logo SUARA MERDEKA
Line
Senin, 20 Desember 2004 WACANA
Line

Surat Pembaca

Razia Motor di Boja Sikap Keterlaluan

Kalau benar apa yang ditulis Ibu Yati dari Boja dalam Surat Pembaca 14 Des 2004, maka saya menyebutnya ''keterlaluan'' apa yang dilakukan oknum polisi tersebut. Mentang-mentang punya lencana, terus merasa berwibawa hingga kata-katanya tidak terjaga dan memperlakukan orang kurang simpatik.

Saya kira saat ini sudah tidak zamannya lagi perpeloncoan seperti itu. Kalau memang ada pelanggaran seharusnya ditindak sesuai prosedur yang berlaku. Jika memang pengendara tidak bisa menunjukkan SIM dan STNK tentu ada prosedurnya.

Dengan membentak kemudian menghukum untuk menunggu razia sampai selesai, kehujanan dan bahkan meminta Rp 200.000 adalah sebuah pelanggaran HAM serta pelanggaran hukum tersendiri bagi oknum tersebut. Uang denda tilang sebenarnya bukan untuk dikantongi melainkan harus masuk kas negara.

Jadi oknum yang mengantongi uang tilang termasuk korup. Namun hal ini nampaknya belum disadari dan sudah menjadi salah kaprah. Karena itu ke depan tentunya pimpinan Polri tidak bisa membiarkan praktik ilegal seperti ini terus berlanjut.

Saya kira pimpinan perlu memberikan shock theraphy bagi oknum anggotanya agar tidak melanggar hukum seperti kejadian yang dialami Ibu Yati tersebut. Saya berharap agar kasus ini kejadian yang terakhir, sekaligus sebagai bahan renungan dan introspeksi bagi jajaran Polri di akhir tahun 2004. Semoga Polri semakin dihargai, dihormati dan dicintai masyarakatnya.

Daryoso

Jl Tusam 398 Semarang

***

Siapa Cawali Kita ?

Banyaknya kandidat calon wali kota dan wakil wali kota yang muncul melalui berbagai parpol, merupakan pertanda baik bagi kehidupan demokrasi di Kota Semarang. KPU sebagai pelaksana pemilihan secara langsung, menekankan parpol atau gabungan hanya boleh mengajukan satu pasangan calon.

Ini berarti setiap parpol harus melakukan penyelesaian calonnya secara internal. Yang perlu dipertanyakan, bagaimana seleksi dilaksanakan dan apa standar yang digunakan. Jabatan wali kota di era Otonomi Daerah bukan hanya jabatan politis, tetapi seharusnya diperlakukan sebagai jabatan prestise.

Siapa yang mampu dan bisa itulah yang terbaik, bukan dari partai mana asalnya. Sebagai orang nomor satu, sudah selayaknya setiap pimpinan memahami potensi daerah. Baik dari segi geografi, demografi, aspek rekayasa teknologi, ekonomi, sosial, hukum, administratif maupun aspek lain.

Jadi tidak hanya asal menaikkan retribusi yang menjadi beban rakyat. Kesempatan bagi parpol untuk menyaring aspirasi rakyat tentang sosok calon pimpinannya. Parpol dapat melakukan penelitian dan pengkajian kriteria yang diingini masyarakat, sesuai dengan peran rakyat sebagai subjek.

Atau setiap calon diwajibkan memaparkan visi, misi dan program agar dinilai langsung oleh masyarakat.

Seleksi harus terbuka dengan parameter jelas, bukan berguna bagi pihak tertentu, tapi yang penting menguntungkan masyarakat. Semoga pesta demokrasi ini benar-benar berlangsung secara demokrasi tidak sekadar nama tanpa makna.

Bambang ES

Semarang Indah Blok D.X/2 Semarang

***

Untuk Ibu Sayekti

Tulisan Ibu Dra.RAy Sri Sayekti Setionegoro dengan judul ''Resep Suami Istri'' di kolom Surat Pembaca, tanggal 1 Desember 2004, menarik untuk ditanggapi. Saya telah menggunakan resep dari ibu, pertama tiap hari saya minum 1 botol sekali saya rasakan tidak ada perubahan.

Kemudian saya nekat minum 2 kali tiap hari ternyata terasa perubahan yang baik. Dalam "tugas" hubungan suami istri ada perubahan kualitas yang sangat baik. Istri senang dengan meningkatnya kualitas ''tugas'' hubungan suami istri. Sebagai informasi di Kota Solo masih sulit memperoleh resep tersebut.

Saya mendukung dimunculkannya resep-resep yang bermanfaat bagi kesehatan dan jika ada resep yang lain mohon Ibu tidak bosan untuk menulis. Kepada Suara Merdeka untuk kesekian kali saya sangat merasakan manfaatnya dan semoga tetap jaya.

Anton Hn SSos.

Kenteng Rt 4/Rw 7 Semanggi, Solo 57117

***

Servis di CV 54 Motor

Kejadian bermula ketika suara motor saya Honda Supra 2002 agak kasar dan rem cakram seret. Oleh kakak, disarankan servis di bengkel resmi dan 29 November 2004 saya bawa ke CV 54 Motor Jl Hayam Wuruk Pekalongan dengan kode resmi AHASS210. Dari cara kerja mekanik saya mulai ragu.

Sebab kampas rem yang sudah tipis/habis dibilang masih tebal dan cuma disemprot kompresor serta dicongkel dengan drei. Akibatnya ketika dipasang masih tetap seret yang oleh mekanik lain disarankan untuk diganti baru. Ketika saya bawa pulang, ternyata suaranya masih kasar, rem cakram tak berfungsi.

Juga tarikan gas malah berat. Yang lebih membuat kesal, keesokan harinya saya lihat ada cairan kental hitam di atas mesin yang ternyata cat yang luntur akibat terkena minyak rem. Ketika tebeng saya buka ada pengait yang patah. Hari itu juga saya komplain dan motor diperbaiki lagi.

Termasuk cat yang luntur dicat lagi serta pengait tebeng dilem. Paginya motor saya ambil tetapi saya dimintai ongkos perbaikan lagi. Tentu saja tidak mau karena telah membayar ongkos perbaikan yang bagi saya terlalu mahal dibanding bengkel lain. Akhirnya timbul perselisihan dengan mekanik.

Dengan perasaan dongkol dan emosi saya pulang sampai saya tak sempat mengucapkan terima kasih kepada mekanik lain yang ikut memperbaiki. Melalui rubrik ini saya mengucapkan terima kasih dan sekaligus mohon maaf kepada segenap saudara di CV 54 Motor.

Semoga pengalaman ini tak terjadi pada rekan yang lain termasuk kakak yang selalu menyarankan servis di bengkel resmi Honda, karena ternyata tak semuanya yang resmi itu bagus dan profesional. Bagaimana AHASS, ternyata mottomu bagiku tak sesuai dengan kerjamu.

Taufiq

Salakbrojo Rt 2/Rw 3 Kedungwuni

***

NU...

Saya salah seorang yang selalu mengikuti perkembangan NU selama muktamar berlangsung, karena menarik untuk dibaca dan dijadikan bahan diskusi, meskipun saya bukan orang NU. Saya ucapkan selamat atas terpilihnya kembali duet Kiai Sahal dan Bapak Hasyim Muzadi.

Beliau berdua adalah tokoh yang selama lima tahun terakhir mampu membawa warga NU untuk lebih terbuka dalam kehidupan berpolitik (membebaskan warganya untuk memilih parpol meski pemilu lalu masih terkonsentrasi pada satu parpol). Tidak ada imbauan resmi dari PBNU untuk memilih salah satu parpol.

Di samping itu ada hubungan yang lebih harmonis dengan Muhammadiyah yang pada masa lalu tidak gampang diwujudkan. Saya juga melihat ada kemajuan di mana pada pemilu lalu warga NU tidak lagi bentrok dengan sesama warganya hanya karena perbedaan partai.

Hal itu merupakan satu kemajuan besar yang dilakukan oleh NU di bawah kepemimpinan Bp Hasyim Muzadi. Selama muktamar, sebenarnya bisa dilihat siapa pihak yang ingin membawa NU maju di asa mendatang dan siapa yang hanya memanfaatkan NU untuk kepentingan kelompoknya.

Saya berharap, jangan karena ketidakpuasan beberapa pihak dan orang yang ingin memanfaatkan NU, maka NU menjadi terombang-ambing, Sebab yang akan menanggung akibatnya adalah warga NU sendiri.

Galuh Ariyanti

Banyurip Alit Gg IIIC, Pekalongan


Berita Utama | Ekonomi | Internasional | Olahraga
Semarang | Sala | Pantura | Muria | Kedu & DIY | Banyumas
Budaya | Wacana | Ragam
Cybernews | Berita Kemarin

Copyright© 1996-2004 SUARA MERDEKA