepat kaya juga minta agar dapat uang banyak. Kedatangan orang-orang yang meminta bantuan itu diam-diam mendatangkan rezeki tersendiri. Dia mengaku menerima banyak uang. Hidupnya perlahan berubah, bahkan bisa membangun dua rumah di Bumijawa dan Dukuh Malang. Di sisi lain, banyak keinginan pasiennya yang belum terwujud. Padahal mereka telah menyerahkan uang cukup banyak dan terus menagihnya. "Ketika saya meminta bantuan ke Batara Karang, saya seperti tidak sadar dan ingin membunuh pasien-pasien saya." Akhirnya, satu per satu pasiennya yang telah menyerahkan uang cukup banyak dan barang seperti sepeda motor itu pun diduga dibunuh dengan cara diracun menggunakan santan dan apotas yang dicampur air kembang setaman. "Saya membunuh 12 orang seperti tertulis di berkas pemeriksaan." Menurut keterangan Wakapolres Tegal Kompol Rachmat Pamudji SIK dan Kasatreskrim Iptu Syaeful Wahyudi, awalnya dukun Iskandar hanya mengaku membunuh lima orang. Kemudian bertambah dua sampai akhirnya bertambah lima orang lagi sehingga menjadi 12 orang. Pengakuannya, kata dia, sering berubah-ubah, baik saat ditanya wartawan maupun penyidik. Sebagai contoh, dia mengaku bisa membangun dua rumah mewah itu dari hasil berbisnis pot dengan penghasilan Rp 2 juta/bulan. Bahkan, dia juga mengaku tidak pernah memanfaatkan uang mahar yang telah diterimanya. Namun, penyidik yang terus mengejar dengan pertanyaan terarah itu akhirnya membuat tersangka tidak berkutik dengan bukti-bukti yang disodorkan. Dukun maut berdarah dingin itu menggunakan uang mahar dan menjual sepeda motor pasiennya yang diduga telah dibunuh satu per satu sehingga dia menjadi kaya raya seperti sekarang. Namun, ibarat menyimpan bangkai, baunya akhirnya tetap tercium juga. Kedok dukun maut tersebut kini telah dibongkar dengan korban 12 orang tewas yang diduga dibunuh Iskandar. Penyidik juga tengah mengejar ingformasi soal kematian lima orang lainnya yang juga diduga sebagai korban tangan dingin sang dukun. Bahkan perkembangan terakhir, penyidik menemukan bukti baru soal dugaan keterlibatan dukun itu dalam bisnis jual beli mobil ilegal. (Riyono Toepra-42n) |